TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

6 Dampak Penggunaan Media Sosial pada Remaja, Jangan Disepelekan

Dampak penggunaan media sosial pada remaja bagai pedang bermata dua.

Freepik/DCStudio

Saat ini media sosial tidak hanya digunakan oleh orang dewasa, melainkan juga oleh remaja. Sebagian besar di antaranya adalah pengguna Instagram dan TikTok yang aktif, bukan hanya sebagai penonton melainkan juga sebagai kreator. 

Seiring dengan penggunaan media sosial pada remaja yang semakin meningkat, tentu saja ada dampak di baliknya.

Para ahli mengkhawatirkan dampak negatif media sosial pada remaja dikarenakan pola perilaku yang berubah. Lantas, seperti apakah dampak penggunaan media sosial pada remaja?

Berikut ini Popmama.com merangkumnya, dilansir dari Child Mind Institute:

1. Berkurangnya komunikasi langsung

Freepik/pvproduction

Saat anak tidak mengerjakan tugas-tugas sekolahnya, tak jarang mereka mengalihkan perhatiannya dengan bermain media sosial. Mereka mengirim pesan teks, menonton dan membagikan konten, dan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya di dunia maya. Mereka menyibukkan diri sembari berkomunikasi sambil melihat layar, bukan dengan orang lain secara langsung.

Karena inilah, anak-anak kehilangan keterampilan sosial yang penting. Pada akhirnya, anak-anak kita mengalami kesulitan menerjemahkan bahasa tubuh, ekspresi wajah, bahkan jenis reaksi vokal karena terbiasa dengan komunikasi verbal saja.

2. Ketidakmampuan mengelola relasi secara langsung dengan orang lain

Freepik/pvproductions

Mempelajari cara berteman adalah bagian dari perkembangan anak dan ini membutuhkan kemampuan untuk mengambil risiko tertentu. Ketika ada masalah yang harus dihadapi, anak perlu belajar bagaimana jujur tentang perasaannya dan menyimak apa yang dikatakan orang lain. 

Namun, ketika pertemanan dilakukan secara online dan melalui pesan teks, anak melewatkan banyak aspek komunikasi langsung yang paling pribadi. Merek mungkin tidak mendengar dan melihat bagaimana dampak perkataannya pada orang lain ketika menyelesaikan masalah lewat pesan teks. 

Kemampuan bernegosiasi ini menjadi lebih berisiko seiring bertambahnya usia anak dan seiring dengan perkembangan hubungan romantis dan pekerjaan.

3. Perundungan

Freepik/Burdun

Bahaya besar lainnya yang datang dari dampak penggunaan media sosial adalah anak berpotensi menjadi lebih mudah kejam pada orang lain. Mereka mengirim pesan dari balik layar dan menjadi lebih berani. Padahal belum tentu mereka seberani itu ketika dihadapkan langsung di dunia nyata. Inilah yang memicu bibit-bibit perundungan dan penipuan.

Faktanya, anak perempuan yang tampak tidak suka berselisih di kehidupan nyata, justru lebih ekstrem menjadi pelaku perundungan di dunia maya.

4. Citra diri yang buruk

Freepik/Vkstudio

Di usia remaja, terutama anak perempuan, mulai mengembangkan pemahaman tentang citra diri, seperti apa mereka ingin dilihat oleh orang lain. Mereka sedang mencari identitas diri sehingga lebih rentan terhadap apa yang menurut mereka negatif. Padahal penerimaan teman sebaya adalah hal yang besar bagi mereka.

Ketika anak membandingkan diri dengan orang lain yang dilihatnya di media sosial, muncul rasa tidak aman dan perasaan buruk tentang dirinya sendiri. Tak jarang, perasaan-perasaan negatif ini akhirnya membuat anak terdorong merendahkan orang lain agar ia merasa lebih baik.

5. Stalking

Freepik/Rawpixel-com

Perubahan besar lainnya yang datang dari bermedia sosial adalah bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian. Pada anak remaja, mereka mengunggah konten yang terkadang memuat data-data pribadi tanpa disadabari. Mereka tak hanya terhubung dengan keluarga dan teman-teman yang dikenalnya. Melainkan juga dengan orang-orang asing yang mungkin saja menyimpan berbagai tujuan. 

Anak bisa menjadi korban stalking atau penguntitan, atau bahkan menjadi pelakunya. Hal ini menimbulkan kecemasan pada anak yang menjadi korban stalking. Oleh karena itu, ingatkan anak untuk tidak mudah membagikan data-data pribadi, seperti nama sekolah, alamat, nomor handphone, atau pun foto-foto yang pribadi, kepada siapapun di dunia maya.

6. Kesepian

Freepik

Media sosial memudahkan kita untuk terkoneksi satu sama lain, bahkan dengan cara yang mungkin tidak kita bayangkan sebelumnya. Namun, ironisnya manusia masa kini sangat mudah merasa kesepian di tengah semua hiperkoneksi itu. 

Media sosial memicu kita merespons berbagai hal dengan cukup cepat. Ketika anak tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan, mereka dengan mudah akan reaktif, merasa kesepian, dan cemas. 

Hal terbaik yang dapat dilakukan orangtua untuk meminimalkan risiko terkait media sosial pada remaja adalah dengan memberikan contoh pada anak. Berikan contoh tentang seperti apa menggunakan media sosial yang sehat sehingga anak memiliki contoh nyata. Terapkan jam penggunaan media sosial dan area bebas teknologi di rumah, misalnya di meja makan saat makan malam bersama keluarga. 

Selain itu, ajak anak untuk banyak beraktivitas fisik atau aktivitas non-teknologi, seperti bermain musik dan berolahraga.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi mama dalam mencegah dampak penggunaan media sosial pada remaja.

Baca juga:

The Latest