TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Ada Ruam, Bayi Berusia 4 Bulan Ini Meninggal Akibat Meningitis

Waspada, penyakit meningitis bisa menyerang anak-anak!

www.people.com

Sepasang suami istri Virginia sedang berduka atas kematian putra mereka bernama Killy Schultz yang masih berusia 4 bulan. Menurut laporan, putra dari pasangan ini meninggal pada 30 Juni hanya satu hari setelah bayi menunjukkan gejala-gejala meningitis pertamanya.

Killy Schultz mengalami ruam dan demam setelah dirinya kembali dari tempat penitipan anak. Alex Dempsey sebagai seorang ibu pasti khawatir kalau putranya mengidap meningitis dari anak yang belum divaksinasi selama di tempat penitipan.

Sebagai seorang ibu, dirinya langsung memberikan putranya obat Tylenol karena merasa ada tanda-tanda kemungkinan terkena meningitis. Perlu Mama ketahui nih kalau Tylenol adalah analgesik sebagai obat penghilang rasa sakit dan nyeri. Namun, setelah diberikan Tylenol ternyata tidak membantu rasa sakitnya sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit St. Mary di Richmond agar segera bisa ditangani dokter.

Tidak lama setelah itu, detak jantung Schultz semakin menurun drastis dan bocah itu pun akhirnya meninggal.  

Proses berduka dan kehilangan itu tidak mudah

www.people.com

Kehilangan seseorang yang dicintai itu memang tidak mudah ya, Ma.

Sama sepertinya kedua orangtua dari Schultz, mereka masih belum bisa menerima kepergian dari putranya akibat meningitis. Padahal kematian ini datang beberapa hari setelah Schultz menerima vaksinasi.

Penyakit meningitis memang bisa terjadi pada siapa saja, termasuk anak-anak. Ini dikarenakan anak-anak masih belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik. Untuk itu, sebagai orangtua perlu memberikan asupan gizi yang baik ke Si Kecil agar sistem imun tubuhnya bisa bekerja dengan baik.

Mengenal penyakit meningitis

Unsplash/Zhen Hu

Perlu Mama ketahui nih kalau penyakit meningitis ini adalah peradangan selaput pelindung yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang. Penyakit meningitis sendiri memang berkembang dari segala lapisan usia, namun bayi berada pada peningkatan risiko yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya.

Sebenarnya meningitis sendiri ini dibagi menjadi 2 nih, Ma. Ada meningitis yang berasal dari bakterialis dan meningitis virus, namun pada dasarnya ini sama-sama berbahaya. Untuk meningitis bakterialis sendiri disebabkan oleh beberapa bakteri mulai dari Meningococcal, Pneumococcal, Haemophilus influenzae B (HiB), Group B Streptococcal (GBS), E. Coli, hingga Listeria.

Sementara untuk meningitis virus disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh. Biasanya virus ini tersebar melalui udara yang berpolusi. Resiko terjangkitnya penyakit yang satu ini juga bisa disebabkan karena kurangnya daya tahan tubuh, sehingga mudah sekali terinfeksi lewat bagian tubuh seperti bekas luka. Infeksi ini tanpa disadari akan menyebar hingga sampai ke selaput otak.

Gejala meningitis yang terjadi pada bayi

Unsplash/rawpixel

Penyakit meningitis memang bisa dikatakan sebagai penyakit yang serius ya, Ma. Mama mungkin akan merasa kesulitan dalam mendeteksi gejala-gejala meningitis yang dialami Si Kecil. Sebagai orangtua Mama perlu mencari tahu kalau Si Kecil memiliki gejala-gejala meningitis. Mengingat dirinya yang belum bisa berbicara dan mengucapkan kata keluhan saat sedang merasakan sakit.

Untuk itu, Mama perlu memahami adanya tanda-tanda dari Si Kecil yang mengalami penyakit meningitis. Tanda-tanda yang mudah Mama sadari dari Si Kecil seperti mengalami demam, mulai kejang-kejang hingga penurunan kesadaran.

Selain gejala-gejala itu, ada beberapa tanda lain yang bisa Mama pelajari. Si Kecil akan mulai menangis dengan nada tinggi, lebih sering mengalami menolak saat diberi makan, kaki dan tangannya teras dingin, kulit terlihat pucat hingga selalu mengantuk dan sulit sekali untuk dibangunkan.

Jika Si Kecil mulai ada tanda-tanda seperti ini, ada baiknya Mama mulai berdiskusi dan mengajak Si Kecil untuk pergi ke dokter ya. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan bisa terjadi pada Si Kecil.

The Latest