TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pentingnya Kolaborasi Menuju Generasi Emas Indonesia Tahun 2045

Indonesia memerlukan kerja sama berbagai pihak untuk mewujudkan generasi emas pada 2045 mendatang

Freepik/jcomp

Tahun 2045 digadang-gadang akan menjadi tahun generasi emas bagi negara Indonesia. Tepat di usia yang ke-100 ini, Indonesia mendapatkan bonus demografi yang mana 70 persen penduduk adalah kategori usia produktif atau berusia 15-64 tahun.

Sementara 30 persen lainnya merupakan golongan tidak produktif atau berumur di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun.

Bonus demografi ini juga menjadi harapan untuk mencapai target Indonesia akan menjadi negara maju di tahun 2045. Tak hanya sebagai negara maju, bahkan sudah setara dengan negara-negara adidaya lainnya. Namun, untuk mewujudkan generasi emas tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ada banyak tantangan yang harus dilalui oleh bangsa Indonesia. Terlebih, hampir dua tahun lalu pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia (termasuk Indonesia) yang memperparah beberapa aspek kehidupan.

Ini menjadi tanggung jawab bersama dan perlunya saling bergandengan tangan guna mempersiapkan generasi emas tahun 2045 mendatang.

Popmama.com sampaikan ulasan mengenai pentingnyakolaborasi menuju generasi emas Indonesia tahun 2045, sebagai berikut:

Pandemi Covid-19 Memperburuk Akses Pendidikan dan Nutrisi Anak

Freepik/scphotograph

Dua tahun lalu, dunia mengalami masa-masa terpuruk akibat kemunculan virus corona yang berasal dari hewan kelelawar. World Health Organization (WHO) pertama kali menemukan coronavirus disease pertama kali di Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Tak lama, virus ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Adanya pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan dan semua kalangan usia. UNESCO menyebutkan 80 juta anak Indonesia terdampak akses pendidikan, gizi, kesehatan hingga ketahanan ekonomi.

Misalnya saja anak kesulitan mendapatkan materi pembelajaran yang optimal karena terkendala perangkat, seperti gawai atau laptop, kuota internet, hingga sinyal yang tidak memadai. Pandemi Covid-19 yang berdampak pada ekonomi keluarga juga mempengaruhi asupan gizi si Kecil. Ia jadi tidak memperoleh gizi yang berkualitas.

Menurut Septi Peni Wulandani selaku Pemerhati ibu dan anak, Founder School of Life dan Ibu Profesional mengatakan akses pendidikan dan nutrisi baik sangat berdampak terhadap Sumber Daya Manusia (SDM) di masa depan. Ia mengungkapkan hal tersebut membuat anak memiliki mental, pemikiran dan fisik yang lemah. Kondisi ini akan menyebabkan Indonesia semakin jauh tertinggal dari negara-negara lain.

Megatrend pada Tahun 2045, Indonesia Butuh Empat Pilar Ini

Popmama.com/Ayesha Puri

Pada acara konferensi pers bertajuk “Tunjuk Tangan untuk Generasi Maju Indonesia” yang dilaksanakan secara daring, Septi Peni Wulandani memaparkan sepuluh megatrend dunia yang akan terjadi pada tahun 2045.

Sepuluh megatrend tersebut antara lain demografi dunia, urbanisasi global, perdagangan internasional, keuangan global, kelas pendapatan menengah, persaingan Sumber Daya Alam (SDA), perubahan iklim, kemajuan teknologi, perubahan geografis, dan perubahan geoekonomi.

Untuk itu, Peni (sapaan akrabnya) mengungkapkan ada empat pilar yang dibutuhkan guna membangun dan mewujudkan generasi emas. Keempat pilar tersebut, yaitu:

  1. Pembangunan manusia serta penguasaan ilmu dan pengetahuan & teknologi.
  2. Pembangunan ekonomi berkelanjutan (sustainable).
  3. Pemerataan pembangunan.
  4. Pemantapan ketahanan nasional dan tata kelola kepemerintahan.

Selain itu, Septi Peni Wulandani mengungkapkan ada tiga poin persiapan yang harus dilakukan Mama, Papa, stakeholder, perusahaan hingga masyarakat. Ketiga poin tersebut, sebagai berikut:

  1. Fokus pada kualitas gizi, kesehatan dan pendidikan anak usia dini.
  2. Kolaborasi dari berbagai pihak.
  3. Dukungan kolektif masyarakat dalam memberikan akses edukasi dan nutrisi.

Kolaborasi ABCG Jadi Kunci Dukung Generasi Emas 2045

Freepik/rawpixel.com

Terciptanya generasi emas tahun 2045 merupakan tugas dan tanggung jawab semua. Mama dan Papa, pemerintah serta perusahaan harus berkonsentrasi penuh dan memberikan perhatian terhadap pertumbuhan anak-anak saat ini.

Lantaran 9 dari 10 anak masih kekurangan akses nutrisi dan edukasi. Septi Peni Wulandani berpendapat ini bukan angka yang kecil dan bukan sekadar masalah sepele. Jika dibiarkan berdampak fatal. Menurut Septi Peni Wulandani, kerja sama ABCG menjadi kunci terwujudnya generasi emas.  ABCG adalah Academics (akademisi), Business, Community, dan Government.

“Sinergi ABCG menciptakan ekosistem yang positif sehingga membuka peluang besar tercapainya generasi emas pada tahun 2045 semakin di depan mata. Oleh karena itu, perlunya saling bergandengan bersama-sama untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut,” tambahnya.

Arif Mujahidin selaku Corporate Communications Director Danone Indonesia setuju dengan pernyataan Septi Peni Wulandani bahwa perlunya kolaborasi untuk mewujudkan generasi emas sekaligus menyelesaikan masalah yang timbul akibat pandemi Covid-19.

“Pada tahun 2045 bertepatan Indonesia berusia 100 tahun yang mana tahun tersebut sekaligus menentukan bagaimana kondisi Indonesia ke depannya. Meskipun masih lama, namun harus dipersiapkan sejak saat ini,” ungkapnya.

Arif Mujahidin menuturkan sebagai perusahaan yang sudah membersamai anak-anak Indonesia sejak 68 tahun lalu, SGM mendukung cita-cita Indonesia untuk membentuk generasi emas. Ia berpendapat bahwa kemampuan dan kemauan harus saling melengkapi untuk mendukung tumbuh-kembang anak secara optimal.

“Ada anak yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki kemauan, dan sebaliknya. SGM hadir untuk bahu-membahu dan bekerja sama untuk mengelaborasi hal tersebut guna menunjang anak Indonesia mencapai cita-citanya,” tambahnya.

Elaborasi yang dihadirkan SGM, yakni memberikan akses edukasi dan nutrisi guna mendukung kemajuan anak Indonesia berupa physical benefit. Setiap Mama membeli produk SGM maka secara tidak langsung memberikan anak lainnya untuk merasakan produk SGM seperti yang Mama berikan kepada si Kecil.

Gerakan Tunjuk Tangan Jadi Stimulus Mewujudkan Generasi Tangguh

Dok. SGM Eksplor

Tak hanya memberikan dukungan physical benefit saja,  untuk mendukung tercapainya generasi emas 2045 maka SGM mengadakan kampanye gerakan “Tunjuk Tangan Generasi Maju.” Kegiatan ini bertujuan guna membentuk anak-anak yang tangguh untuk menyongsong masa depan gemilang.

“Melalui gerakan ayo tunjuk tangan ini SGM ingin memastikan bahwa setiap anak memiliki potensi dan hak yang sama untuk terhadap akses edukasi dan nutrisi,” jelas Shiera Syabila Maulidya  selaku Senior Brand Manager SGM Eksplor.

Menurut Septi Peni Wulandani gerakan “Tunjuk Tangan Generasi Maju” menyimpan benefit bagi si Kecil lho, Ma. Salah satunya adalah membuat anak mempunyai rasa percaya diri yang tinggi. Dengan rasa percaya diri yang tinggi maka anak menjadi lebih aktif dan tanggap saat di sekolah. Lebih lanjut, keberanian ini akan berdampak untuk anak mau berkontribusi untuk negeri.

Demikian informasi tentang pentingnyakolaborasi menuju generasi emas Indonesia tahun 2045. Pastikan si Kecil mendapat asupan bernutrisi serta lingkungan yang positif untuk mendukung tumbuh-kembang secara maksimal.

Baca Juga:

The Latest