TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

KPAI: Anak Harus Mendapat Perlindungan Terutama di Rumah Sendiri

Anak berhak mendapatkan rasa aman dan mendapat perlindungan dimanapun

Freepik

Senin, 26/03 KPAI menggelar konferensi pers di kantor pusat KPAI terkait berita bayi Calista yang meninggal dunia setelah dianiaya oleh ibu kandungnya.

KPAI menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggal dunia ananda C pada Minggu 25 Maret 2018 di Karawang. Ananda C mengalami kekerasan beruntun yang diduga dilakukan oleh ibu kandungnya. Pilu dan nestapa kejadian ini bagi kabar anak di Indonesia.

Terjadi 23 kasus kekerasan pada anak Menurut KPAI

Popmama.com/Novy Agrina

Dalam kurun waktu Januari-Maret 2018 tercatat setidaknya 23 kasus anak mengalami kekerasan mulai dari mengalami kekerasan fisik, dipukul berulang, disekap, disetrika, diapsung, disulut rokok, ditanam hidup-hidup, bersama-sama, menjatuhkan diri, hingga diracun.

Ditemui di kantor KPAI, Rita Pranawati, MA, Komisioner Bidang Keluarga dan Pengasuhan mengatakan, "Sebenarnya yang paling sering dilakukan itu nyubit, ngejewer, dan mukul, itu diakui oleh ibu-ibu di kelas parenting yang saya terlibat di dalamnya."

Tercatat 16 anak meninggal di tangan orang tua dan orang terdekatnya. Belum lagi kasus lainnya yang belum tercatat karena tidak dilaporkan ke KPAI.

Ketidakharmonisan keluarga memang menjadi penyulut terjadinya kekerasan pada anak di dalam keluarga.

Orangtua harus menyadari anak adalah titipan Tuhan

Freepik/senivpetro

KPAI mengimbau para orangtua agar menyadari bahwa anak adalah amanah Sang Maha Pencipta yang tidak pernah bisa memilih siapa yang akan menjadi orangtuanya. Anak juga memiliki harkat martabat kemanusiaan yang harus dilindungi dan dijaga.

Setiap anak memiliki fase tumbuh kembang yang berbeda

Popmama.com/Novy Agrina

KPAI mengingatkan kembali bahwa masing-masing anak mengalami fase tumbuh kembang yang berbeda-beda. Ketika anak merengek, menangis, terlebih saat mereka balita, ini merupakan bagian ekspresi perasaanya.

"Anak itu unik! Setiap anak berbeda, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi memaknai anak sebagai manusia yang utuh memiliki harkat martabat itu sangat penting," Ibu Rita mengingatkan.

Anak itu tidak ada yang "nakal" sebagaimana persepsi orang dewasa. Sesungguhnya anak sedang belajar mengekspresikan perasaannya dan belajar tentang tingkah laku yang baik.

"Dengan menyadari anak memiliki harkat dan martabat, orangtua tidak memaksakan. Bukan mengikuti atau memaksa standarnya anak untuk selalu mengikuti keinginan orangtua. Anak tidak ada yang nakal, mereka sedang mencari sesuatu atau sedang mencoba mengekspresikan sesuatu khususnya untuk kasus anak balita. Wajar mereka rewel, nangis atau nggak bisa diam, harus disadari itu semata karena anak ingin mengekspresikan sesuatu."

Jangan membandingkan anak kita dengan anak yang lainnya. Ini juga perlu disadari orangtua karena setiap anak memiliki fase tumbuh kembangnya masing-masing.

Masalah finansial dan krisis relasi suami istri menjadi kelemahan dalam sebuah keluarga

Popmama.com/Novy Agrina

Bukan hanya sekedar masalah finansial saja, relasi antara suami dan istri itu juga sangat erat kaitannya dengan kekerasan pada anak. Kedua masalah dasar ini berujung pada kesehatan mental orangtua.

Beban hidup yang dirasakan baik karena situasi perkawinan, kesulitan ekonomi, hingga problem pribadi seringkali menjadi pemicu orangtua melampiaskan kekesalan kepada anaknya.

Orangtua seringkali lupa bahwa masa pertumbuhan anak tidak bisa terulang sehingga dianggap wajar jika anak diperlakukan dengan salah, padahal ini adalah salah besar.

"Perlu diingat bahwa masa tumbuh kembang anak itu hanya sekali, jadi hormati masa-masa itu jangan pernah dikotori dengan intimidasi dan kekerasan terhadap anak. Masa 'Golden Age' anak itu tidak bisa terulang, sehingga kita sebagai orangtua harus menghindari kesalahan. Jangan juga sudah melakukan kesalahan, menyesal kemudian mengulanginya kembali." kata Bu Rita.

Tips yang bisa dilakukan jika melihat ada kekerasan terhadap anak di lingkungan kita

Freepik

Banyak yang bisa kita lakukan sebagai tetangga jika melihat ada kekerasan di lingkungan sekitar. Kita bisa peduli dengan melakukan beberapa tips dari Bu Rita berikut ini:

"Di ranah prifat hukum juga berlaku. Penting untuk bisa peduli kepada tetangganya, jika melihat ada anak dengan lebam-lebam, mungkin ini bisa jadi perhatian."

Hal lain yang bisa diperhatikan adalah:

  • Jangan tidak mau tahu, dengar dan perhatikan. Jadilah pendengar yang baik jika ada tetangga yang butuh tempat bercerita.
  • Laporkan ke petugas RT setempat jika melihat kejadian kekerasan pada anak
  • Laporkan ke Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) agar segera disambangi ke lokasi kejadian.

Itulah yang bisa diperhatikan untuk keamanan di lingkungan sekitar. Selain itu, tiga pilar perlindungan anak mesti dijalankan yaitu keluarga, masyarakat dan sekolah. Jika ada salah satu aspek yang berpotensi melakukan kekerasan atau intimidasi kepada anak, sebagai orangtua kita harus bisa lebih peka dan menjaganya. 

The Latest