TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Perubahan Gaya Hidup Pasca Persalinan Jadi Tantang bagi Perempuan Ini

Kegembiraan seorang Mama yang berubah menjadi ketakutan

Instagram.com/findingcoopersvoice

Kelahiran anak dapat menjadi pemicu emosi yang kuat bagi seorang mama. Kebahagiaan dan kegembiraan dapat berubah menjadi ketakutan dan kekhawatiran.

Hal yang menakutkan, jika mama menjadi terbawa pada sesuatu yang tidak diharapkan. yaitu, depresi.

Biasanya mama baru mengalami proses postpartum, atau yang lebih dikenal dengan baby blues paska melahirkan anak pertamanya.

Suasana hati yang mudah berubah, menangis, perasaan cemas, hingga sulit tidur. 

Postpartum biasanya dimulai dalam waktu 2-3 hari pertama setelah melahirkan, dan dapat berlangsung hingga 2 minggu tergantung bagaimana kondisi psikologis dari mama.

Jika lebih lama dan lebih parah kondisi ini lebih dikenal dengan nama depresi postpartum.

Depresi postpartum ini bukan cacat atau kelemahan karakter.

Namun gaya hidup yang berubah menyebabkan komplikasi secara psikologis.

Jika Mama merasakan postpartum, mama dapat melakukan perawatan yang dapat membantu Mama mengelola gelaja dan membantu mama untuk menjalin ikatan dengan anak.

Kondisi postpartum ini dirasakan oleh seorang mama bernama Kate Swenson (33 tahun).

Mama dari 3 anak laki-laki ini mengalami postpartum dalam mengurus anak-anaknya. 

Kate Swenson membagikan kisahnya pada komunitas online Today Parenting Team

Berikut adalah kisah dari Kate Swenson yang Popmama.com rangkum.

1. Awalnya masih menyenangkan menjadi seorang mama

Instagram.com/findingcoopersvoice

Sejak masih remaja, Kate Swenson ingin sekali untuk memiliki anak pada usia muda. Ia mengharapkan dapat merawat dan menjaga anak ketika berada di bangku perkuliahan.

Lalu, kemudian ia diberkati dengan 3 anak laki-laki yang sehat, tangguh, keras dan masing-masing anak sangat aktif sehingga mereka terkadang dapat membuat Kate menjadi melelahkan dengan caranya sendiri. 

Saat itu Kate merasa bahwa dirinya beruntung. Ia menyukai perannya sebagai seorang mama yang bekerja, mengelola rumah tangga, menjaga anak-anaknya, menyusui, memasak, membersihkan, dan pekerjaan lainnya.

Di dalam tulisannya, dalam beberapa hari ia bahkan menginginkan lebih banyak anak, dan mengatakan "Three just isn’t enough.", kata Kate.

Namun, lama kemudian ia merasa bahwa dirinya telah menjadi gila. Ia merasa telah mengabdikan hidupnya untuk ketiga anak laki-lakinya, suami, dan pekerjaan rumah tangga.

2. Mulai kehilangan jati diri

Instagram.com/findingcoopersvoice

Pada awalnya ia merasa bahwa ia senang dan menikmati kehidupan barunya sebagai seorang mama. Tetapi setelah beberapa lama melewati masa-masa itu, ia merasa kehilangan rasa kesenangannya dan mengatakan "I feel like I have lost myself along the way."

Seorang wanita berusia 36 tahun merasa memiliki sebuah kasus serius yaitu kehilangan jati dirinya.

Menurut Kate, ini adalah krisis usia paruh baya, atau sedikit depresi paska melahirkan. Namun ia menganggap bahwa dirinya hanya kelelahan, kelebihan berat badan, dan mental yang terkuras akibat pekerjaan rumah tangganya.

Sedihnya, ketika Kate melihat ke cermin, ia sendiri bahkan tidak mengenal diri nya sendiri. 

"It’s not that I necessary look old. It’s that I look like someone I don’t even recognize. I look tired. I look like I’ve let myself go. I look angry. I look really rushed." Ungkapnya pada forum tersebut.

Semua tekanan dalam pekerjaan rumah tangga dan merawat anak-anaknya membuat ia merasa menjalankan segala sesuatu dengan terburu-buru. Terburu-buru mandi, makan, mengendarai kendaraan, menyiapkan makan malam di meja.

Ia mengatakan pada dirinya bahwa ia adalah orang yang selalu bahagia, orang yang positif, dan orang yang selalu tersenyum. Bukan seperti yang muncul pada cermin.

Pekerjaan rumahnya membuat ia merasa bahwa pendidikan yang ia tempuh hanyalah sia-sia. Karena ia merasa seperti asisten rumah tangga, koki, sopir, bahkan sebagai kepala keluarga.

Tapi belakangan ini, aku merasa hampir kosong. Saya merasa seperti menyia-nyiakan pendidikan saya. Saya merasa seperti pembantu rumah tangga, juru masak, sopir, dan pemimpin cincin. 

"I feel like I’m disappearing into nothing." kata Kate.

3. Menjadi mama adalah pekerjaan yang sulit

Instagram.com/findingcoopersvoice

Tekanan psikologis yang Kate rasakan berujung pada emosi yang tidak stabil, ia menjadi mudah kesal. Ia bahkan merasa kesal pada suaminya yang membuang air sambil menelpon.

"I’ll yell for him to hurry up as one kid is crying, the other one needs to be fed and the phone is ringing," tulis Kate.

Memiliki seorang bayi, seorang anak berusia 6 tahun yang sangat aktif secara sosial, dan anak yang mengidap autisme. Ia mengatakan, ia harus bangun lalu mandi sebelum jam 5 pagi atau setelah jam 10 malam. 

Ia merasa kelelahan. Dulu ia sangat memperdulikan penampilannya. Dengan makan yang bai, berolahraga, mandi tepat waktunya, menggunakan riasan. Bahkan ia aktif di sosial media untuk mencari pakaian musim panas dan memilih-mlih pakaian yang lucu.

Kate adalah seorang wanita yang sangat memerhatikan penampilan, namun saat ini tidak punya waktu untuk mandi. 

4. Gaya hidup yang berubah

Instagram.com/findingcoopersvoice

Dan bagian yang menyedihkan adalah Kate hampir tidak peduli terhadap hidupnya. ia bahkan merasa terlalu lelah untuk peduli. 

Menurutnya ada begitu banyak hal penting yang harus dilakukan selain terlihat cantik. "Seperti tidur atau menyelesaikan pekerjaan saya."

Tapi kemudian, ia melihat dirinya sendiri dan malah menjadi merasa semakin sedih. Hampir keseluruhan ia merasa kehilangan dirinya. 

Kate tidak punya hobi, ia tidak punya waktu untuk melakukan apa pun. Kegiatannya hanya merawat anak-anak dan mengurus urusan rumah tangga.

"I watch tv shows in 15 minute increments. I stare at my phone for entertainment. I answer text messages three days late." kata Kate.

Sebagai seorang mama, ia merasa sibuk namun bosan terhadap rutinitasnya. Namun sayangnya, ia belum mengetahui dan masih mengusahakan bagaimana cara memperbaiki rutinitas kehidupannya sebagai seorang mama

Rasa jenuhnya membawanya ingin untuk berdiri diam, ingin untuk duduk, berjalan dan mengingat tentang dirinya kembali. Kate ingin kembali menikmati hidupnya karena ia tidak mau melewatkan hidupnya.

"I don’t want to resent it. I don’t want to be angry." ungkapnya agar kembali menjalani hidup dengan positif.

5.Gejala dan cara menghadapi postpartum

Freepik.com

Sebelum Mama mengetahui cara menghadapi kondisi postpartum, berikut adalah gejala-gejala postpartum yang perlu diketahui:

  • Sulit untuk menjalin ikatan dengan anak yang baru lahir
  • Perubahan mood yang tidak teratut
  • Kelelahan yang parah
  • Emosi yang tidak stabil
  • Mudah marah
  • Kesulitan menentukan keputusan
  • Rasa takut yang tinggi
  • Serangan panik

Jika Mama merasa mengalami gejala diatas, segera beri tahu suami atau teman dekat jika memiliki gejala-gejala ini. Atau, Mama dapat membuat janji dengan dokter untuk membicarakan opsi perawatan untuk mengurangi postpartum.

Cara menghadapi postpartum yaitu dengan memberikan waktu pada tubuh untuk menyenangkan diri sendiri. Coba Mama melakukan perawatan tubuh di salon, berbelanja, membuat tujuan kedepannya yang pasti, dan bicarakan kondisi pada orang-orang terdekat.

The Latest