Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Bahaya Menahan BAB saat Hamil yang Perlu Diwaspadai
Freepik/valeria_aksakova
  • Menahan BAB saat hamil memperlambat sistem pencernaan dan membuat feses mengeras, memicu sembelit parah serta rasa tidak nyaman berkepanjangan.
  • Kebiasaan ini dapat menyebabkan wasir, fisura ani, hingga impaksi tinja yang menimbulkan nyeri hebat dan berisiko mengganggu asupan nutrisi ibu serta janin.
  • Tekanan berlebih akibat menahan BAB juga bisa melemahkan otot dasar panggul, meningkatkan risiko infeksi saluran kemih, dan memicu kram perut atau kontraksi dini.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menahan buang air besar (BAB) saat hamil mungkin terdengar seperti masalah sepele, terutama jika Mama sedang sibuk atau merasa tidak nyaman menggunakan toilet umum.

Namun, menunda dorongan alami tubuh ini sebenarnya menyimpan risiko kesehatan yang cukup besar. Selama kehamilan, sistem pencernaan ibu hamil secara alami sudah melambat akibat peningkatan hormon progesteron, sehingga kebiasaan menahan BAB hanya akan memperparah kondisi tersebut.

Ketika sinyal tubuh untuk ke toilet diabaikan, feses akan tertahan lebih lama di dalam usus besar. Padahal, salah satu fungsi utama usus besar adalah menyerap air dari sisa makanan.

Akibatnya, makin lama feses mengendap, makin banyak pula air yang terserap, hingga mengubah teksturnya menjadi sangat kering, keras, dan memicu berbagai komplikasi kesehatan.

Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai bahaya menahan BAB saat hamil.

1. Sembelit atau konstipasi yang semakin parah

Pexels/Sora Shimazaki

Menahan BAB adalah pemicu utama terjadinya sembelit atau konstipasi. Ketika ibu hamil sengaja menunda ke toilet, usus besar akan terus menyerap kandungan air dari feses yang mengendap.

Proses ini membuat feses kehilangan kelunakannya, sehingga berubah menjadi gumpalan yang kering, keras, dan sangat sulit untuk digerakkan keluar dari saluran pencernaan.

Kondisi ini diperparah oleh perubahan biologis selama kehamilan, di mana hormon progesteron secara alami mengendurkan otot-otot usus dan memperlambat pergerakan makanan.

Jika ibu hamil sering menahan BAB, perlambatan alami ini akan bergabung dengan pengerasan feses, menciptakan lingkaran setan sembelit akut yang membuat momen ke toilet berikutnya menjadi sangat menyiksa dan penuh rasa begah.

2. Terbentuknya wasir atau ambeien

Freepik/jcomp

Bahaya berikutnya yang sangat sering mengintai ibu hamil adalah wasir atau ambeien. Ketika feses mengeras akibat sering ditahan, ibu hamil secara otomatis akan mengejan dengan sangat kuat untuk mengeluarkannya.

Tekanan yang intens dan berulang saat mengejan inilah yang menyebabkan pembuluh darah di sekitar rektum dan anus membengkak, meradang, hingga menonjol keluar.

Pada masa kehamilan, risiko wasir sebenarnya sudah meningkat karena volume darah ibu hamil bertambah dan rahim yang membesar menekan pembuluh darah di area panggul.

Menambahkan tekanan ekstra dari aktivitas mengejan akibat menahan BAB akan mempercepat pembengkakan pembuluh darah tersebut. Hal ini akhirnya memicu rasa nyeri, gatal parah, hingga perdarahan berupa tetesan darah segar saat buang air besar.

3. Risiko mengalami fisura ani (robekan kulit anus)

Freepik/yanalya

Fisura ani adalah kondisi terjadinya luka atau robekan kecil pada jaringan kulit halus yang melapisi lubang anus. Ketika ibu hamil menahan BAB dalam waktu lama, feses yang menumpuk tidak hanya mengeras, tetapi juga volumenya bisa membesar.

Saat kotoran yang besar dan padat ini dipaksa keluar, elastisitas kulit anus akan dipaksa melewati batas kemampuannya hingga robek. Robekan ini menimbulkan rasa sakit yang sangat tajam seperti tersayat pisau, baik selama proses BAB maupun beberapa jam setelahnya.

Rasa nyeri yang hebat ini sering kali membuat ibu hamil menjadi trauma dan semakin takut untuk buang air besar, sehingga mereka kembali menahan BAB dan membuat siklus luka pencernaan ini semakin sulit disembuhkan.

4. Impaksi tinja

Pexels/Anna Shvets

Jika kebiasaan menahan BAB dilakukan secara kronis atau terus-menerus, ibu hamil berisiko mengalami komplikasi serius yang disebut impaksi tinja (fecal impaction).

Kondisi ini terjadi ketika massa feses yang kering dan keras menumpuk di dalam rektum dalam jumlah besar hingga membentuk gumpalan padat dan tidak bisa dikeluarkan lagi oleh gerakan otot usus normal.

Impaksi tinja merupakan kondisi darurat medis ringan yang memerlukan bantuan dokter untuk mengeluarkannya, baik menggunakan cairan pencahar khusus melalui anus maupun tindakan manual.

Bagi ibu hamil, penumpukan feses yang membatu ini tidak hanya menimbulkan nyeri perut yang hebat, tetapi juga memicu rasa mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan yang bisa mengganggu pemenuhan nutrisi penting untuk janin.

5. Gangguan otot dasar panggul

Freepik/Lifestylememory

Menahan BAB mengharuskan ibu hamil untuk mengencangkan otot-otot panggul dan sfingter anal (otot katup anus) dengan kuat demi melawan dorongan alami tubuh.

Jika otot-otot ini dipaksa bekerja ekstra keras secara terus-menerus untuk menahan kotoran, lama-kelamaan otot dasar panggul dapat mengalami kelelahan, ketegangan kronis, atau bahkan peregangan yang berlebihan hingga melemah.

Melemahnya otot dasar panggul selama kehamilan dapat memicu masalah jangka panjang, seperti inkontinensia alias kesulitan mengontrol keluarnya urine maupun feses secara tidak sengaja.

Padahal, kekuatan otot dasar panggul sangat dibutuhkan oleh ibu hamil untuk menyangga beban rahim yang kian membesar serta mendukung kelancaran proses mengejan saat persalinan normal nanti.

6. Meningkatnya risiko infeksi saluran kemih

Freepik/Jcomp

Mungkin terkesan tidak berhubungan, namun struktur anatomi tubuh perempuan menempatkan rektum sangat dekat dengan kandung kemih dan saluran kemih.

Ketika ibu hamil sering menahan BAB, rektum yang penuh dan membengkak oleh feses keras akan memberikan tekanan fisik langsung pada kandung kemih di depannya, sehingga kandung kemih tidak dapat mengosongkan urine secara sempurna.

Sisa urine yang terperangkap dan menggenang di dalam kandung kemih menjadi media yang sangat ideal bagi bakteri untuk berkembang biak dengan cepat.

Ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi saluran kemih, dan jika infeksi ini dipicu atau diperparah oleh sumbatan feses, bakteri dapat naik ke ginjal dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan yang lebih berat, termasuk memicu kontraksi prematur.

7. Memicu kram perut akibat mengejan berlebihan

Freepik/katemangostar

Dorongan kuat yang timbul setelah menahan BAB sering kali memaksa ibu hamil untuk mengeluarkan tenaga ekstra saat mengejan di toilet. Aktivitas mengejan yang terlalu kuat dan dipaksakan ini meningkatkan tekanan di dalam rongga perut secara mendadak.

Hal ini dapat merangsang otot-otot di sekitar rahim dan menyebabkan kram perut atau nyeri panggul. Secara umum, janin di dalam rahim terlindungi dengan aman oleh cairan ketuban yang meredam tekanan luar.

Namun, mengejan yang sangat ekstrem pada kondisi kehamilan tertentu, seperti ibu hamil dengan riwayat leher rahim lemah atau plasenta previa, sangat berbahaya karena tekanan ekstrem tersebut berisiko memicu flek perdarahan atau merangsang kontraksi rahim sebelum waktunya.

Nah, itu dia beberapa bahaya menahan BAB saat hamil. Dengan banyaknya bahaya yang mengintai, ada baiknya ibu hamil jangan mengabaikan sinyal alami tubuh untuk buang air besar, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article