Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Persalinan Ibu dengan Hipertensi, Diabetes, dan Preeklampsia
Instagram.com/ditha_kalyana
  • Mama Ditha membagikan kisahnya menjalani persalinan dengan kondisi hipertensi, diabetes gestasional, dan preeklampsia yang terdeteksi sejak trimester ketiga, di bawah pengawasan ketat dokter kandungan di Instagram @ditha_kalyana.

  • Berkat kerja sama tim medis, proses operasi caesar berjalan lancar dan kondisi ibu serta bayi dipantau intensif hingga masa pemulihan di rumah sakit.

  • Kehamilan dengan tiga kondisi tersebut tergolong berisiko tinggi sehingga memerlukan kontrol rutin, pemantauan tekanan darah dan gula darah, serta perencanaan persalinan di fasilitas kesehatan lengkap.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Seorang mama bernama Ditha Kalyana membagikan kisah melahirkan anaknya di Instagram @ditha_kalyana. Mama Ditha menceritakan kalau ia melahirkan anaknya, Max, dalam kondisi yang tidak biasa yakni hipertensi, diabetes gestasional dan preeklamsia.

Lewat vlog itu, Mama Ditha menunjukkan proses persalinan dan beberapa tahapan yang harus dilaluinya saat melahirkan. Karena melahirkan dengan tiga kondisi itu, beberapa tim dokter di rumah sakit seolah ‘siap siaga’ menjaganya dan memantau kesehatan sang Anak pasca dilahirkan.

Seperti apa? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Mama Ditha ungkap sudah ada tanda preeklampsia sejak trimester ketiga

Instagram.com/ditha_kalyana

Dari unggahan video itu, Mama Ditha menceritakan proses persalinan anaknya, Max. Ia memiliki kondisi hipertensi dan diabetes gestasional pada awalnya. Sementara preeklampsia baru diketahui mendekati persalinan tiba.

“Dan ternyata guys, dari TM3 (trimester ketiga) itu sudah ada tanda-tanda preeklampsia. Cuman hebatnya, dr. Budi (dokter SpOG yang menangani Mama Ditha) benar-benar menjaga dan mengontrol kondisiku sampai bisa dicegah terus sampai H-1 melahirkan),” jelas Mama Ditha.

Dari keterangan video, Mama Ditha melakukan cek darah sebelum melahirkan. Di sana dipastikan kalau kondisi kehamilannya juga preeklampsia.

“Pas H-1 sebelum SC dicek darahku ada protein +2 yang berarti preeklampsia,” tuturnya. 

2. Persalinan berjalan lancar berkat pemantauan tim medis

Karena kerja sama tim dokter dan medis yang menangani, persalinan Mama Ditha bisa berjalan lancar. Bahkan setelah melahirkan kondisinya dan sang bayi dipantau ketat. Ia menghabiskan beberapa hari lebih lama dirawat di rumah sakit untuk memulihkan kondisi.

“Dan dengan kondisi yang ada preeklamsia, hipertensi dan diabetes gestasional, gak mudah untuk para dokter dan tenaga medis membantu melahirkan anakku. Dengan keep kondisiku tetap stabil,” jelas Mama Ditha.

3. Mengapa ketiga kondisi ini bisa terjadi saat hamil? 

Pexels/Amina Filkins

Sebagai informasi, hipertensi dalam kehamilan dapat terjadi ketika tekanan darah ibu meningkat setelah usia kehamilan 20 minggu atau memang sudah memiliki tekanan darah tinggi sebelum hamil. 

Sementara itu, diabetes gestasional muncul akibat perubahan hormon kehamilan yang membuat tubuh kurang efektif menggunakan insulin sehingga kadar gula darah meningkat. 

Berbeda dengan keduanya, preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi disertai tanda kerusakan organ, seperti ginjal atau hati. Kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan perkembangan plasenta dan umumnya muncul setelah usia kehamilan 20 minggu.

4. Persalinan caesar menjadi solusi yang dialami Mama Ditha

Pexels/Hannah Barata

Secara medis, memiliki ketiga kondisi yakni hipertensi, diabetes gestasional dan preeklampsia sekaligus membuat tubuh mama berada dalam mode kerentanan tinggi. Oleh karena itu, dokter spesialis kandungan (SpOG) umumnya akan lebih merekomendasikan operasi caesar demi meminimalkan risiko fatal pada ibu dan bayi. 

Berdasarkan pedoman ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists) dan Kemenkes RI, preeklamsia masuk dalam kategori berat atau kondisi ibu tidak stabil, persalinan harus segera dilakukan. 

Kenapa operasi caesar kerap dipilih? Pasalnya gabungan antara hipertensi/preeklamsia dan diabetes gestasional mengganggu fungsi plasenta dalam menyalurkan oksigen dan nutrisi ke bayi. Jika memilih persalinan normal maka mama akan melewati proses kontraksi persalinan yang mungkin berlangsung berjam-jam. Di sini bayi bisa mengalami gawat janin (kekurangan oksigen akut yang ditandai dengan detak jantung melemah atau tidak teratur). 

Berikut tiga listikel tambahan yang melengkapi alur artikel. Isinya bersifat edukatif dan sesuai dengan pedoman umum mengenai hipertensi, diabetes gestasional, dan preeklampsia pada kehamilan.

5. Apa yang perlu diwaspadai jika hamil dengan hipertensi, diabetes gestasional, dan preeklampsia?

Unsplash/Devon Divine

Kehamilan dengan hipertensi, diabetes gestasional, dan preeklampsia tergolong sebagai kehamilan berisiko tinggi sehingga membutuhkan pemantauan lebih intensif. Ketiga kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi, seperti gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, gangguan fungsi plasenta, hingga kejang akibat preeklampsia (eklampsia) apabila tidak ditangani dengan baik.

Mengacu ke pedoman ACOG (American College of Obstetricians and Gynecologists) mengenai hipertensi dan preeklampsia pada kehamilan yang menjelaskan bahwa ibu dengan hipertensi gestasional atau preeklampsia memerlukan pemantauan ketat karena berisiko mengalami gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, gangguan plasenta, hingga eklampsia. Gejala seperti sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, nyeri ulu hati, sesak napas, dan penurunan gerakan janin memerlukan evaluasi medis segera.

6. Bagaimana mempersiapkan persalinan dengan kondisi tersebut?

Magnific/yanalya

Ibu hamil dengan hipertensi, diabetes gestasional, dan preeklampsia sebaiknya rutin menjalani kontrol sesuai jadwal yang ditentukan dokter. Selama kehamilan, dokter akan memantau tekanan darah, kadar gula darah, kondisi plasenta, serta tumbuh kembang janin untuk menentukan waktu dan metode persalinan yang paling aman.

Rekomendasi ACOG dan pedoman National Institute for Health and Care Excellence yang menekankan pentingnya pemeriksaan antenatal rutin, pemantauan tekanan darah, pemeriksaan laboratorium, pemantauan pertumbuhan janin melalui USG, serta perencanaan tempat dan metode persalinan sesuai kondisi ibu dan janin 

Selain itu, penting bagi mama untuk mengikuti anjuran pengobatan, menjaga pola makan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan, mengonsumsi obat bila diresepkan, serta menyiapkan persalinan di rumah sakit yang memiliki fasilitas lengkap. Dengan perencanaan yang matang, tim medis dapat segera memberikan penanganan jika sewaktu-waktu kondisi ibu atau bayi berubah.

7. Apa yang harus dilakukan setelah melahirkan?

Pexels/Katya Puzanova

Persalinan bukan berarti risiko dari hipertensi, diabetes gestasional, maupun preeklampsia langsung hilang. Tekanan darah masih dapat meningkat dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah melahirkan, sehingga ibu tetap perlu menjalani kontrol sesuai jadwal dan mengonsumsi obat bila masih diresepkan dokter.

Bagi mama yang mengalami diabetes gestasional, pedoman dari ACOG menekankan agar kadar gula darah juga perlu dievaluasi kembali setelah persalinan karena sebagian besar akan kembali normal, tetapi ada pula yang berisiko mengalami diabetes tipe 2 di kemudian hari. 

Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga pola makan bergizi seimbang, tetap aktif bergerak sesuai anjuran dokter, serta segera memeriksakan diri jika muncul keluhan menjadi langkah penting selama masa nifas.

Itulah tadi informasi mengenai cerita persalinan ibu dengan hipertensi, diabetes, dan preeklampsia dari Instagram @ditha_kalyana. Wah, pengalaman Mama Ditha bisa menjadi salah satu inspirasi dan pengingat bagi ibu yang akan melahirkan dengan kondisi serupa!

Curated For You

Editorial Team

Related Article