Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Komplikasi Kehamilan yang Perlu Diwaspadai Ibu Hamil di Tiap Trimester
Magnific/freepic.diller
  • Trimester pertama perlu mewaspadai kehamilan ektopik, keguguran, kelainan bawaan, serta hiperemesis gravidarum yang dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan berat badan.

  • Pada trimester kedua, risiko mencakup diabetes gestasional, preeklampsia, inkompetensi serviks, bayi lahir mati, dan anemia yang dapat memicu persalinan prematur.

  • Menjelang persalinan, ketuban pecah dini, oligohidramnion, masalah plasenta, dan ISK perlu ditangani; riwayat penyakit serta kebiasaan tertentu dapat meningkatkan risiko komplikasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Selama masa kehamilan, berbagai tantangan mungkin akan menghampiri para ibu hamil. Meski merasa sehat dan tak memiliki riwayat medis apa pun, tak selamanya ibu hamil lolos dari beberapa risiko kesehatan.

Karena umumnya, ibu hamil lebih rentan terhadap beberapa kondisi tertentu yang memerlukan perhatian lebih lanjut, terutama kondisi komplikasi kehamilan di tiap-tiap trimesternya. 

Lalu, apa saja komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai ibu hamil di tiap trimester? Yuk, Ma, simak penjelasan Popmama.com berikut ini, ya.


Komplikasi Kehamilan pada Trimester Pertama

Magnific

Trimester pertama merupakan masa awal kehamilan ketika tubuh mama mulai beradaptasi dengan perubahan hormon. Pada periode ini, beberapa kondisi berikut perlu diperhatikan: 

  • Kehamilan ektopik. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim, paling sering di saluran telur atau tuba falopi. Kondisi ini perlu mendapatkan penanganan medis karena kehamilan tidak dapat berkembang secara normal di luar rahim. 

  • Keguguran. Merupakan kehilangan kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu. Kondisi ini paling sering terjadi pada trimester pertama. Beberapa tanda yang perlu Mama perhatikan antara lain perdarahan dari vagina, kram atau nyeri perut, serta keluarnya jaringan atau cairan dari vagina. 

  • Kelainan bawaan. Kelainan bawaan merupakan kondisi ketika bayi mengalami kelainan pada struktur atau fungsi tubuh yang terbentuk selama masa perkembangan di dalam kandungan. Sebagian kelainan mulai terbentuk sejak awal kehamilan sehingga pemeriksaan kehamilan dan skrining sesuai usia kandungan penting dilakukan untuk membantu mendeteksi kondisi ini.

  • Hiperemesis gravidarum (hG). Berbeda dengan mual dan muntah yang umum dialami pada awal kehamilan, HG menyebabkan mual dan muntah yang lebih berat serta berlangsung terus-menerus. Kondisi ini dapat membuat Mama mengalami dehidrasi hingga kehilangan berat badan sehingga membutuhkan penanganan dari dokter. 

Komplikasi Kehamilan pada Trimester Kedua

Pexels/Nataliya Vaitkevich

Memasuki trimester kedua, sebagian gejala awal kehamilan mulai berkurang. Namun, bukan berarti Mama terbebas dari risiko komplikasi. Beberapa kondisi mulai dapat ditemukan atau dideteksi pada periode ini.

  • Diabetes gestasional. Merupakan kondisi ketika kadar gula darah meningkat selama kehamilan. Hormon kehamilan dapat memengaruhi metabolisme dan kestabilan gula darah. Kondisi ini dapat dikendalikan dengan pola makan dan olahraga, hingga pengobatan tertentu jika diperlukan sesuai anjuran dokter.

  • Preeklampsia. Merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi (hipertensi) dan kelebihan protein dalam urine (proteinuria). kondisi ini umumnya mulai muncul pada trimester kedua dan dapat berlanjut hingga enam minggu setelah persalinan. 

  • Inkompetensi serviks. Merupakan kondisi ketika leher rahim (serviks) melemah dan membuka terlalu dini saat masa kehamilan dan  biasanya terjadi pada minggu ke 20 kehamilan.tanda-tanda yang perlu Mama waspadai seperti panggul terasa pegal, keluarnya cairan keputihan yang tidak wajar, dan kram perut.

  • Stillbirth (bayi lahir mati). Stillbirth merupakan kondisi ketika bayi meninggal setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu. Kondisi ini terbagi menjadi tiga kategori berdasarkan usia kehamilan, seperti.stillbirth dini pada usia 20–27 minggu, stillbirth terlambat pada 28–36 minggu, dan stillbirth pascamatur/postmatur mulai usia 37 minggu hingga persalinan. 

  • Anemia. Anemia merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah sehingga pasokan oksigen ke jaringan tubuh tidak mencukupi. Pada ibu hamil, salah satu penyebab yang umum adalah kekurangan zat besi.Kondisi ini dapat membuat Mama mengalami kelelahan, lemas, pusing, pucat, sesak napas, hingga pingsan. Jika tidak ditangani, anemia selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko persalinan prematur dan berat badan lahir rendah pada bayi. 

Komplikasi Kehamilan pada Trimester Ketiga

Magnific/Yanalya

Saat usia kehamilan semakin mendekati persalinan, Mama juga perlu memperhatikan beberapa komplikasi yang dapat memengaruhi kondisi Mama maupun si Kecil.

  • Ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini (KPD) terjadi ketika kantong ketuban pecah sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur. Mama mungkin menyadari KPD ketika ada cairan yang keluar dari vagina, baik hanya menetes, mengalir, maupun keluar cukup banyak seperti saat buang air kecil.

  • Gangguan cairan ketuban (oligohidramnion). Merupakan kondisi ketika jumlah cairan ketuban terlalu sedikit. Kondisi ini termasuk salah satu gangguan cairan ketuban yang dapat terjadi selama kehamilan. Jumlah cairan ketuban yang tidak mencukupi dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi lain, termasuk persalinan prematur.

  • Plasenta previa/plasenta akreta. Masalah pada plasenta, seperti plasenta previa atau plasenta akreta, dapat menyebabkan perdarahan selama kehamilan hingga menjelang persalinan. Kondisi ini perlu mendapatkan penanganan dari tenaga medis dan pada beberapa kasus persalinan dapat dilakukan melalui operasi caesar. 

  • Infeksi saluran kemih (ISK). Merupakan salah satu jenis infeksi yang dapat mempengaruhi kehamilan. ISK biasanya disebabkan oleh adanya bakteri pada saluran kemih dan kandung kemih. Kondisi ini dapat menyebabkan risiko infeksi ginjal dan kelahiran prematur pada ibu hamil apabila tidak segera diobati.

Perlu diingat jika meski dibagi berdasarkan trimester, bukan berarti komplikasi kehamilan hanya benar-benar dapat terjadi pada trimester tersebut. Beberapa kondisi bisa terjadi di lebih dari satu tahap kehamilan.


Ibu Hamil yang Berisiko Mengalami Komplikasi Kehamilan

Magnific/pch.vector

Mama, sejatinya komplikasi kehamilan bisa saja menyerang siapapun. Meski bisa saja menyerang ibu hamil dengan kondisi sehat, tetapi ibu hamil yang memiliki riwayat penyakit tertentu lebih berpotensi mengalaminya.

Beberapa riwayat penyakit tersebut seperti kanker, kencing manis, tekanan darah tinggi, masalah ginjal, Infeksi Menular Seksual (IMS), anemia, dan epilepsi. Ibu hamil dengan kondisi ini diketahui memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kehamilan.

Bukan hanya riwayat penyakit, kondisi atau kebiasaan tertentu juga dapat membuat kehamilan lebih berisiko. Beberapa di antaranya seperti: 

  • Berat badan yang berlebih.

  • Mengalami gangguan makan, seperti anoreksia.

  • Hamil di atas 35 tahun.

  • Hamil di bawah 20 tahun. 

  • Memiliki kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman beralkohol.

  • Menggunakan obat-obatan terlarang. 

  • Mengandung lebih dari satu bayi.

  • Memiliki riwayat persalinan prematur. 

  • Pernah mengalami keguguran.

Meski memiliki salah satu faktor di atas, bukan berarti Mama pasti akan mengalami komplikasi kehamilan. Namun, kondisi tersebut membuat Mama perlu lebih rutin memantau kesehatan selama kehamilan dan berkonsultasi dengan dokter, ya.

Itu tadi informasi mengenai beberapa komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai ibu hamil di tiap trimester. Semoga informasi ini bermanfaat untuk Mama.


Curated For You

Editorial Team

Related Article