Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
Intinya Sih

  • Asal usul nama Tanah Abang berasal dari penyerbuan Sultan Agung pada tahun 1628, di mana prajurit Mataram menyebut tanah merah sebagai "Tanah Abang".

  • Sejarah lainnya berkaitan dengan keberadaan Pohon Nabang dan pergantian pelafalan lokal menjadi "Tanah Abang" karena lebih mudah diucapkan.

  • Tanah Abang tidak bisa dilepaskan dari peran Phoa Bing Gam dalam membuka lahan perkebunan dan membangun infrastruktur vital seperti Kali Krukut.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kawasan Tanah Abang kini dikenal sebagai pusat urat nadi perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara.

Namun, di balik hiruk-pikuk kemacetan dan modernitas, wilayah ini menyimpan sejarah yang dimulai dari bukit-bukit tanah merah hingga peran besar para imigran dalam membangun peradaban ekonomi di Jakarta.

Supaya kamu nggak bingung, Popmama.com telah merangkum pembahasan mengenai asal usul nama Tanah Abang sebagai kawasan niaga Jakarta. Yuk simak dibawah ini.

Table of Content

Peristiwa Penyerbuan Sultan Agung dan Istilah "Tanah Abang"

Peristiwa Penyerbuan Sultan Agung dan Istilah "Tanah Abang"

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Akar sejarah yang paling kuat dipercaya berasal dari peristiwa penyerbuan pasukan Mataram ke Batavia pada tahun 1628 di bawah perintah Sultan Agung.

Saat itu, ribuan prajurit dari Jawa Tengah menjadikan kawasan perbukitan di sebelah barat kota sebagai markas pertahanan untuk mengepung benteng VOC.

Para prajurit Mataram mengamati bahwa tanah di bukit tersebut memiliki karakteristik yang unik, yaitu berwarna merah bata yang sangat kontras.

Dalam bahasa Jawa, kata "Abang" berarti merah. Para prajurit ini secara spontan menyebut lokasi pertahanan mereka sebagai "Tanah Abang" atau tanah yang merah.

Meskipun pengepungan tersebut berakhir dengan penarikan mundur pasukan, istilah tersebut sudah telanjur melekat kuat dalam ingatan penduduk lokal dan terus digunakan secara turun-temurun hingga menjadi nama resmi wilayah administratif tersebut.

Teori Pohon Nabang dan Pergeseran Pelafalan Lokal

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Sejarah lainnya yang tak kalah menarik berkaitan dengan kekayaan flora di kawasan tersebut pada masa lampau, tepatnya mengenai keberadaan Pohon Nabang (sejenis pohon palem atau Cycadaceae).

Kawasan ini dulunya merupakan hutan yang rimbun dengan pohon-pohon tersebut yang tumbuh subur di sepanjang bantaran sungai.

Masyarakat Belanda atau pendatang sering menyebut area ini dengan merujuk pada keberadaan pohon-pohon tersebut.

Seiring berjalannya waktu, terjadi proses asimilasi bahasa atau "plesetan" oleh lidah masyarakat lokal Betawi. Kata "De Nabang" atau sebutan pohon tersebut perlahan-lahan bergeser pelafalannya mengikuti dialek setempat.

Masyarakat mulai menyebutnya sebagai "Tanah Abang" karena lebih mudah diucapkan dan diselaraskan dengan kondisi geografis tanahnya yang memang kemerahan, sehingga menciptakan sebuah identitas baru hasil perpaduan antara aspek botani dan linguistik.

Peran Phoa Bing Gam dalam Pembukaan Lahan dan Kanal

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Sejarah modern Tanah Abang tidak bisa dilepaskan dari sosok kapitan Tionghoa yang sangat berpengaruh bernama Phoa Bing Gam (Phoa Bengam).

Pada tahun 1648, ia mendapatkan izin khusus dari VOC untuk membabat hutan di kawasan tersebut guna dijadikan lahan perkebunan.

Proyek besar ini tidak hanya membuka akses pemukiman, tetapi juga membangun infrastruktur vital berupa terusan atau kanal yang dikenal sebagai Kali Krukut.

Hasil bumi seperti kacang-kacangan, jahe, dan tebu dapat diangkut dengan perahu menuju pusat kota Batavia.

Jejak perkebunan milik Phoa Bing Gam ini masih abadi hingga tahun 2026 melalui nama-nama jalan yang kita kenal sekarang, seperti Kebun Kacang, Kebun Jahe, hingga Kebun Melati.

Keputusan strategis Phoa Bing Gam untuk membangun kawasan ini meletakkan fondasi pertama Tanah Abang sebagai pusat logistik dan perdagangan yang bertahan hingga berabad-abad kemudian.

5 Fakta Menarik Tanah Abang

Asal-Usul Nama Tanah Abang sebagai Kawasan Niaga Jakarta
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Adapun 5 fakta menarik dari Tanah Abang, diantaranya:

  1. Transformasi Pasar Sabtu

Saat didirikan oleh tuan tanah Belanda, Yustinus Vinck, pada 1735, pasar ini hanya diizinkan beroperasi setiap hari Sabtu untuk bersaing dengan Pasar Senen yang beroperasi setiap hari Senin.

  1. Benteng Pertahanan Alami

Karena posisinya yang berada di atas bukit, Tanah Abang sempat menjadi wilayah strategis militer Belanda untuk mengawasi pergerakan musuh dari arah selatan dan barat.

  1. Pusat Mode Muslim Dunia

Tanah Abang telah berevolusi menjadi kiblat tren busana muslim global, di mana para pedagang dari Afrika hingga Timur Tengah datang langsung untuk melakukan transaksi grosir.

  1. Sentralitas Transportasi Jakarta

Kawasan ini kini menjadi salah satu titik integrasi transportasi tersibuk di Indonesia, menghubungkan Stasiun Tanah Abang yang modern dengan sistem bus TransJakarta yang terpadu.

  1. Legenda Pasar Kambing

Di tengah modernitas gedung tinggi, area Pasar Kambing tetap eksis sebagai bagian dari identitas budaya lokal, mencerminkan sisi tradisional Tanah Abang yang enggan lekang oleh waktu.

Nama Tanah Abang lahir dari sejarah panjang yang membentuk kawasan ini seperti sekarang. Dari waktu ke waktu, wilayah ini berkembang menjadi pusat aktivitas niaga dan tetap memegang peran penting dalam kehidupan Jakarta.

Hingga sekarang, Tanah Abang tetap menjadi pusat niaga yang hidup dan ramai. Jejak sejarah di balik namanya masih terasa, menyatu dengan keseharian warga dan aktivitas jual beli yang terus berlangsung.

Itulah pembahasan tentang asal-usul nama Tanah Abang sebagai kawasan niaga Jakarta. Semoga bermanfaat!

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More