"Kalau aku emang dipertemukan langsung dengan seorang ustaz. Pertama belajar lafalannya. Cara membaca surat-surat. Dan juga on top of that untuk tahu gerak-gerik seorang ustaz yang di pesantren itu seperti apa," ungkap Emir.
Cerita Emir Mahira Tertantang Perankan Ustaz di Kupilih Jalur Langit

Emir Mahira memerankan karakter Ustaz Furqon yang sangat taat beragama, namun memiliki masa lalu yang belum selesai di film Kupilih Jalur Langit.
Ia melakukan persiapan khusus dengan mengadakan lokakarya bersama seorang ustaz asli untuk mempelajari pelafalan hingga gestur tubuh.
Tantangan terberatnya adalah harus menundukkan pandangan saat berbicara dengan lawan jenis, serta ia memiliki ritual unik berupa membaca bismillah sebelum pengambilan gambar.
Aktor berbakat Emir Mahira kembali unjuk gigi lewat peran yang sangat menantang di film drama religi terbaru bertajuk Kupilih Jalur Langit. Emir menjalani peran sebagai Ustaz Furqon yang memiliki kepribadian taat beragama, namun menyimpan masa lalu yang belum selesai.
Pengalamannya mendalami karakter pemuka agama tersebut ia bagikan secara eksklusif dalam acara Press Junket & Media Gathering rilis poster film Kupilih Jalur Langit di MD Place, Jakarta Selatan, pada Rabu (11/3/2026). Demi memberikan penampilan terbaiknya, Emir mengaku harus melakukan banyak penyesuaian yang tidak biasa.
Berikut Popmama.com telah merangkum cerita Emir Mahira tertantang perankan ustaz di film Kupilih Jalur Langit.
Yuk, disimak!
1. Belajar langsung dari ustadz asli

Demi menghidupkan karakter Ustaz Furqon dengan sempurna, Emir Mahira melakukan persiapan yang terbilang cukup matang. Ia difasilitasi untuk bertemu langsung dengan seorang ustaz yang memiliki latar belakang mirip dengan karakternya guna menjalani beberapa kali lokakarya.
Melalui pertemuan singkat tersebut, Emir tidak hanya belajar mengenai ketepatan pelafalan saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ia juga mengamati dan mendalami gerak-gerik serta bahasa tubuh yang menjadi ciri khas seorang pendakwah di kehidupan nyata.
2. Kesulitan menundukkan pandangan mata

Dari sekian banyak pelajaran gestur yang ia terima, Emir secara jujur mengakui bahwa mengontrol arah pandangan mata adalah tantangan yang paling menyulitkan. Karakter Furqon diceritakan sebagai sosok yang sangat menjaga pandangannya sehingga ia kesulitan jika harus menatap mata perempuan.
"Yang aku pelajari dari ustaz ini adalah bagaimana dia sulit menatap mata perempuan. Ada rasa takut, di mana gerak matanya itu agak turun," jelas Emir.
Kewajiban menundukkan pandangan ini sempat membuatnya kagok dan sering kali lupa saat sedang beradu akting dengan lawan main perempuan. Ia harus susah payah membiasakan diri untuk tidak melakukan kontak mata, sebuah kebiasaan yang berbanding terbalik dengan usahanya memperbaiki cara berkomunikasi di dunia nyata.
3. Ritual khusus sebelum kamera menyala

Sebagai seorang aktor profesional, Emir Mahira harus bisa memutar otak untuk menemukan cara tercepat agar bisa menyatu dengan karakter religius yang ia bawakan. Terlebih lagi, karakter aslinya sangat berbeda jauh dengan sosok Ustaz Furqon yang cenderung lebih memilih patuh pada orangtua.
"Kalau aku sebagai Ustaz Furqon menemukan bahwa yang paling efisien bagi aku adalah sebelum mulai scene, aku bakal baca Bismillahirrahmanirrahim, tundukin kepala. Itu yang menurut aku bantu banget untuk aku bisa keluar masuk sebagai Furqon," kata Emir.
Merapalkan kalimat basmalah dengan khusyuk sambil menundukkan kepala terbukti sangat ampuh membantunya masuk ke dalam jiwa karakter tersebut. Namun, Emir juga selalu memastikan untuk langsung melepas karakter itu dan kembali menjadi dirinya sendiri saat sutradara sudah meneriakkan kata “cut”.
Itulah rangkuman dari cerita Emir Mahira tertantang perankan ustaz di film Kupilih Jalur Langit.
FAQ Emir Mahira
| Emir Mahira terkenal karena apa? | Emir Mahira adalah aktor Indonesia yang mulai dikenal sejak berperan sebagai Bayu Purnomojati dalam film Garuda di Dadaku dan Garuda di Dadaku 2. Ketika SMP, dia sempat bersekolah di SMP Labschool Kebayoran. |
| Apa prestasi awal Emir Mahira? | Emir Mahira meraih Piala Citra Aktor Terbaik di usia 14 tahun lewat film Garuda di Dadaku 2. Ia merupakan salah satu pemenang termuda dalam sejarah FFI. |
| Mengapa ia sempat vakum dari dunia akting? | Emir Mahira sempat berhenti berakting demi fokus menempuh pendidikan tinggi di Kanada. Ia baru kembali ke industri film Indonesia setelah menyelesaikan studinya. |


















