Bulan Desember 2026 nanti, layar kaca Indonesia akan kehadiran film keluarga yang isinya hanya perempuan saja. Film yang dimaksud itu bertajuk Desember Jani yang akan tayang pada 10 Desember 2026.
Potret Kehidupan Perempuan dalam Keluarga di Film Desember Jani

Film Desember Jani dijadwalkan tayang 10 Desember 2026, mengangkat dinamika tiga generasi perempuan dalam keluarga, termasuk jarak batin antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, dan keberanian untuk memulai kembali.
Cerita berpusat pada Winnie, mama tunggal yang tinggal bersama Jani dan Oma, sambil menghadapi tekanan keluarga setelah anak sulungnya, Julia, kabur dari rumah.
Jani yang berusia 13 tahun digambarkan menjadi penengah konflik keluarga, sementara kelelahan fisik dan emosional Winnie memengaruhi interaksinya dengan anak-anak.
Ceritanya pun sangat relevan dengan realitas keluarga di Indonesia, menyoroti persoalan jarak hubungan batin antargenerasi, cinta yang hadir dalam diam, serta keberanian untuk memulai kembali.
Adapun filmnya mengisahkan tentang Winnie (Sigi Wimala), seorang mama tunggal yang tinggal bersama anak bungsunya, Jani (Chempa Puteri), serta mamanya, Oma (Tutie Kirana). Di tengah peliknya situasi akibat anak sulungnya, Julia (Hyori Mika), yang kabur dari rumah, Winnie tetap berupaya keras mengemban tanggung jawab keluarganya sambil menavigasi perasaan dan emosinya sendiri.
Di balik film ini, pengerjaannya dibuat oleh para sineas perempuan berbakat, mulai dari seorang novelis bernama Cyntha Hariadi yang debut sebagai penulis naskah skenarionya, Ariani Darmawan sebagai sutradara, Meiske Taurisia sebagai produser, hingga Luna Maya sebagai produser eksekutif.
Dalam sebuah kesempatan, Meiske Taurisia memberikan beberapa tanggapan tentang kehidupan para perempuan dalam film Desember Jani ini. Apa saja? Berikut Popmama.com akan membagikan informasinya lewat potret kehidupan perempuan dalam keluarga di film Desember Jani.
1. Perempuan kerap dibebani peran untuk menenangkan keluarga

Dok. Palari Films Meiske Taurisia menyoroti persoalan care labor yang sering dilekatkan kepada perempuan dalam keluarga.
Menurutnya, perempuan sejak kecil dapat terbiasa dengan anggapan bahwa menjaga ketenangan rumah merupakan bagian dari tugas mereka. Hal tersebut kemudian terlihat dari sosok Jani yang tanpa sadar berusaha menjaga hubungan antaranggota keluarganya agar tetap berjalan baik.
“Sebenarnya kalau di film ini si ibunya, single mom lah. Dan ini kita ngomongin care labor-nya perempuan, ya. Bahwa cewek itu sudah secara tidak sadar, memang sudah jadi kayak tugasnya dia. Tugasnya mereka sejak kecil untuk dibiasakan di rumah tuh yang menenangkan rumah,” ungkap Meiske Taurisia.
Karakter Jani yang masih berusia 13 tahun pun digambarkan sudah terbiasa menjadi penengah di tengah persoalan keluarganya. Meiske Taurisia menjelaskan bahwa Jani secara tidak sadar berusaha menjadi jembatan antara anggota keluarganya, termasuk ketika harus menentukan keberpihakan kepada sang mama atau kakaknya.
Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana anak dapat mengambil peran emosional yang seharusnya belum menjadi tanggung jawabnya.
“Jani yang 13 tahun, dia berusaha jadi jembatan secara nggak sadar. Dia sebenarnya sudah berusaha jadi jembatan dari kecil. Dan itu sebenarnya yang juga kita carry sebagai perempuan, gimana cara jadi jembatan,” sambungnya.
2. Jani mengalami parentification dalam keluarga

Dok. Palari Films Peran Jani sebagai penengah keluarga juga dapat dikaitkan dengan istilah parentification, yakni kondisi ketika seorang anak mengambil tanggung jawab yang secara emosional atau praktis lebih layak dijalankan oleh orang dewasa.
Dalam filmnya, Jani digambarkan sudah memahami konflik antara mamanya dan kakaknya sejak usia muda. Ia bahkan berada dalam posisi seolah harus memilih untuk berpihak kepada sang mama atau kakak.
“Jani jadi lebih kayak ‘Dia harus pilih pro ibu atau pro kakak, ya?’. Dia dari kecil jadinya sudah mengerti,” jelas Meiske Taurisia.
3. Winnie digambarkan sebagai single mom yang kelelahan

Dok. Palari Films Sementara itu, karakter Winnie merupakan seorang mama tunggal yang harus bekerja sekaligus memiliki pekerjaan sampingan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisi tersebut membuat Winnie berada dalam situasi yang melelahkan secara fisik maupun emosional.
Meiske Taurisia menyebut karakter tersebut sebagai gambaran seorang mama yang sudah mengalami kelelahan hingga akhirnya tanpa sadar lebih mudah meluapkan emosinya dan akhirnya sering mengomel di rumah.
“Untuk soal marahnya Winnie ke Julia (anak sulungnya) itu karena kenapa, sih? Mungkin kalau dalam pertemuan yang berbeda gitu ya, ada yang bilang ‘Ini ibu-ibu yang kecapean’,” katanya.
Adapun tekanan yang dialaminya sebagai ibu tunggal turut memengaruhi caranya berinteraksi dengan anak-anaknya. Situasi tersebut menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan kompleksitas hubungan antara seorang mama dan anak dalam film Desember Jani.
“Karena kecapean, dia jadi melakukan hal-hal yang misalnya, rasanya ngomel-ngomel melulu di rumah. Emosional di rumah. Terus ditambah anaknya (Julia) yang kabur. Sudah kabur, terus lari, terus dia (Winnie) juga masih mantau sama si informannya,” lanjut Meiske Taurisia.
Itulah informasi terkait potret kehidupan perempuan dalam keluarga di film Desember Jani. Saat filmnya sudah tayang, Mama bisa mengajak anak untuk menonton film ini, ya.










-H6M87rUTybIwRevZlCI1bLl3hyYawayO.jpg)






-GTUV7wkbE7GMDLUenL0hP6EoEzdNdFm4.png)






-MtGyGNPff443GPUQKvQg24xHuqRGosoI.jpg)
