TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

6 Jenis Tangisan Bayi Baru Lahir. Tangis Lapar dan Sakit Beda, Lho!

Panduan ini bikin Mama tahu apakah si Kecil lapar, sakit, mengantuk, atau sekadar cari perhatian

Pixabay/joffi

Tangisan adalah satu-satunya bentuk komunikasi bayi yang baru lahir. Mama bingung mengapa si Kecil menangis? 

Menurut buku What To Expect: First Year karya Heidi Murkoff, setiap tangisan bayi berbeda nada dan iramanya. Tangisan adalah kata-kata yang diucapkan si Bayi untuk dipahami orang dewasa di sekitarnya. 

Jangan khawatir, coba perhatikan tanda-tanda berikut ini. Mama bakal tahu apa yang ingin si Bayi "sampaikan".

1. "Aku lapar"

Pixabay/Seeseehundhund

Biasanya ditandai dengan tangisan-tangisan pendek dan bernada rendah, yang naik dan turun dengan teratur.

Tangisan seperti ini juga diikuti oleh tanda-tanda si Kecil lapar: seperti mengecap-ngecapkan bibirnya, mencari-cari puting, atau mengisap jari.

Sudah pasti ini si Kecil ingin bilang, "Mama aku lapar. Cepat mana susuku!" Saran Popmama.com, segeralah susui si Kecil sebab membiarkannya menangis terlalu lama bakal bikin perutnya kembung karena ia kebanyakan "makan angin". 

2. "Aku kesakitan"

Pixabay/Myriams Fotos

Tangisan ini timbul secara tiba-tiba, akibat dari sesuatu, contohnya saat disuntik. Selain itu tangisan seperti ini juga kencang, terasa memekakkan telinga, dan memiliki durasi agak lama.

Di antara tangisan, terdapat beberapa detik jeda napas yang juga agak lama, seperti kehabisan napas.

Segera periksa kondisi si Bayi mungkin ia kesakitan misalnya digigit serangga, atau kulitnya terluka. Mungkin juga ia menangis seperti ini karena perutnya sakit atau hal lain yang membuat tubuhnya tidak nyaman. 

3. "Aku bosan"

Pixabay/Riala

Tangisan ini diawali dengan suara seperti "guuuuu", seperti saat bayi ingin berinteraksi  dengan orang lain. Kemudian, tangisnya berubah menjadi kesal, seperti saat keinginannya tak terpenuhi ("mengapa aku dicueki?"), diselingi dengan rengekan.

Tangisan kebosanan ini akan berhenti saat bayi diangkat atau diajak mengobrol. Mama harus ingat, si Bayi kan perlu juga hiburan. Jadi, ia akan sangat senang jika digendong atau diajak bermain. Saat diajak bermain, bayi bisa belajar banyak hal, lho. Coba ajak ia tertawa, mengobrol, atau menyanyi. Ia akan segera belajar juga untuk melakukan hal yang sama. Seru, kan?

4. "Aku kelelahan," atau "aku tidak nyaman"

Pixabay/Ben Kerckx

Mama mungkin beberapa kali lalai memeriksa kondisi popok bayi. Jika ini terjadi, tidak heran jika ia menangis kesal karenanya. Jika mendengar tangisan rengekan sengau yang berlangsung secara terus menerus dan semakin meningkat, biasanya adalah tanda bahwa bayi merasa tak nyaman ("aku mau tidur!" atau "Mama, ganti popokku").

Tangisan dengan pola rengekan nada rendah dan diiringi sikap menolak, misalnya memalingkan wajah atau tubuh, bisa berarti bayi ingin bilang bahwa ia lelah dan tidak ingin diganggu lagi. Hal ini biasanya terjadi jika bayi terlalu banyak mendapat stimulasi, misalnya karena diajak ke tempat ramai dan semua orang mengajaknya bicara atau bermain.

Periksa kondisi bayi dan segeralah tolong dirinya agar lebih nyaman. 

5. "Aku tidak enak badan"

Pixabay/Collusor

Tangisan yang terjadi saat si Kecil tidak enak badan biasanya berlangsung dengan lemah dan sengau. Nadanya lebih rendah dibandingkan dengan tangisan kesakitan mendadak atau kelelahan, seolah bayi tidak memiliki energi untuk menangis lebih kencang lagi.

Tangisan seperti ini biasanya diikuti oleh tanda-tanda perubahan dalam perilaku bayi seperti tidak mau makan, atau demam. Nah, coba perhatikan bagaimana bayi Mama menangis! Periksa kondisinya dan segeralah bertindak menolongnya. 

Jika si Kecil demam, kompres dirinya. Jika ia tidak mau minum susu, tetaplah berusaha menyusuinya sebab Mama harus menghindari ia mengalami dehidrasi karena menangis terlalu lama sementara ia kekurangan asupan cairan. 

6. "Mama, aku kena kolik"

pixabay.com/patriciaalexandre

Jika si Kecil menangis dengan pola tangisan berteriak dan diikuti gerakan menarik kaki ke arah perut, bisa jadi ia kena kolik. Tangisan karena kolik bisa berlangsung berjam-jam dan biasanya terjadi di saat sore menjelang malam hari. 

Tangis karena kolik biasa dialami bayi di usia 6 minggu dan biasanya akan mereda begitu bayi memasuki usia 3 atau 4 bulan. 

Mama bisa meredakan tangisan karena kolik dengan cara menidurkan bayi dalam posisi tengkurap sehingga perutnya yang sakit terganjal. Mama bisa juga membantu mengeluarkan gas yang terperangkap di saluran pencernaan bayi dengan mengusap perutnya dengan tangan mama yang hangat atau menekuk lututnya hingga ia buang angin. Biasanya, setelah gas di dalam perut keluar, bayi akan tenang dan tertidur.

Itulah jenis-jenis tangisan bayi yang harus Mama pelajari. Jangan gugup lagi ya, Ma!

Baca juga: 

The Latest