Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Skincare untuk Anak Sebaiknya Bebas Pewangi, Ini Alasannya!
Pexels/ Deepa Nishad
  • Produk skincare anak sebaiknya bebas pewangi karena kulit bayi sangat sensitif, mudah iritasi, dan rentan alergi akibat bahan kimia sintetis dalam fragrance.
  • Pewangi dapat memicu gangguan pernapasan serta mengandung phthalates yang berpotensi mengganggu hormon dan perkembangan tubuh anak.
  • Menghindari pewangi membantu menjaga keseimbangan pH kulit, mencegah dermatitis kontak alergi, dan melindungi anak dari risiko alergi jangka panjang seperti atopic march.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Kulit bayi dan anak masih sangat sensitif sehingga membutuhkan produk perawatan yang lembut dan minim bahan tambahan. Salah satu kandungan yang sering disarankan untuk dihindari adalah pewangi atau fragrance karena berisiko memicu iritasi hingga alergi pada kulit si Kecil.

Meski banyak produk skincare anak memiliki aroma yang harum dan menenangkan, ternyata kandungan pewangi sintetis bisa memberikan dampak tertentu pada kesehatan kulit maupun pernapasan bayi. Karena itu, orangtua perlu lebih teliti memilih produk skincare yang aman digunakan setiap hari.

Berikut Popmama.com rangkum alasan skincare untuk anak sebaiknya bebas pewangi.

1. Pewangi jadi salah satu alergen paling umum 

Pexels/Deepa Nishad

Pewangi sering kali menjadi pemicu utama reaksi alergi pada kulit bayi yang sensitif. Dikutip dari MDEdge, studi menemukan bahwa pewangi terdapat dalam 64% produk pembersih bayi yang paling laris, menjadikannya salah satu alergen yang paling sering dijumpai. Meskipun banyak produk yang mengklaim diri mereka "hipoalergenik", faktanya sebagian besar masih mengandung bahan pewangi yang dapat memicu sensitivitas pada anak.

Penting untuk menyadari bahwa paparan terhadap alergen ini sejak dini dapat meningkatkan risiko anak menjadi sensitif terhadap zat lain di kemudian hari. Gejala alergi ini sering kali tidak muncul seketika, namun dapat berkembang menjadi masalah kulit kronis jika paparan terus berlanjut. Oleh karena itu, memilih produk tanpa pewangi adalah langkah preventif yang sangat disarankan oleh para ahli.

2. Risiko iritasi saluran pernapasan

Pexels/Anna Shvets

Penggunaan pewangi pada skincare tidak hanya berdampak pada kulit, tetapi juga pada kesehatan pernapasan anak. Bahan kimia dalam wewangian dapat terhirup oleh bayi dan berpotensi menyebabkan iritasi pada mukosa saluran pernapasan. Hal ini bisa memicu reaksi seperti batuk, bersin, bahkan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan jika bahan kimia tersebut cukup keras.

Wewangian sebagian besar mengandung bahan kimia pemicu iritasi yang berbahaya bagi paru-paru anak yang masih berkembang. Terutama bagi anak yang memiliki riwayat alergi keluarga, menghirup aroma dari produk perawatan kulit bisa sangat mengkhawatirkan karena sistem pertahanan tubuh mereka yang masih sangat reaktif.

3. Kulit bayi 30% lebih tipis dan lebih permeabel

Pexels/RDNE Stock project

Sebelum anak berusia 1 tahun, struktur kulit anak masih dalam proses pematangan dan secara fisik 30% lebih tipis dibandingkan kulit orang dewasa. Ketipisan ini membuat lapisan pelindung kulit (skin barrier) menjadi sangat rapuh dan mudah ditembus oleh zat-zat asing. Akibatnya, bahan kimia dari pewangi sintetis dapat meresap lebih dalam ke dalam lapisan kulit dan masuk ke sistem tubuh anak.

Karena permeabilitas yang tinggi ini, risiko toksisitas sistemik akibat penyerapan bahan kimia melalui kulit menjadi jauh lebih besar pada bayi. Zat pewangi yang dianggap tidak berbahaya bagi orang dewasa bisa saja memberikan efek negatif yang signifikan pada anak-anak karena rasio luas permukaan tubuh terhadap berat badan mereka yang besar.

4. Mencegah risiko dermatitis kontak alergi

Pexels/Danik Prihodko

Penggunaan produk berpewangi pada kulit anak yang belum matang dapat memicu Dermatitis Kontak Alergi (DKA), sebuah reaksi hipersensitivitas yang diperantarai sel T. Reaksi ini biasanya tidak muncul segera, tetapi sering kali terlihat dalam 24 hingga 48 jam setelah paparan ulang terhadap alergen tertentu. Gejalanya bisa berupa ruam merah, gatal, hingga kulit yang pecah-pecah dan menebal.

Sekali seorang anak mengembangkan sensitivitas terhadap bahan pewangi tertentu, reaksi tersebut sering kali akan bertahan seumur hidup. Oleh karena itu, menghindari pewangi pada usia di bawah satu tahun sangat krusial untuk mencegah sistem imun melakukan "induksi" atau pengenalan terhadap zat berbahaya tersebut.

5. Kandungan phthalates yang tersembunyi dalam pewangi

Pexels/kenan zhang

Bahan pewangi sintetis biasanya mengandung phthalates, yaitu zat kimia yang digunakan untuk membuat aroma bertahan lebih lama. Phthalates dikenal sebagai pengganggu endokrin yang dapat mengganggu hormon tubuh dan telah dikaitkan dengan masalah perkembangan saraf dan reproduksi pada anak-anak. 

Joanne McManus Kuller , RN, MS dalam jurnal Clinical Issues in Neonatal Care menyebut penggunaan produk seperti lotion dan minyak rambut berhubungan dengan tingginya kadar metabolit phthalate dalam urine bayi.

Konsentrasi metabolit ini ditemukan paling tinggi pada bayi di bawah usia 8 bulan, yang menunjukkan betapa rentannya mereka terhadap penyerapan zat kimia ini. Mengingat phthalates sering kali tidak dicantumkan secara eksplisit di label produk karena dianggap sebagai "rahasia dagang" dari komposisi parfum, memilih produk benar-benar bebas pewangi adalah cara teraman untuk menghindari paparan ini.

6. Mengganggu keseimbangan pH kulit

Pixabay/neelam279

Kulit bayi memerlukan lingkungan yang sedikit asam (pH 4,0 hingga 6,0) untuk membentuk "mantel asam" yang berfungsi melawan bakteri patogen. Pewangi dan bahan kimia tambahan dalam produk pembersih sering kali bersifat basa atau mengandung deterjen keras yang dapat merusak mantel asam ini. Gangguan pada pH kulit ini dapat menghambat aktivasi enzim yang diperlukan untuk pembentukan lemak pelindung kulit.

Jika mantel asam terganggu, kulit anak usia di bawah 1 tahun yang sedang aktif mengeksplorasi lingkungan akan menjadi lebih kering dan mudah terinfeksi. Penggunaan pembersih yang bebas pewangi dan memiliki pH netral atau sedikit asam sangat membantu menjaga integritas pelindung kulit ini.

7. Istilah "unscented" dan "fragrance-free" bisa menyesatkan

Pexels/Dobromir Dobrev (skincare bayi)

Banyak orangtua terkecoh dengan label "unscented" (tanpa aroma), padahal istilah ini berbeda dengan "fragrance-free" (bebas pewangi). Produk berlabel "unscented" mungkin tetap mengandung bahan pewangi yang digunakan untuk menutupi bau asli dari bahan kimia lain dalam produk tersebut. Artinya, meskipun produk tidak tercium aromanya, anak tetap terpapar bahan kimia pewangi.

Dalam jurnal Clinical Issues in Neonatal Care mengenai perawatan kulit bayi menyebut orangtua harus teliti memeriksa daftar bahan (ingredients) dan mencari produk yang benar-benar tidak menggunakan zat pewangi tambahan sama sekali. 

8. Menghindari "atopic march"

Pexels/Анастасия Триббиани (skincare bayi)

Kerusakan pada pelindung kulit akibat iritasi pewangi dapat menjadi langkah awal dari apa yang disebut "Atopic March". Ini adalah perkembangan penyakit alergi yang dimulai dari dermatitis atopik (eksim) di masa bayi, yang kemudian bisa berkembang menjadi alergi makanan, rinitis alergi, hingga asma di masa kanak-kanak.

Dengan menggunakan skincare bebas pewangi sejak dini, integritas pelindung kulit anak tetap terjaga, sehingga meminimalkan masuknya alergen lingkungan melalui kulit. Menjaga kulit anak tetap sehat dan tidak teriritasi pada tahun pertama kehidupannya adalah investasi jangka panjang untuk mencegah berbagai masalah kesehatan kronis di masa depan.

Itulah tadi informasi mengenai pentingnya skincare anak sebaiknya bebas pewangi. Wah, ternyata risikonya cukup banyak, nih!

Editorial Team

Related Article