Ada sebuah luka yang tidak selalu terlihat dari luar, yaitu ketika seorang anak tumbuh dengan papa yang hadir secara fisik, tetapi terasa jauh secara emosional.
Luka ini tidak meninggalkan bekas yang kasat mata, tetapi dampaknya bisa dirasakan bertahun-tahun kemudian, dalam cara seseorang mencari rasa aman, membangun hubungan, atau memaknai dirinya sendiri. Inilah yang disebut dengan fatherless, sebuah kondisi yang ternyata jauh lebih umum dari yang banyak orang kira.
Film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? hadir untuk menyuarakan keresahan yang selama ini terpendam. Diadaptasi dari novel mega best-seller karya Khoirul Trian, film besutan sutradara Kuntz Agus ini mengangkat dinamika keluarga yang terlihat utuh dari luar, namun menyimpan banyak hal yang tidak pernah sempat diucapkan.
Lewat kisah dua bersaudara yang harus belajar menemukan arah hidupnya sendiri, film ini membuka percakapan tentang fenomena fatherless yang selama ini jarang mendapat ruang untuk dibicarakan secara terbuka.
Popmama.com telah merangkum beberapa fakta mengenai isu fatherless dalam film Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? yang bisa Mama pahami dari berbagai sudut pandang.
Yuk Ma, disimak!
