- Ahnaf Al-Qais Bin Azwadi dari Malaysia sebagai Head Chair UNESCO,
- Chelsea Raphael Rajagukguk sebagai Co-Chair UNESCO,
- Peniel Sutrisman Purba sebagai Head Chair UNEP,
- Faiz Edrie Shah dari Malaysia sebagai Co-Chair UNEP.
AYIMUN Pekanbaru Chapter, Jadi Wadah 200 Pelajar Belajar Diplomasi

- AYIMUN Pekanbaru pada 25–26 Juli 2026 menghimpun sekitar 200 pelajar dari 35 sekolah dan universitas untuk mengasah diplomasi, kepemimpinan, public speaking, negosiasi, dan berpikir kritis.
- Peserta menjalani simulasi sidang PBB di dewan UNESCO dan UNEP, membahas pendidikan inklusif bagi disabilitas serta dampak kendaraan listrik dan limbah lithium.
- Diselenggarakan IGN bersama ICS Pekanbaru dengan dukungan pemerintah dan Pertamina, acara turut memberi beasiswa bagi 15 pelajar; rangkaian berikutnya dijadwalkan di Depok dan Bandung.
Tak hanya unggul di bidang akademik, anak dan remaja juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, hingga bekerja sama untuk menghadapi tantangan di masa depan.
Salah satu cara mengasah keterampilan tersebut adalah melalui kegiatan simulasi diplomasi seperti Model United Nations (MUN).
Hal inilah yang dihadirkan dalam Asia Youth International Model United Nations (AYIMUN) Pekanbaru Chapter yang berlangsung pada 25–26 Juli 2026.
Konferensi ini mempertemukan ratusan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia untuk berdiskusi, bernegosiasi, sekaligus mencari solusi terhadap berbagai isu global.
Lantas, seperti apa keseruan dan manfaat dari kegiatan ini? Berikut Popmama.com telah merangkum lima faktanya. Yuk, simak!
1. Diikuti 200 pelajar dari 35 sekolah dan universitas

AYIMUN Pekanbaru Chapter sukses diselenggarakan pada 25–26 Juli 2026 di Pekanbaru, Riau. Program yang diselenggarakan oleh International Global Network (IGN) bekerja sama dengan Indonesian Creative School (ICS) Pekanbaru ini diikuti oleh sekitar 200 pelajar yang berasal dari 35 sekolah dan universitas di berbagai provinsi Indonesia.
Mengusung tema "Powering Progress: Ensuring Equity and Sustainability in a Changing World", konferensi ini menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, public speaking, hingga negosiasi.
Berbeda dengan kompetisi debat biasa, peserta ditantang untuk memahami sudut pandang negara yang mereka wakili sebelum menyampaikan argumen dalam forum internasional.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, sebagai bentuk komitmen dalam mendorong lahirnya generasi muda yang memiliki wawasan global dan siap menghadapi tantangan dunia yang terus berkembang.
2. Peserta membahas isu pendidikan inklusif hingga kendaraan listrik

Dalam konferensi ini, peserta dibagi ke dalam dua dewan utama, yakni UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) dan UNEP (United Nations Environment Programme).
Pada dewan UNESCO, peserta membahas topik "Equity for All: Inclusive Education for Students with Disabilities" yang mengangkat pentingnya menghadirkan pendidikan yang setara bagi peserta didik penyandang disabilitas.
Mereka berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang masih dihadapi serta merumuskan solusi agar akses pendidikan menjadi lebih inklusif di berbagai negara.
Sementara itu, dewan UNEP mengangkat isu "Electric Vehicles and Lithium Waste: A Double-edged Sword".
Peserta diajak melihat dua sisi perkembangan kendaraan listrik, yakni manfaatnya dalam mengurangi emisi karbon sekaligus tantangan pengelolaan limbah baterai lithium yang berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
Council UNEP sendiri mendapat dukungan dari PT Pertamina Persero sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap isu keberlanjutan dan lingkungan.
3. Belajar menjadi diplomat melalui simulasi sidang PBB

Selama dua hari pelaksanaan, para peserta mengikuti simulasi sidang layaknya konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Mereka berperan sebagai delegasi dari berbagai negara yang harus mempertahankan posisi negaranya sekaligus bernegosiasi dengan delegasi lain untuk mencapai kesepakatan bersama.
Peserta tidak hanya menyampaikan pidato, tetapi juga mengikuti proses negosiasi, menyusun Draft Resolution, hingga mencari solusi yang dapat diterima oleh banyak pihak.
Pengalaman ini membantu peserta memahami bahwa diplomasi bukan sekadar beradu argumen, melainkan juga tentang membangun kerja sama dan mencari jalan tengah.
Seluruh proses didampingi oleh fasilitator berpengalaman, yaitu:
4. Pemerintah dan berbagai pihak mendukung lahirnya generasi muda berwawasan global

AYIMUN Pekanbaru Chapter secara resmi dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, Dr. H. Syafrian Tommy, S.STP., M.Si., yang hadir mewakili Wali Kota Pekanbaru.
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa generasi muda bukan sekadar penerus masa depan, tetapi juga aktor utama yang mampu menciptakan inovasi dan membawa perubahan.
Menurutnya, diplomasi global tidak hanya membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga empati, kemampuan memahami keberagaman budaya, serta kepedulian terhadap akses pendidikan yang setara.
President International Global Network (IGN), Muhammad Fahrizal, juga menekankan bahwa peserta diajak melihat setiap persoalan melalui tiga perspektif, yaitu:
- kekuatan,
- keadilan,
- waktu.
Dengan cara berpikir tersebut, peserta diharapkan mampu menghasilkan kebijakan yang relevan sekaligus berdampak bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengapresiasi dukungan PT Pertamina Persero yang turut memberikan beasiswa kepada 15 pelajar dari berbagai sekolah sehingga mereka dapat mengikuti AYIMUN Pekanbaru Chapter.
5. Menjadi bekal pelajar menghadapi tantangan global di masa depan

Menurut Direktur Indonesian Creative School, Romy Charles Adam, AYIMUN bukan sekadar tempat pelajar berpidato atau berdebat.
Ia melihat konferensi ini sebagai ruang belajar yang dapat membentuk calon diplomat, ilmuwan, pengusaha, guru, hingga pemimpin masa depan.
Melalui pengalaman berdiskusi dengan peserta dari berbagai latar belakang, pelajar belajar menyampaikan gagasan secara logis, mendengarkan pendapat orang lain, sekaligus bekerja sama untuk mencapai solusi terbaik.
Kemampuan tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi dunia yang semakin terhubung secara global.
Sementara itu, perwakilan PT Pertamina Hulu Rokan, Wan Dedi Yudhistira, berharap para peserta dapat menjadi bagian dari generasi yang akan menciptakan sejarah bagi Riau maupun Indonesia.
Ke depan, rangkaian AYIMUN akan terus berlanjut ke berbagai kota.
Setelah Pekanbaru, konferensi berikutnya dijadwalkan berlangsung di Depok pada 1–2 Agustus 2026 dan Bandung pada 29–30 Agustus 2026.
Dengan semakin banyaknya chapter yang diselenggarakan, diharapkan lebih banyak pelajar Indonesia memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan diplomasi, kepemimpinan, dan berpikir kritis sejak usia muda.



















