Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD

Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD
Popmama.com/Shalsabhilla Putri/AI
Intinya Sih

  • Susunan keyboard QWERTY berasal dari mesin tik pertama yang mengalami masalah teknis karena susunan huruf alfabet, sehingga diubah menjadi QWERTY.

  • Perubahan posisi huruf dilakukan untuk mengurangi kemacetan mesin tik, dengan membedakan batang huruf yang sering muncul secara bersamaan.

  • QWERTY tetap dipertahankan sebagai standar pengetikan karena jutaan orang sudah terbiasa dan mengubah layout akan sulit dilakukan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Susunan keyboard QWERTY sudah digunakan di seluruh dunia, mulai dari komputer kantor hingga smartphone yang kita pakai setiap hari. Meski terlihat biasa, ternyata tata letak huruf ini menyimpan sejarah panjang yang jarang diketahui banyak orang.

Banyak yang menghitung susunan huruf keyboard dibuat agar mudah dipelajari, padahal ada alasan tertentu di balik pemilihannya. Dari masa mesin tik hingga era digital, posisi huruf-huruf ini tetap dipertahankan tanpa banyak perubahan.

Lalu, bagaimana sebenarnya asal-usul keyboard QWERTY dan kenapa tidak disusun alfabet seperti ABCD? Simak penjelasan Popmama.com berikut ini.

Table of Content

Awalnya Tombol Keyboard Disusun Alfabet

Awalnya Tombol Keyboard Disusun Alfabet

Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD (3).jpg
Freepik/wirestock

Pada prototipe mesin tik pertama, huruf sebenarnya disusun mengikuti alfabet agar mudah dipahami pengguna baru. Penemunya, Christopher Latham Sholes, ingin membuat alat tulis mekanik yang praktis dipakai siapa saja.

Namun, saat mesin mulai digunakan untuk mengetik cepat, muncul masalah teknis. Batang logam penekan huruf sering saling bertabrakan ketika tombol yang berdekatan ditekan berurutan.

Akibatnya mesin tik kerap macet, sehingga susunan alfabet dianggap tidak cocok untuk penggunaan nyata.

QWERTY Dibuat untuk Mengurangi Kemacetan Mesin TIK

Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD (2).jpg
Freepik

Untuk mengatasi masalah itu, Sholes kemudian mengubah posisi huruf. Ia membedakan batang huruf yang sering muncul secara bersamaan agar mesin tidak saling mengunci.

Susunan baru ini akhirnya membentuk pola QWERTY, diambil dari enam huruf pertama di baris atas. Tata letak tersebut dipakai pada mesin tik produksi Remington pada akhir abad ke-19.

Sejak diproduksi massal, QWERTY cepat menyebar dan menjadi standar pengetikan di banyak negara.

QWERTY Bertahan karena Sudah Jadi Kebiasaan Dunia

Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD (1).jpg
Popmama.com/Shalsabhilla Putri/AI

Saat komputer modern muncul, sebenarnya ada beberapa alternatif susunan keyboard yang diklaim lebih cepat dan efisien. Meski begitu, QWERTY tetap dipertahankan.

Alasannya sederhana yaitu jutaan orang sudah belajar mengetik dengan daftar tersebut. Mengubah layout berarti harus melatih ulang pengguna, sekolah, hingga pekerja di seluruh dunia.

Karena faktor kebiasaan dan standar industri, akhirnya QWERTY terus dipakai sampai sekarang m, mulai dari mesin tik, komputer kantor, hingga keyboard layar sentuh di ponsel. 

Itulah sejarah di balik susunan keyboard QWERTY yang ternyata tidak dibuat sembarangan.

FAQ Seputar Sejarah Susunan Keyboard QWERTY Bukan ABCD

Apa itu susunan keyboard QWERTY?

QWERTY adalah tata letak huruf pada keyboard yang diambil dari enam huruf pertama di baris paling atas, yaitu Q-W-E-R-T-Y. Susunan ini menjadi standar keyboard yang paling banyak digunakan di dunia saat ini.

Kapan QWERTY mulai populer digunakan?

QWERTY mulai dikenal luas setelah perusahaan Remington memasarkan mesin tik dengan tata letak tersebut pada tahun 1873. Sejak saat itu, QWERTY menjadi standar industri.

Apakah ada susunan keyboard lain selain QWERTY?

Ya, ada beberapa alternatif seperti: Dvorak (dirancang untuk efisiensi dan kenyamanan mengetik) AZERTY (umum digunakan di Prancis dan Belgia) QWERTZ (digunakan di Jerman dan beberapa negara Eropa Tengah)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More