Keracunan makanan umumnya identik dengan gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit atau toksin yang berasal dari makanan juga dapat memengaruhi otak dan sistem saraf, bahkan menyebabkan gangguan memori. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk kerusakan otak dan saraf.
Salah satu contohnya adalah amnesic shellfish poisoning (ASP), yaitu keracunan akibat konsumsi kerang yang terkontaminasi domoic acid. Dikutip dari website-nya, CDC mencatat kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kognitif hingga hilang ingatan, terutama pada kasus yang berat.
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menjelaskan bahwa domoic acid merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada area otak yang berperan dalam proses belajar dan memori. Paparan berat dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, hingga gangguan ingatan jangka pendek yang menetap.
Artinya, secara medis, keracunan yang berkaitan dengan makanan memang dapat menyebabkan gangguan saraf dan pada jenis keracunan tertentu dapat berujung pada hilang ingatan. Namun, kondisi tersebut tergolong khusus dan tidak berarti setiap anak yang mengalami keracunan makanan akan mengalami gangguan memori.
Belakangan ini viral kasus yang menjadi perhatian seorang siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dikutip dari IDN Times, keluarga korban melaporkan ia mengalami gangguan ingatan setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagaimana sebenarnya keracunan makanan dapat memengaruhi otak dan sistem saraf anak? Apakah benar bisa sampai menyebabkan hilang ingatan?
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
