TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Mencegah Vagina Robek Saat Persalinan Normal, Ini Caranya!

Tetap utamakan kesehatan dan keselamatan si Kecil selama persalinan ya, Ma

Unsplash/rawpixel

Saat persalinan, salah satu masalah yang kerap ditakuti oleh para ibu hamil adalah robeknya vagina, khususnya di area perineum. Perineum adalah otot di antara vagina dan lubang anus yang sebenarnya cukup elastis.

Namun demikian, hampir 95 persen ibu melahirkan akan mengalami robekan pada vaginanya.

Ada beberapa penyebab yang bisa mengakibatkan kondisi ini, salah satunya kondisi otot perineum Mama sendiri dan ukuran bayi.

Cara perawatan pada vagina yang robek saat melahirkan juga perlu disesuaikan dengan kondisi luka dan jahitan.

Nah, berikut informasi lengkapnya seperti telah dirangkum Popmama.com dari berbagai sumber.

1. Apa itu vagina robek?

americanpregnancy.org

Vagina robek alias vaginal tear adalah robekan spontan yang terjadi selama proses melahirkan normal pada perineum, terutama ketika mengejan dan saat bayi akan keluar.

Robekan spontan berarti dokter sama sekali tidak melakukan tindakan apapun untuk hal tersebut. Misalnya, tidak melakukan tindakan episiotomi.

Menurut pakar kandungan dan kebidanan dari Providence Saint John's Health Center di Santa Monica, California, Sherry Ross, MD, selama persalinan pada dasarnya vagina harus bisa meregang cukup besar. Terutama sampai bisa dilewati oleh kepala bayi.

Meski bisa saja vagina meregang tanpa robekan, namun pada sebagian besar kasus melahirkan normal, wajar jika vagina kemudian mengalami robekan.

2. Faktor-faktor penyebab vagina robek

Freepik.com/noxos

Dikutip dari Parents, ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab dari vagina robek. Salah satu faktor risikonya yakni pada persalinan pertama kalinya.

Para Mama yang baru kali pertama melahirkan secara normal memiliki kemungkinan mengalami robekan vagina hingga 95 persen. Diduga kuat ini karena jaringan dan otot perineum belum cukup fleksibel.

Namun demikian, faktor-faktor lain juga tetap bisa berkontribusi terhadap risiko vagina robek. Termasuk di antaranya kelebihan berat badan atau proses melahirkan yang cepat.

Pada kondisi ini, jaringan memiliki lebih sedikit waktu untuk beradaptasi dan meregang saat posisi bayi mulai turun.

Posisi bayi yang menghadap ke atas juga dapat memberi tekanan ekstra pada bagian bawah vagina, sehingga turut menjadi penyebab terjadinya vagina robek.

Demikian apabila Mama harus melakukan persalinan dengan bantuan vakum atau forsep, adanya pembengkakkan seringkali membuat vagina menjadi robek, Ma.

Menurut Ross, biasanya setelah persalinan normal kali pertama, jaringan dan otot perineum akan menjadi lebih fleksibel sehingga risiko robekan di persalinan berikutnya menjadi berkurang.

3. Perawatan vagina robek setelah melahirkan

Freepik/Naypong

Dilansir What to Expect, luka jahitan pada vagina robek sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya dengan proses dan berjalannya waktu. Namun tetap Mama perlu memberikan perhatian khusus supaya bisa mempercepat pemulihan.

Terutama pada faktor kebersihan perineum dan area vagina. Tindakan ini penting guna mengurangi rasa sakit, mencegah infeksi dan mempercepat penyembuhan. Berikut beberapa tips untuk merawat vagina robek:

  • Bersihkan area vagina dengan menyemprotkan air hangat saat mandi atau setelah buang air kecil
  • Selalu keringkan area vagina dengan cara ditepuk atau ditekan dengan handuk bersih, sebelum menggunakan pembalut
  • Rutin ganti pembalut setidaknya setiap 4-6 jam sekali, atau saat Mama merasa sudah tidak nyaman. Hindari malas mengganti pembalut karena berisiko menimbulkan infeksi
  • Pastikan tangan dalam kondisi bersih apabila hendak menyentuh area vagina
  • Banyak makan buah segar dan minum air putih, ini supaya tekstur feses tidak menjadi keras dan membuat Mama sulit buang air besar.

4. Komplikasi dan masalah pada vagina robek

Freepik/spukkato

Meski luka jahitan pada vagina robek disebutkan bisa sembuh dengan sendirinya, tetapi ada beberapa masalah yang bisa dialami dan bahkan harus segera diobati secara medis.

Supaya penyembuhannya lebih cepat, jangan terlambat diperiksakan ke dokter jika muncul gejala-gejala seperti tampak merah, nyeri, bengkak atau ada bau tidak sedap di area vagina, Ma.

Kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa bekas luka jahitan mengalami infeksi. Jangan tunda lagi untuk segera cek ke dokter.

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan dan memberikan obat antibiotik sesuai kebutuhan. Minum obat sesuai anjuran dokter dan jangan lupa untuk tetap banyak minum air putih, istirahat cukup serta menjaga kebersihan area vagina.

5. Mencegah vagina robek saat melahirkan

Freepik/vgstockstudio

Vagina robek memang terjadi pada hampir semua perempuan yang melahirkan secara normal. Namun demikian, ada beberapa tindakan yang diyakini bisa membantu mencegah vagina robek saat melahirkan. Dilansir Healthline, beberapa di antaranya:

  • Rutin latihan Kegel untuk memperkuat otot dasar panggul dan perineum
  • Konsumsi vitamin prenatal, makan dengan pola diet seimbang, berolahraga secara teratur, dan menjaga kesehatan secara keseluruhan
  • Jaga area vagina dan perineum tetap hangat, misalnya dengan kompres air hangat. Ini untuk meningkatkan aliran darah dan melenturkan otot perineum

Selain itu, memerhatikan posisi saat melahirkan juga turut berperan, Ma. Dikutip dari Belly Belly, posisi saat mengejan memiliki pengaruh besar pada risiko vagina robek.

Melakukan posisi litotomi (berbaring dengan kaki diangkat ke atas) atau posisi setengah berbaring misalnya, dapat memberikan tekanan pada tulang ekor dan perineum serta meningkatkan kemungkinan Mama mengalami vagina robek.

Namun demikian, Mama tetap bisa memilih posisi apapun yang dirasa paling nyaman. Posisi tepat tak cuma mencegah vagina robek, tapi juga membuat Mama lebih rileks menghadapi kontraksi pada setiap tahapnya.

Jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter supaya risiko Mama untuk mengalami vagina robek benar-benar bisa dikurangi, ya.

Baca juga:

The Latest