5 Hal yang Harus Dilakukan iika Hasil Skrining HBsAg Ibu Hamil Reaktif

- Hasil HBsAg reaktif pada ibu hamil perlu segera dikonsultasikan dan ditindaklanjuti melalui pemeriksaan diagnostik.
- Pemeriksaan HBV DNA membantu dokter menilai kebutuhan terapi antivirus selama kehamilan.
- Fasilitas persalinan perlu mengetahui status HBsAg agar bayi dapat menerima vaksin hepatitis B, HBIg, dan pemeriksaan lanjutan.
Pemeriksaan HBsAg menjadi salah satu skrining penting selama kehamilan untuk mengetahui apakah ibu hamil terinfeksi virus hepatitis B (HBV). Jika hasilnya reaktif atau positif, jangan panik terlebih dahulu, ya!
Namun, kondisi ini perlu segera ditindaklanjuti agar dokter dapat menilai kondisi kesehatan ibu hamil sekaligus mencegah penularan hepatitis B kepada bayi.
Mengutip CDC, hasil HBsAg positif yang sudah dikonfirmasi menunjukkan adanya infeksi HBV. Pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk mengetahui kondisi infeksi dan menentukan penanganan yang tepat.
Lantas, apa yang harus dilakukan ibu hamil ketika hasil HBsAg reaktif atau positif? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Table of Content
Apakah Skrining HBsAg untuk Ibu Hamil Gratis?

Mengutip website Kementerian Kesehatan RI, skrining hepatitis B merupakan bagian dari pelayanan kesehatan ibu hamil di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) utamanya di Puskesmas. Untuk peserta yang sedang hamil dan menjalani pelayanan antenatal care (ANC), skrining hepatitis B dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan tes HBsAg. Rapid test HBsAg yang digunakan dalam program tersebut disediakan melalui pemerintah.
Ibu hamil dapat menanyakan layanan skrining HBsAg saat melakukan pemeriksaan kehamilan di Puskesmas atau FKTP. Jika fasilitas kesehatan tersebut belum memiliki rapid test HBsAg dari pemerintah, ibu hamil dapat dirujuk ke FKTP lain yang memiliki akses pemeriksaan tersebut.
Perlu diketahui, pemeriksaan lanjutan setelah hasil HBsAg reaktif tidak selalu sama dengan skrining awal. Misalnya, pemeriksaan HBV DNA atau viral load dan penanganan lebih lanjut mengikuti alur rujukan serta sumber pembiayaan yang berlaku. Kemenkes menyebutkan bahwa tindak lanjut hepatitis B dapat mengikuti pembiayaan melalui BPJS Kesehatan, asuransi mandiri, atau sumber pembiayaan lainnya.
Jadi, ibu hamil bisa mulai dengan mengikuti ANC di Puskesmas atau FKTP dan menanyakan skrining triple eliminasi, termasuk pemeriksaan HBsAg. Jika hasilnya reaktif, tenaga kesehatan akan membantu menentukan pemeriksaan dan rujukan berikutnya.
1. Segera konsultasi dan lakukan pemeriksaan lanjutan

Jangan berhenti pada hasil HBsAg saja. Ibu hamil yang mendapatkan hasil HBsAg reaktif perlu berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
CDC menyebut jika semua ibu hamil dengan HBsAg positif perlu menjalani pemeriksaan HBV DNA atau viral load. Pemeriksaan ini digunakan untuk mengetahui jumlah virus hepatitis B dalam darah dan membantu dokter menentukan apakah ibu hamil tersebut membutuhkan terapi antivirus selama kehamilan.
Dalam program Kementerian Kesehatan RI, ibu hamil dengan HBsAg reaktif juga dapat dirujuk untuk pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Kemenkes menjelaskan bahwa ibu hamil HBsAg reaktif yang berada di fasilitas kesehatan yang belum memiliki pemeriksaan diagnostik tertentu perlu dirujuk ke fasilitas yang mampu melakukan pemeriksaan dan pemberian antivirus.
Jadi, ibu hamil tidak perlu menunggu sampai persalinan untuk menindaklanjuti hasil HBsAg tersebut.
2. Periksa viral load untuk menentukan perlu tidaknya antivirus

Salah satu pemeriksaan penting setelah HBsAg positif adalah HBV DNA atau viral load. Hasil pemeriksaan ini akan membantu dokter mengetahui seberapa banyak virus hepatitis B yang terdapat dalam darah Mama.
Menurut WHO, ibu hamil dengan HBsAg positif dan kadar HBV DNA ≥200.000 IU/mL direkomendasikan mendapatkan tenofovir sebagai profilaksis untuk membantu mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi. WHO merekomendasikan pemberian mulai sekitar minggu ke-28 kehamilan hingga setidaknya saat persalinan.
CDC juga menyebutkan bahwa terapi antivirus maternal dapat dipertimbangkan pada ibu hamil dengan HBV DNA >200.000 IU/mL.
Dalam pedoman program Kemenkes, pemberian tenofovir juga dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi klinis Mama. Tenofovir tidak boleh dikonsumsi sendiri tanpa rekomendasi dokter, karena dokter perlu menentukan apakah obat tersebut memang diperlukan dan bagaimana pemantauannya.
3. Beri tahu fasilitas kesehatan tempat ibu hamil akan melahirkan

Hasil skrining HBsAg reaktif perlu diketahui oleh dokter, bidan, rumah sakit, atau fasilitas kesehatan tempat Mama berencana melahirkan.
Menurut CDC, ibu hamil dengan HBsAg positif perlu mendapatkan pengelolaan yang tepat. Salinan hasil pemeriksaan HBsAg juga sebaiknya diberikan kepada fasilitas persalinan serta tenaga kesehatan yang akan menangani bayi. Hal ini penting agar petugas dapat segera memberikan perlindungan kepada bayi setelah lahir.
Langkah ini juga membantu fasilitas kesehatan mempersiapkan vaksin hepatitis B dan HBIg (hepatitis B immune globulin) untuk bayi.
Dalam program Kementerian Kesehatan RI, bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif menjadi sasaran penting dalam upaya pencegahan transmisi hepatitis B dari ibu ke anak. Kemenkes juga memiliki sistem rujukan bagi ibu hamil dengan HBsAg reaktif, termasuk apabila ditemukan peningkatan kadar ALT atau tanda penyakit hati yang membutuhkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit.
4. Pastikan bayi mendapatkan vaksin hepatitis B dan HBIg segera setelah lahir

Ini menjadi salah satu langkah paling penting untuk mencegah hepatitis B ditularkan kepada bayi.
Menurut CDC, bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif harus mendapatkan vaksin hepatitis B dan HBIg dalam waktu maksimal 12 jam setelah lahir. Keduanya diberikan pada tempat suntikan yang berbeda.
Setelah itu, bayi tetap perlu menyelesaikan seluruh rangkaian vaksinasi hepatitis B sesuai jadwal yang ditentukan tenaga kesehatan.
Di Indonesia, Kemenkes juga menempatkan pemberian HB-0 dan HBIg segera setelah lahir sebagai bagian penting dari program pencegahan transmisi hepatitis B dari ibu ke anak. Dokumen program Kemenkes mencantumkan pemberian HB-0 dan HBIg kurang dari 24 jam pada bayi dari ibu HBsAg reaktif.
Dengan demikian, Mama sebaiknya memberi tahu tenaga kesehatan mengenai status HBsAg sejak sebelum persalinan agar kebutuhan bayi dapat dipersiapkan.
5. Pastikan bayi menjalani pemeriksaan setelah vaksinasi selesai

Perlindungan bayi tidak berhenti setelah mendapatkan vaksin hepatitis B dan HBIg saat lahir. Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B juga perlu menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan apakah sudah memiliki kekebalan atau justru terinfeksi HBV.
CDC menyarakan, oemeriksaan tersebut disebut post-vaccination serologic testing (PVST) dan dilakukan dengan memeriksa HBsAg serta anti-HBs. Pemeriksaan umumnya dilakukan ketika bayi berusia 9–12 bulan, atau 1–2 bulan setelah rangkaian vaksin hepatitis B selesai jika rangkaian vaksin mengalami keterlambatan.
Dokumen program Kemenkes juga menyebutkan pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs pada bayi usia 9–12 bulan dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan yang sesuai.
Hasil pemeriksaan ini penting untuk memastikan dua hal, yaitu apakah bayi terlindungi dari hepatitis B atau masih mengalami infeksi HBV sehingga membutuhkan tindak lanjut medis.
Meski infeksi ini bisa menyebabkan risiko tinggi masih bisa ditangani lho. Sehingga dengan penanganan yang tepat sejak kehamilan hingga setelah bayi lahir, penularan hepatitis B dari ibu ke bayi dapat dicegah. Karena itu, Mama sebaiknya tidak menunda konsultasi setelah mendapatkan hasil HBsAg reaktif.





















