Keutamaan Saling Memaafkan dan Silaturahmi di Lebaran

Saling memaafkan dan bersilaturami, termasuk sifat dari Rasulullah

7 Mei 2021

Keutamaan Saling Memaafkan Silaturahmi Lebaran
Freepik/freepik

Usai menunaikan ibadah puasa selama satu bulan, umat Muslim tentu sangat menantikan dan menyambut momen Idul Fitri. Momen ini memang menjadi hari raya besar untuk umat Muslim di seluruh dunia, apalagi bisa saling bertemu satu sama lain dan bersilaturahmi.

Momen Lebaran pun mengingatkan kita dengan momen sungkeman atau tradisi jawa, yakni bersalaman dengan cara duduk di lantai dan orangtua duduk di kursi.

Beberapa orang mungkin tidak bisa melangsungkan mudik karena terhalang satu dna lain hal, namun keutamaan silaturahmi dan memaafkan antar keluarga menjadi sangat penting apapun caranya.

Berikut beberapa keutamaan saling memaafkan kepada keluarga, teman maupun tetangga pada momen Lebaran, Popmama.com telah merangkum informasinya dari berbagai sumber.

1. Sikap memaafkan adalah sikap paling terpuji

1. Sikap memaafkan adalah sikap paling terpuji
Freepik/freepik

Setelah selama 30 hari penuh berpuasa dengan menahan godaan, menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik sebagai umat Muslim.

Saat Lebaran, ini menjadi momen untuk menyadarkan kita tentang sebuah pelajaran penting bahwa memaafkan dan saling mengunjungi merupakan tradisi yang indah.

Pada hari biasa mungkin kita kesulitan memaafkan kesalahan orang lain, tetapi pada momen Lebaran, kita cenderung menebar maaf seluas-luasnya kepada semua orang.

Seperti dikutip dari Bincang Syariah ternyata sikap memaafkan adalah sikap paling terpuji, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Imran ayat 134 yang artinya:

“… orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Editors' Picks

2. Lebaran menjadi momen untuk menyambung silaturahmi

2. Lebaran menjadi momen menyambung silaturahmi
Freepik/freepik

Pada momen Lebaran, kita pun diajarkan untuk menyambung tali silaturahmi. Ini pun seperti kisah Rasulullah, setelah ia salat Idul Fitri, saat pulang ia mengambil jalan yang berbeda.

Hal tersebut dimaksudkan untuk bertemu dengan orang banyak dan memanjangkan tali silaturahmi karena sesama muslim adalah saudara bagi muslim lainnya.

Silaturahmi juga memanjangkan rezeki juga menambah usia, Rasulullah pun mengatakan bahwa muslim terbaik adalah yang menyambung tali silaturahmi.

3. Memaafkan adalah sifat Rasulullah

3. Memaafkan adalah sifat Rasulullah
Freepik
joker with card

Dilansir dari NU Online, penerimaan agama Islam bukan karena paksaan atau peperangan, melainkan simpatik karena keelokan pendakwahnya.

Ini juga sudah dicontoh oleh Rasulullah SAW yang baik akhlaknya, Rasullullah pun disegani oleh kawan, bahkan lawan sekali pun menghormati dan menyanjung etika beliau.

Kebencian tidak pernah Rasulullah balas dengan amarah dan dendam, malah ia menyambut dengan rasa kaish sayang dan penuh maaf.

Aisyah RA pernah ditanya terkait watak dan pribadi Rasulullah, ia pun menjelaskan:

“Rasulullah SAW orang paling bagus akhlaknya, beliau tidak pernah kasar, berbuat keji dan tidak membalas kejatan dengan kejahatan. Beliau adalah pribadi yang pemaaf dan mendamaikan.” - (HR Ibnu Hibban).

Di antara sifat Nabi Muhammad SAW, ialah suka memberi maaf. Beliau memaafkan orang yang membenci dan menyakiti perasaannya.

Memaafkan kesalahan bukanlah perkara mudah, malahan pada saat itulah keimanan seorang diuji. Sama seperti firman Allah pada surat Asy-Syuara ayat 40 yang artinya:

“Barangsiapa yang memaafkan dan mendamaikan, maka pahalanya dari Allah SWT”

Dengan memberi maaf, kita sudah mengikuti perilaku Nabi SAW, mengikuti etika dan kesopanan beliau.

4. Manfaat memafkan bagi kesehatan tubuh

4. Manfaat memafkan bagi kesehatan tubuh
Pixabay/drfuenteshernandez

Saat memaafkan, secara otomatis juga mengeluarkan emosi negatif dalam diri. Selain itu, membantu belajar untuk bisa melihat suatu hal lebih positif sehingga mengurangi stres dan kecemasan.

Belum lagi menurut Johns Hopkins Medicine, seperti dikutip dari IDN Times, saat marah tubuh akan memproduksi hormone adrenalin dan hormon inilah yang menyebabkan ketegangan otot dan denyut jantung.

Ketika memutuskan memaafkan, tubuh akan melepaskan emosi negatif dan menjadi lebih rileks serta mengembalikan tekanan darah kembali pada kondisi normal.

Mari sama-sama saling memaafkan di hari yang penuh fitri ini ya, Ma. Apalagi perilaku memaafkan termasuk sifat Nabi yang perlu kita tiru.

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.