Waspada, Ini Bahaya Memakai Jas Hujan Poco saat Berkendara Motor

- Ponco bisa tersangkut ke roda motor, meningkatkan risiko kecelakaan dan cedera.
- Mudah tertiup angin, mengganggu keseimbangan motor, dan mengurangi aerodinamika.
- Menghalangi pandangan pengendara lain di belakang, rentan robek, dan berpotensi terbang ke komponen motor.
Berbeda dari jas hujan two-piece, jas hujan model ponco memiliki bentuk lebar, longgar, dan menjuntai. Banyak pengendara memilihnya karena dianggap praktis dan cepat dipakai ketika hujan tiba-tiba turun.
Namun dalam dunia keselamatan berkendara, efisiensi bukan satu-satunya hal yang penting, justru potensi resikonya yang sering diremehkan.
Saat hujan, jalanan menjadi licin, pandangan terbatas, dan angin lebih kencang, menyebabkan risiko ponco berubah menjadi ancaman serius.
Untuk lebih dalam, Popmama.com telah merangkum pembahasan tentang waspada, bahaya memakai jas hujan poco saat berkendara motor. Yuk simak pembahasannya berikut ini.
1. Ujung ponco bisa tersangkut ke roda motor

Bagian belakang ponco yang panjang membuatnya sangat mudah terbawa angin dan masuk ke sela-sela roda atau rantai motor. Ketika kain tersedot dan terlilit, motor bisa berhenti mendadak seolah direm sangat keras.
Situasi ini sangat berbahaya karena pengendara dapat langsung terpental ke depan tanpa sempat mengantisipasi apa pun. Selain berbahaya bagi pengendara yang mengalaminya, insiden ponco tersangkut juga dapat memicu kecelakaan beruntun.
Dalam kondisi hujan, risiko cedera akan meningkat karena jalan licin membuat tubuh sulit berhenti atau mempertahankan keseimbangan.
Pengendara di belakang mungkin tidak siap menghadapi motor yang tiba-tiba berhenti, apalagi jika jarak pandang sudah terbatas akibat hujan lebat.
Lebih parahnya lagi, banyak pengendara tidak menyadari bahwa ponco mereka sudah berada terlalu dekat dengan roda karena kain menempel ke tubuh ketika basah.
Begitu motor melaju, angin yang datang dari samping atau belakang dapat menarik kain ke arah roda tanpa terasa. Inilah alasan mengapa ponco dianggap berbahaya secara mekanis, bahkan sebelum bicara soal angin dan stabilitas.
2. Mudah tertiup angin dan mengganggu keseimbangan

Ponco memiliki permukaan kain lebar yang bekerja mirip layar kapal ketika terkena hembusan angin. Hal ini tentu membuah poco lebih bebas tertiup angin.
Saat motor melaju, tekanan angin dari depan maupun samping bisa membuat ponco menggelembung besar dan menarik tubuh pengendara ke arah tertentu.
Kejadian ini membuat motor limbung dan sulit dikendalikan, terutama pada kecepatan sedang hingga tinggi. Di jalanan basah, gangguan kecil seperti ini dapat membuat motor bergeser jalur atau kehilangan traksi.
Dalam kondisi hujan ekstrem, angin biasanya bertiup lebih kencang dan tak beraturan. Ponco yang basah akan menambah beban dan membuat tubuh semakin sulit digerakkan.
Ketika tubuh mulai lelah menjaga keseimbangan, risiko kecelakaan meningkat tajam. Inilah sebabnya banyak instruktur safety riding menyarankan untuk tidak memakai ponco sama sekali ketika berkendara motor.
3. Menghalangi pandangan pengendara lain di belakang

Ponco yang berkibar ke kiri, kanan, atau ke belakang dapat menutupi pandangan pengendara yang berada di belakang. Pada kondisi hujan, jarak pandang sudah sangat terbatas karena kabut air, cahaya redup, dan percikan ban kendaraan lain.
Jika ponco turut menghalangi pandangan mereka, risiko tabrakan dari belakang meningkat. Pengendara di belakang dapat terlambat melihat lampu rem atau pergerakan motor di depan.
Ada kasus ponco menempel di visor helm pengendara lain sehingga membuat mereka panik dan kehilangan kendali. Dalam situasi padat, kejadian sesingkat satu detik saja sudah cukup untuk menyebabkan kecelakaan beruntun.
Selain itu, bentuk ponco yang membungkus lampu belakang dapat menghalangi cahaya rem atau sein, membuat pengendara lain tak memiliki petunjuk mengenai arah atau kecepatan motor di depan.
Efeknya sangat berbahaya pada malam hari ketika hujan membuat cahaya lebih sulit menembus udara lembap. Dengan kata lain, ponco bukan hanya berbahaya bagi penggunanya, tetapi juga bagi banyak orang di sekitar.
4. Mengurangi aerodinamika dan membuat motor tidak stabil

Saat melaju, tubuh pengendara dan motor harus menembus angin agar kendaraan tetap stabil. Namun ponco mengubah bentuk aerodinamika tubuh menjadi tidak beraturan dan penuh hambatan.
Ketika angin menerpa permukaan ponco, tekanan besar akan mendorong motor ke belakang atau samping. Efeknya, motor terasa berat, goyang, dan sulit dikendalikan saat akselerasi maupun pengereman.
Saat pengendara ingin menyalip kendaraan lain, ponco yang menggelembung dapat membuat motor seperti "ditahan" angin sehingga tarikan terasa terlambat.
Di sisi lain, ketika melakukan pengereman mendadak, ponco yang mengembang dapat menarik tubuh ke belakang dan membuat pengendara kehilangan stabilitas.
Kain yang tertiup juga dapat menutup sebagian spion sehingga pengendara kesulitan melihat kendaraan lain. Semua faktor ini membuat ponco tidak cocok digunakan pada situasi berkendara apa pun yang memerlukan kecepatan atau manuver mendadak.
5. Air bisa menggenang di tengah ponco

Ponco memiliki bentuk seperti kanopi kecil yang menggantung di depan dan belakang. Saat hujan deras, cekungan di tengah ponco dapat menampung air dalam jumlah cukup banyak.
Ketika air terkumpul, beban ponco meningkat dan menarik tubuh pengendara ke belakang. Perubahan berat mendadak ini membuat kondisi berkendara tidak stabil, terutama pada motor kecil.
Air yang menggenang juga membuat ponco menempel ke kaki atau bagian lampu motor, mengurangi ruang gerak pengendara. Saat akan membelok atau mengerem, tubuh terasa lebih kaku karena baju basah yang berat.
Selain itu, genangan air sering kali tumpah ke kaki atau bagian samping motor, membuat ban belakang licin saat terkena cipratan air yang mengalir.
Bila air yang tertampung tumpah sekaligus, pengendara bisa kaget dan kehilangan keseimbangan. Selain itu, beban yang berubah secara tiba-tiba juga dapat membuat motor oleng.
6. Membatasi gerakan tangan, bahu, dan setang motor

Ponco yang basah cenderung menempel ke sarung tangan, lengan, atau bahkan setang motor. Ketika pengendara ingin berbelok atau menghindari hambatan di jalan, kain yang tersangkut dapat menghambat gerakan tangan.
Delay sepersekian detik ini bisa sangat berbahaya, terutama saat situasi membutuhkan reaksi cepat seperti menghindari lubang atau pengereman mendadak.
Selain itu, ponco yang panjang dapat menutupi sebagian tuas rem atau pegangan gas, membuat pengendara sulit mengatur kecepatan dengan presisi.
Kain yang basah akan semakin berat dan menempel pada kulit, membuat bahu cepat pegal dan tubuh lebih cepat lelah. Dalam kondisi hujan, kelelahan adalah musuh besar karena bisa mengurangi fokus berkendara.
Kondisi ini diperparah jika pengendara membawa barang atau memakai tas ransel. Ponco yang menumpuk di punggung dan bahu membuat gerakan tubuh semakin kaku.
7. Rentan robek dan berpotensi terbang ke komponen motor

Bahan ponco biasanya tipis dan tidak didesain untuk melawan tekanan angin tinggi. Ketika motor melaju, angin yang kencang dapat membuat ponco robek secara tiba-tiba.
Potongan kain yang robek bisa terbang ke arah wajah pengendara atau pengendara lain, menutupi bidang pandang dan memicu kehilangan kontrol. Jika potongan tersebut tersedot ke rantai atau kipas pendingin, kerusakan mekanis bisa terjadi.
Ketika ponco robek sebagian, bentuknya menjadi tidak beraturan dan semakin berkibar. Ini membuat motor semakin sulit dikendalikan karena permukaan kain berubah menjadi hambatan angin yang tak terduga.
Robekan juga bisa menyebabkan bagian ponco tersangkut ke lampu atau bagian bodi motor, sehingga fungsinya sebagai pelindung dari hujan menjadi tidak maksimal.
Lebih buruk lagi, pengendara mungkin tetap melanjutkan perjalanan meski ponco sudah rusak karena tidak punya pilihan lain.
Dalam kondisi seperti ini, risiko kecelakaan meningkat tajam karena ponco yang robek lebih mudah menutupi pandangan, tersangkut, atau terbang mengenai komponen motor. Ponco yang tidak stabil adalah salah satu sumber bahaya terbesar di tengah hujan.
Jas hujan ponco memang menawarkan kepraktisan, tetapi bahaya yang ditimbulkannya sangat besar dan sering kali tidak disadari hingga terjadi insiden.
Bentuknya yang longgar, berkibar, dan berat ketika basah dapat mengganggu kendali motor, membahayakan pengendara lain, hingga menyebabkan kecelakaan serius.
Untuk perjalanan yang aman, Papa sebaiknya menggunakan jas hujan dua potong yang menempel ke tubuh dan tidak memiliki bagian yang dapat tersangkut ke komponen motor.
Sekarang Mama dan Papa telah mengetahui tentang waspada, bahaya memakai jas hujan poco saat berkendara motor. Keamanan selalu lebih penting daripada kepraktisan sesaat, terutama di kondisi jalan yang tidak menentu saat hujan.



















