Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cara Menghadapi Omongan Orang Lain saat Disindir soal Belum Punya Anak
Instagram.com/adjiesantosoputro
  • Sindiran warganet kepada dr. Gia Pratama soal anak menjadi sorotan, mengingat ia dan istrinya sedang berusaha memiliki momongan.

  • Praktisi kesehatan mental Adjie Santosoputro mengingatkan bahwa komentar menyakitkan lebih mencerminkan persepsi, pengalaman, luka batin, atau ketakutan pihak yang mengucapkannya.

  • Saat disindir, seseorang dianjurkan menjaga ketenangan dan batasan, tidak membalas keburukan, serta tidak menjadikan komentar orang lain sebagai penentu nilai diri.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Belakangan ini ramai tentang salah seorang warganet yang menuliskan sindiran pedas terhadap dr. Gia Pratama. Kejadian itu bermula dari dr. Gia yang menanyakan terkait pemilu tahun 2029. Tak disangka, salah satu warganet justru menuliskan komentar pedas terkait anak.

“Kapan pemilu 2029? Berapa bulan lagi?” tanya dr. Gia di Threads. 

“Mending lu tanya dok 2029 bisa ga hamilin bini lu,” tulis salah seorang warganet. 

Komentar tersebut langsung menjadi sorotan publik karena terasa begitu kejam, terlebih selama ini dr. Gia dan istrinya memang sedang berusaha untuk memiliki momongan. 

Dari kejadian itu, Adjie Santosoputro selaku praktisi kesehatan mental pun memberikan tips terkait cara menghadapi orang lain saat disindir soal belum punya anak.

Simak pembahasannya telah Popmama.com siapkan melansir dari akun Instagram @adjiesantosoputro. 

1. Ingat bahwa perkataan orang lain tidak sepenuhnya menggambarkan diri kita

Instagram.com/adjiesantosoputro

Ketika seseorang memberikan komentar atau sindiran kepada kita, perkataan tersebut sebenarnya tidak selalu menggambarkan siapa diri kita yang sesungguhnya. Sebab, ucapan seseorang banyak dipengaruhi oleh persepsi yang mereka miliki terhadap orang lain.

Setiap orang mempunyai gambaran dan penilaian tersendiri mengenai diri kita. Persepsi itu pun terbentuk dari berbagai pengalaman yang mereka lalui sepanjang hidup, mulai dari pengalaman masa lalu, masa kecil, luka batin, hingga trauma yang mungkin pernah dialami.

Karena itu, perkataan yang dilontarkan seseorang tidak sepenuhnya mencerminkan diri kita. Justru, ucapan tersebut bisa lebih banyak menggambarkan bagaimana kondisi dan cara pandang orang yang mengatakannya.

“Tapi omongan orang itu didasari persepsi dia mengenai kami. Di pikiran dia punya gambaran tentang kami. Dan persepsi itu, gambaran itu dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya, masa kecilnya, luka batinnya, traumanya. Jadi omongan itu bukan menggambarkan sepenuhnya diri kami, tapi lebih menggambarkan dirinya,” tulis Adjie Santosoputro.

2. Pahami bahwa perilaku agresif bisa berakar dari luka dan ketakutan

Instagram.com/adjiesantosoputro

Ketika menghadapi seseorang yang dengan sengaja melontarkan perkataan menyakitkan, seperti bertanya soal anak, kita bisa mencoba melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. 

Orang yang bersikap agresif dan berbicara dengan kejam mungkin memiliki ‘bahan bakar’ berupa luka batin atau ketakutan yang belum terselesaikan. Alih-alih langsung membalas dengan kemarahan, kita dapat mencoba bertanya dalam hati, “Luka batin apa yang pernah dialaminya hingga membuatnya mampu mengatakan sesuatu begitu jahat?”

Cara berpikir seperti ini bukan berarti membenarkan perkataan atau perilaku yang menyakiti. Namun, hal ini dapat membantu kita agar tidak ikut terbawa ke dalam permainan atau tingkat emosi orang tersebut.

Kita pun dapat belajar untuk tetap menenangkan diri, menjaga batasan, serta menumbuhkan rasa welas asih tanpa harus membalas perkataan menyakitkan dengan hal serupa.

“Kami bertanya dalam hati: “Apa Iuka batin masa lalunya yang sebegitu parahnya hingga omongannya sebegitu jahatnya?" Dengan begitu kami enggak ikut turun ke level permainannya. Kami belajar menjangkarkan diri menumbuhkan welas asih, compassion,” tulis Adjie Santosoputro.

3. Hukum karma itu nyata adanya

Instagram.com/adjiesantosoputro

Setiap orang memiliki tanggung jawab atas apa yang mereka katakan maupun bagaimana mereka merespons suatu keadaan.

Dalam hal ini, perkataan orang lain merupakan ‘karma’ mereka, sedangkan respons yang kita pilih menjadi ‘karma’ kita sendiri.

Bahkan, dampak dari apa yang dilakukan seseorang tidak selalu berhenti pada dirinya sendiri karena dapat pula berkaitan dengan keluarganya.

Prinsip ini dapat menjadi pengingat agar kita tidak terburu-buru membalas komentar buruk dengan perkataan yang sama buruknya. Sebab, setiap tindakan memiliki konsekuensi masing-masing. 

“Ingat "You reap what you sow” kamu akan memanen yang kamu tanam. Meski itu cuma ketikan, atau di konteks yang lain, ada yang pake akun anonim. Yang memanen nggak selalu kamu, bisa juga keluargamu,” tulis Adjie Santosoputro. 

4. Belajar meluruhkan rasa “aku” dalam menghadapi perkataan orang lain

Instagram.com/adjiesantosoputro

Ketika mendapat sindiran yang menyakitkan, wajar jika kita merasa sedih, marah, malu, atau bahkan mulai mempertanyakan diri sendiri. Namun, Adjie Santosoputro mengajak kita untuk belajar “meluruhkan aku”, yaitu tidak menjadikan perkataan orang lain sebagai gambaran mengenai siapa diri kita yang sebenarnya.

Dalam konteks pasangan yang belum memiliki anak, komentar mengenai kehamilan atau kesuburan tidak seharusnya membuat seseorang merasa dirinya kurang berharga. Apa yang dikatakan orang lain merupakan persepsi mereka, bukan penentu nilai diri kita.

Melalui cara ini, perkataan yang menyakitkan justru bisa menjadi kesempatan untuk kembali mengenali diri sendiri. Kita dapat mengingat bahwa hakikat diri tidak ditentukan oleh label, penilaian, ataupun sindiran dari orang lain.

“Orang kalau udah di kesadaran ini, “aku’nya luruh, maka dia jadi kayak udara. Sehingga omongan orang tidak bisa mengenai dirinya. Karena “diri"'nya jadi kayak transparan. Omongan orang jadinya cuma berhadapan sama udara, cuma hilan dengan sendirinya mengenai udara,” peringat Adjie Santosoputro. 

Itu dia informasi mengenai cara menghadapi orang lain saat disindir soal belum punya anak. Setiap pasangan memiliki perjalanan masing-masing dalam memiliki anak, sehingga penting untuk tetap menghargai diri sendiri, menjaga hati, dan fokus pada perjalanan yang sedang dijalani. 

Curated For You

Editorial Team

Related Article