Piala Dunia 2026 memang selalu dinantikan sebagai pesta sepak bola terbesar di dunia, tapi edisi kali ini datang dengan lebih banyak drama di luar lapangan daripada yang diperkirakan banyak orang.
5 Kontroversi Piala Dunia 2026 yang Jadi Obrolan Bareng Pasangan

Piala Dunia 2026 diwarnai sederet kontroversi, mulai dari kebijakan visa yang diskriminatif hingga sistem penjualan tiket yang tidak transparan.
Sejumlah insiden di luar lapangan justru lebih ramai diperbincangkan dibanding pertandingannya sendiri.
Kontroversi ini memicu perdebatan soal apakah FIFA sudah benar-benar memprioritaskan sportivitas di atas kepentingan bisnis.
Digelar di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, turnamen ini justru menjadi sorotan bukan hanya karena gol-gol spektakuler, tapi juga karena deretan kontroversi yang terus bermunculan sejak sebelum peluit pertama dibunyikan.
Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa kontroversi Piala Dunia 2026 yang paling banyak jadi bahan obrolan, termasuk bareng pasangan di rumah.
Yuk, disimak!
Deretan Kontroversi Piala Dunia 2026 yang Jadi Obrolan Bareng Pasangan
1. Wasit Somalia ditolak masuk Amerika Serikat

Omar Abdulkadir Artan, wasit internasional asal Somalia yang telah resmi ditunjuk FIFA, tidak bisa menjalankan tugasnya setelah otoritas imigrasi Amerika Serikat menolak mengizinkannya masuk ke negara tersebut.
Padahal, ia dijadwalkan menjadi orang Somalia pertama dalam sejarah yang memimpin laga Piala Dunia.
FIFA menyatakan tidak memiliki kewenangan atas proses imigrasi negara tuan rumah dan mengonfirmasi bahwa status Artan tidak akan diubah. Keputusan ini memicu kritik luas karena dianggap mencederai semangat inklusivitas yang selama ini dikampanyekan FIFA sebagai nilai utama turnamen.
2. Ribuan suporter kesulitan mendapat visa

Data Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menunjukkan bahwa 11 dari 48 negara peserta Piala Dunia memiliki tingkat penolakan visa di atas 40 persen.
Negara-negara tersebut meliputi Mesir, Iran, Haiti, Aljazair, Ghana, dan Senegal, yang sebagian besar merupakan negara berkembang.
Kondisi ini menempatkan para suporter pada dilema besar, membeli tiket mahal terlebih dahulu tanpa kepastian bisa masuk ke Amerika Serikat. Ketimpangan akses ini semakin terasa karena warga dari 42 negara yang umumnya lebih makmur justru bisa mengurus izin perjalanan secara daring dengan mudah melalui sistem yang sudah tersedia.
3. Sistem penjualan tiket dinilai tidak transparan

Jaksa di New York dan New Jersey membuka penyelidikan terhadap FIFA terkait dugaan penggelembungan harga dan praktik penjualan tiket yang dinilai menyesatkan para penggemar.
Banyak pembeli yang baru mengetahui harga sebenarnya setelah berhasil mendapatkan tiket, tanpa ada daftar harga yang jelas sejak awal.
Bagian yang memperparah situasi, sejumlah penggemar membayar dengan harga tertentu tetapi justru mendapat kursi dengan posisi yang jauh lebih rendah dari yang dijanjikan.
FIFA mengklaim semua pertandingan sudah habis terjual, namun kenyataan di lapangan menunjukkan masih banyak kursi kosong di beberapa laga, terutama pertandingan yang tidak menampilkan tim besar.
4. Jersey bersejarah Haiti dipaksa diganti FIFA

FIFA memaksa timnas Haiti mengganti desain jersey mereka hanya beberapa hari jelang laga perdana, padahal seragam tersebut sudah digunakan dalam dua laga uji coba sebelumnya.
Desain yang dipermasalahkan adalah ilustrasi Pertempuran Vertieres pada 1803, peristiwa bersejarah yang menjadi tonggak kemerdekaan Haiti dari penjajahan Prancis.
FIFA menilai elemen visual tersebut melanggar regulasi perlengkapan pertandingan karena dianggap mengandung pesan politik.
Keputusan ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak yang menilai FIFA terlalu tegas terhadap Haiti, sementara di sisi lain terkesan tidak berdaya menghadapi kontroversi lain yang melibatkan kebijakan negara tuan rumah.
5. Aturan water break tiga menit menuai perdebatan

FIFA memberlakukan aturan jeda minum atau hydration break selama tiga menit di menit ke-22 setiap babak, dan aturan ini diterapkan di seluruh 104 pertandingan tanpa pengecualian, termasuk laga yang digelar di stadion ber-AC dengan suhu normal.
Kebijakan ini langsung memicu perdebatan di kalangan pelatih, pemain, dan pengamat sepak bola.
Pelatih timnas Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, secara terbuka menyatakan ketidaksukaannya terhadap aturan ini karena dinilai mengganggu ritme dan momentum permainan.
Di sisi lain, banyak pihak yang mencurigai jeda tiga menit ini lebih berfungsi sebagai slot iklan bagi stasiun televisi dibanding murni untuk kepentingan kesehatan pemain.
Itulah beberapa kontroversi Piala Dunia 2026 yang paling banyak jadi bahan perbincangan di berbagai kalangan, tak terkecuali saat nonton bareng pasangan di rumah.


















