TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Fakta Spina Bifida yang Dapat Ganggu Fisik & Intelektual Anak

Ketahui jenis, penyebab, gejala, pencegahan, dan pengobatan spina bifida

Pixabay.com/fancycrave1

Setiap orangtua pasti ingin anaknya dapat lahir dengan sehat dan tidak mengalami cacat.

Pasalnya anak yang sehat dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dan dapat membanggakan.

Namun, sayangnya terdapat gangguan yang mungkin dapat terjadi pada bayi sejak dari dalam kandungan, salah satunya adalah spina bifida.

Kondisi ini adalah cacat lahir yang ditandai dengan terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan saraf tulang belakang bayi.

Mengingat bahaya spina bifida yang dapat mengancam fisik dan intelektual anak, berikut Popmama.com telah merangkum 5 fakta pentingnya dari laman Mayo Clinic.

1. Apa itu spina bifida?

handsonotrehab.com

Spina bifida adalah kelainan bawaan lahir yang ditandai terbentuknya celah atau defek pada tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi. Kelainan ini bisa muncul di bagian mana saja pada tulang belakang jika tabung saraf bayi tidak tertutup sempurna, sehingga menyebabkan kerusakan pada saraf tulang belakang dan saraf-saraf lain.

Pada kondisi normal, embrio membentuk tabung saraf yang berkembang menjadi tulang belakang dan sistem saraf.

Jika proses ini tidak berjalan lancar, beberapa ruas tulang belakang tidak bisa menutup dengan sempurna sehingga menciptakan celah.

Bila celah mencapai sebagian jaringan kulit seperti pada kulit di bagian punggung bawah, cairan otak yang mengelilingi sumsum tulang belakang bisa mendorongnya sehingga terbentuk kantung yang bisa terlihat di punggung bawah bayi.

Ada beberapa jenis spina bifida yang mungkin saja dialami oleh anak.

Berikut tiga jenis spina bifida berdasarkan lokasi serta ukuran celah yang terbentuk:

  • Spina Bifida Okulta

Jenis ini termasuk paling umum dan ringan karena hanya menyebabkan terbentuknya celah kecil di antara ruas tulang punggung dan tidak memengaruhi saraf.

Pengidap spina bifida jenis ini biasanya hanya mengalami gejala ringan atau bahkan tanpa gejala.

  • Meningokel

Jenis ini termasuk langka karena menyebabkan kondisi yang lebih parah dibanding spina bifida okulta.

Pengidap spina bifida jenis ini ditandai dengan terbentuknya pembukaan yang cukup besar sehingga selaput pelindung sumsum tulang belakang mencuat keluar dari beberapa celah di tulang punggung dan membentuk kantung.

  • Mielomeningokel

Jenis ini termasuk yang paling serius karena ditandai dengan terbentuknya kantung berisi selaput dan sumsum tulang belakang yang menonjol keluar pada daerah punggung.

Pada kasus yang berat, kantung ini tidak memiliki kulit sehingga si Kecil rentan mengalami infeksi yang bisa mengancam jiwa.

2. Penyebab spina bifida pada anak

PIxabay/smpratt90

Penyebab di balik spina bifida belum diketahui secara pasti, namun diduga ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecacatan ini. 

Di antaranya adalah:

  • Kekurangan asam folat

Memiliki kadar asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko bayi lahir dengan spina bifida.

Sebaliknya, defisiensi asam folat merupakan faktor pemicu yang paling signifikan dalam kasus spina bifida serta jenis kecacatan tabung saraf lainnya.

  • Faktor keturunan

Orangtua yang pernah memiliki anak dengan spina bifida mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki bayi dengan kelainan yang sama.

  • Jenis kelamin

Kondisi ini lebih sering dialami oleh bayi perempuan.

  • Obat-obatan tertentu

Saat Mama hamil, hindari obat-obatan yang mengandung asam valproat dan carbamazepine yang digunakan untuk epilepsi atau gangguan mental, seperti gangguan bipolar.

  • Diabetes

Mama hamil yang mengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan spina bifida.

  • Obesitas

Obesitas pada masa sebelum kehamilan akan meningkatkan risiko Mama untuk memiliki bayi dengan kecacatan tabung saraf, termasuk spina bifida.

3. Gejala yang dialami oleh penderita spina bifida

Freepik/phduet

Tingkat keparahan gejala yang dialami tiap penderita spina bifida bisa bermacam-macam, tergantung lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang.

Selain lokasi, tingkat keparahan bergantung juga pada bagian apa saja yang tidak menutup dengan sempurna.

Terdapat beragam gejala yang mungkin disebabkan oleh spina bifida. 

Secara umum, gejala yang dapat timbul adalah:

  • Gangguan mobilitas

Kondisi ini ditandai dengan tubuh bagian bawah yang mengalami kelemahan otot atau bahkan lumpuh.

  • Gangguan saluran kemih dan pencernaan

Penderita spina bifida umumnya mengalami inkontinensia urine atau inkontinensia tinja karena adanya gangguan pada saraf yang mengatur saluran kemih dan pencernaan.

  • Hidrosefalus

Kondisi di mana terjadi penumpukan cairan otak sehingga dapat menyebabkan kejang dan gangguan penglihatan.

Penderita spina bifida juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami meningitis serta gangguan dalam belajar di kemudian hari.

Contoh gangguan dalam proses belajar yang mungkin terjadi meliputi gangguan bahasa, menghitung, serta sulit konsentrasi.

4. Pencegahan spina bifida sejak dini

Freepik

Langkah utama untuk menghindari terjadinya spina bifida adalah dengan mencukupi kebutuhan asam folat, terutama selama masa kehamilan.

Konsumsi zat ini umumnya dianjurkan sejak sebelum masa kehamilan. Dosis asam folat yang disarankan adalah sebanyak 400 mikrogram per hari.

Selain ibu hamil dan perempuan yang sedang merencanakan kehamilan, perempuan pada usia subur juga dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen asam folat.

Zat ini juga dapat diperoleh secara alami dari makanan, seperti:

  • Bayam,
  • kuning telur,
  • kacang-kacangan,
  • brokoli.

5. Cara mengatasi spina bifida pada anak

Pixabay/skeeze

Spina bifida membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung pada jenis spina bifida yang dialami, tingkat keparahan gejala, serta kondisi pasien.

Operasi merupakan pilihan utama dalam menangani kondisi spina bifida. Tindakan operasi umumnya dilakukan segera setelah sang Bayi lahir, dalam waktu 1-2 hari.

Tujuannya adalah untuk menutup celah yang terbentuk sekaligus menangani hidrosefalus.

Selain penanganan dari dokter, merawat anak yang terlahir dengan spina bifida membutuhkan perhatian ekstra dari orangtua.

Ini dia hal-hal yang perlu diperhatikan:

Aktivitas fisik

Bayi yang terlahir dengan kondisi ini akan bergerak dan beraktivitas dengan cara yang berbeda.

Butuh bantuan ahli terapis fisik yang bekerja sama dengan orangtua untuk mengajari bagaimana melatih kedua kaki dan tangan bayi.

Baik untuk meningkatkan kekuatan, kelentukan (lentur), maupun gerakan bayi. Aktivitas fisik sangat penting untuk bayi yang memiliki kondisi seperti ini.

Lakukan latihan yang sesuai dengan rekomendasi dari ahli terapis fisik.

Merawat kulit bayi

Bayi yang mengidap spina bifida juga rentan dengan kulit lecet akibat goresan benda di sekitarnya.

Jadi, orangtua harus memeriksa kulit bayi setiap saat, tidak membiarkannya terlalu lama berjemur di bawah mahatari, atau pastikan kehangatan air jika ingin memandikannya.

Selain itu, dilansir dari laman CDC, sebagian besar bayi yang lahir dengan kondisi ini mengalami alergi terhadap benda atau produk yang memiliki kandungan lateks atau karet alami.

Artinya, sebagai orangtua sebaiknya Mama dapat menjauhkan bayi dari benda-benda tersebut.

Perhatikan pula dengan penggunaan aksesoris seperti kalung atau gelang yang dapat melukai kulitnya.

Kesehatan

Seperti bayi pada umumnya, bayi dengan spina bifida juga membutuhkan pelayanan kesehatan seperti imunisasi guna meningkatkan kekebalan tubuhnya.

Bayi juga membutuhkan perawatan khusus, seperti:

  • Spesialis ortopedi, yang akan memeriksa kesehatan otot dan tulang bayi.
  • Spesialis urologi, yang akan memeriksa kesehatan ginjal dan kandung kemih bayi.
  • Spesialis bedah saraf, yang akan memeriksa perkembangan otak dan tulang belakang bayi.

Nah, itulah beberapa fakta mengenai spina bifida, cacat tulang belakang yang dapat mengganggu fisik dan intelektual anak.

Sebelum terjadi, mari cegah sejak dini dengan ruting mengonsumsi asam folat semenjak hamil ya, Ma.

Baca juga:

The Latest