Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
AYIMUN Depok Chapter 2026, Bekal Soft Skills untuk Generasi Digital
Dok. AYIMUN Depok
  • AYIMUN Depok Chapter 2026 pada 1–2 Agustus menekankan soft skills seperti berpikir kritis, negosiasi, adaptasi, dan kolaborasi sebagai bekal generasi muda menghadapi perubahan.
  • Melalui simulasi PBB, peserta dilatih menjadi pemimpin yang mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus, serta menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab.
  • Konferensi bertema keamanan digital ini melibatkan 315 peserta untuk membahas pendidikan dan aktivitas online ilegal, dengan berpikir kritis, empati, serta komunikasi sebagai fondasi utama.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Di tengah gempuran teknologi dan arus informasi yang kian deras, generasi muda dituntut untuk tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga tangguh secara karakter.

Kemampuan berpikir kritis, berempati, dan bekerja sama menjadi modal utama agar tidak terseret arus negatif dunia maya.

Hal ini menjadi perhatian serius dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Depok Chapter 2026 yang digelar pada 1–2 Agustus lalu.

Lebih dari sekadar ajang simulasi PBB, konferensi ini menghadirkan beragam pesan inspiratif dari para pemimpin nasional dan daerah.

Mulai dari Menteri Pendidikan hingga Kepala Daerah, semua sepakat bahwa masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda yang siap berdiplomasi dan berkontribusi.

Lantas, seperti apa keseruan dan manfaat dari kegiatan ini? Berikut Popmama.com telah merangkum ulasan selengkapnya.

1. Generasi muda harus siap hadapi perubahan dengan soft skills

Dok. AYIMUN Depok

Pembukaan AYIMUN Depok Chapter 2026 menjadi momen istimewa dengan hadirnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed, yang menegaskan bahwa kesuksesan di masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh nilai akademik atau hard skills semata.

"World Economic Forum menyebutkan beberapa keterampilan esensial yang akan sangat dibutuhkan dalam lima tahun ke depan, di antaranya kemampuan berpikir kritis, negosiasi, pemecahan masalah, kemampuan beradaptasi, kolaborasi, serta berbagai keterampilan abad ke-21 lainnya," ungkapnya dalam sambutannya.

Dalam paparannya, ia juga menyampaikan apresiasi kepada International Global Network dan SIT Al Haraki. Lewat konferensi ini, banyak siswa telah mengenal kualitasnya.

Selain itu, tema 'Securing the Digital Future' yang diusung dalam kesempatan kali ini juga menjadi pengingat bahwa kita harus mempersiapkan generasi muda agar menjadi pribadi yang optimis dan siap menghadapi perubahan.

Pesan ini menjadi pengingat bagi para orangtua dan tenaga pendidik bahwa membekali anak dengan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan berpikir kritis adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai.

2. Anak belajar jadi pemimpin yang menghargai perbedaan

Dok. AYIMUN Depok

Salah satu pembeda utama MUN dengan kompetisi debat biasa adalah semangat diplomasi dan kolaborasi. Hal ini ditekankan oleh Wakil Walikota Depok, Chandra Rahmansyah, S.Kom., M.T, yang turut hadir dalam kesempatan serupa.

"Melalui AYIMUN, adik-adik tidak hanya belajar menjadi delegasi sebuah negara, tapi juga belajar menjadi pemimpin masa depan yang mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, membangun konsensus dan menyampaikan gagasan dengan tanggung jawab," ujarnya mewakili Walikota Depok.

Ia juga menambahkan bahwa kemampuan inilah yang nantinya akan menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan global di masa mendatang.

Dengan dihadiri para pejabat pemerintah dalam acara ini sekaligus menjadi bukti nyata dukungan penuh terhadap pengembangan pendidikan karakter dan kepemimpinan bagi generasi muda, khususnya di Kota Depok.

3. Fondasi utama keamanan digital

Dok. AYIMUN Depok

Di tengah isu utama konferensi yang mengusung tema keamanan digital, Presiden International Global Network, Muhammad Fahrizal, menyampaikan pandangan yang mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan fondasi utama dari masa depan digital yang aman adalah manusianya.

"Kita sering berpikir bahwa mengamankan masa depan digital kita hanya bergantung pada kata sandi yang lebih kuat, kecerdasan buatan, atau sistem keamanan siber. Padahal, fondasi utamanya adalah manusianya," jelas Fahrizal.

Ia menyoroti bahwa misinformasi, ujaran kebencian, dan perpecahan dapat menyebar dalam hitungan detik di era digital. Karena itulah, ia menekankan pentingnya berpikir kritis sebagai firewall terkuat.

"Empati menjadi pertahanan kita terhadap kebencian di dunia maya. Kemampuan berkomunikasi menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai perbedaan. Semua itu bukan sekadar keterampilan akademik, melainkan keterampilan hidup," tambahnya.

Pesan ini tentu sangat relevan bagi para remaja yang sehari-hari aktif bermedia sosial, untuk mengingatkan mereka agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tapi juga pengguna yang bijak dan bertanggung jawab.

4. Kolaborasi lintas sektor untuk lahirkan generasi berkarakter

Dok. AYIMUN Depok

AYIMUN Depok Chapter 2026 tak akan terwujud tanpa kolaborasi erat antara berbagai pihak.

SIT Al Haraki sebagai school partner menjadi tuan rumah yang menyambut 315 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Jabodetabek, Sukabumi, Sumatera Selatan, hingga Bali.

Direktur Pendidikan SIT Al Haraki, Susi P. Krisnawan, menyampaikan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah tempat pembentukan karakter.

"Lebih dari sekadar konferensi, di sini kita sedang memersiapkan generasi yang mampu membangun jembatan, memiliki dialog daripada perpecahan, serta memimpin dengan kecerdasan dan integritas," ujarnya.

Sinergi lintas sektor antara lembaga pendidikan, pemerintah, dan mitra global diharapkan dapat menciptakan generasi luar biasa bagi Indonesia, agar bisa bersaing di kancah internasional.

Dalam konferensi ini, peserta berdiskusi dan merumuskan solusi terhadap berbagai isu global melalui dua council utama, yaitu UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund) dengan tema “Ensuring Quality Education for Every Child” untuk siswa/i berusia 11-14 tahun dan UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) dengan tema “Mitigating the Worst Impacts of Illicit Online Activities: Illegal Gambling and Cybercrime” untuk siswa/i berusia 15 tahun ke atas.

Nantinya, pemenang dari konferensi ini akan mendapatkan beasiswa mengikuti Asia World Model United Nations XV yang akan diselenggarakan di Bali Nusa Dua Convention Center pada 2-5 Oktober 2026 mendatang.

Setelah Depok, konferensi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Bandung pada 29–30 Agustus 2026.

Dengan terus berkembangnya program-program seperti ini, diharapkan semakin banyak pelajar Indonesia yang siap bersaing dan membawa nama harum bangsa di kancah global.

Curated For You

Editorial Team

Related Article