Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Cara Memilih Masker Sesuai Usia Anak yang Melindungi dari Abu Vulkanik

Cara Memilih Masker Sesuai Usia Anak yang Melindungi dari Abu Vulkanik
Popmama.com/Putri Syifa N/AI
  • Anak lebih rentan terhadap abu vulkanik karena bernapas lebih sering; anak usia 6 tahun ke atas dapat memakai N95/KN95 yang pas, sedangkan masker dilarang untuk usia di bawah 2 tahun.
  • Untuk bayi dan balita, perlindungan utama adalah tetap di dalam rumah tertutup rapat serta menghindari aktivitas luar yang tidak mendesak saat abu masih beterbangan.
  • Anak tidak boleh terlibat membersihkan abu; anak dengan asma atau gangguan pernapasan perlu pengawasan ekstra, obat tersedia, dan pertolongan medis bila muncul sesak atau mengi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Abu vulkanik yang beterbangan setelah erupsi gunung berapi dapat mengganggu kesehatan, terutama pada anak-anak. Partikel abu yang sangat kecil dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan.

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak lebih sensitif terhadap paparan abu vulkanik dibandingkan orang dewasa. Anak bernapas lebih sering dan memiliki ukuran paru yang relatif lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya, sehingga paparan abu dapat memberikan dampak yang lebih besar.

Karena itu, orangtua perlu memperhatikan perlindungan pernapasan anak. Namun, jenis masker yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak dalam menggunakan masker dengan benar.

Berikut Popmama.com rangkum cara memilih masker sesuai usia anak untuk melindungi dari ibu vulkanik dan virus.

  1. 1. Anak yang lebih besar dapat menggunakan respirator yang pas

    Anak yang lebih besar dapat menggunakan respirator yang pas
    Pexels/Gustavo Fring

    Untuk anak yang sudah cukup besar dan mampu menggunakan masker dengan benar, masker respirator seperti N95 dapat menjadi pilihan ketika harus berada di area dengan paparan abu.

    Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC menjelaskan bahwa anak usia 2 tahun ke atas dapat menggunakan respirator atau masker. 

    Namun, untuk masker N95/KN95 idealnya bisa untuk anak usia 6 tahun ke atas. Pada rentang usia ini, ukuran wajah anak umumnya sudah cukup pas agar respirator dapat menempel rapat tanpa ada celah bocor di samping. 

    Ingat, masker perlu menutupi hidung dan berada di bawah dagu tanpa mengganggu penglihatan. Jika ukurannya terlalu besar atau tidak nyaman, anak mungkin terus melepas atau menggunakan masker dengan tidak tepat sehingga perlindungannya berkurang.

  2. 2. Bayi dan anak yang masih kecil perlu mendapat perhatian khusus

    Bayi dan anak yang masih kecil perlu mendapat perhatian khusus
    Pexels/IvanS

    Bayi tidak boleh dipaksakan menggunakan masker. National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) melalui CDC menyebutkan bahwa masker dan respirator tidak boleh digunakan pada anak berusia di bawah 2 tahun. Untuk anak yang masih sangat kecil, ukuran respirator yang sesuai juga sulit ditemukan.

    Karena itu, perlindungan terbaik untuk bayi dan balita dari abu vulkanik adalah mengurangi paparan sejak awal. IDAI melalui unggahan Instagram menyarankan agar anak tetap berada di dalam rumah dan memastikan rumah tertutup rapat ketika wilayah terdampak abu vulkanik.

    Jika kondisi di luar tidak aman, sebaiknya hindari membawa bayi atau balita keluar rumah hanya untuk aktivitas yang tidak mendesak.

  3. 3. Jauhkan anak dari aktivitas membersihkan abu

    Jauhkan anak dari aktivitas membersihkan abu
    Commons.wikimedia.org/Crisco 1492

    Anak sebaiknya tidak ikut menyapu atau membersihkan abu vulkanik. Aktivitas seperti menyapu dapat membuat abu yang sudah mengendap kembali beterbangan sehingga meningkatkan kemungkinan terhirup. IDAI secara khusus menyarankan untuk menjauhkan anak ketika abu vulkanik sedang dibersihkan.

    CDC juga menyarankan agar anak tidak melakukan aktivitas pembersihan setelah paparan abu. Sebaiknya orang dewasa yang melakukan pembersihan menggunakan perlindungan pernapasan dan memastikan anak berada di tempat yang udaranya lebih bersih.

  4. 4. Anak dengan asma membutuhkan perlindungan ekstra

    Anak dengan asma membutuhkan perlindungan ekstra
    Pixabay/Vika_Glitter

    Anak yang memiliki asma atau masalah pernapasan lainnya dapat lebih rentan mengalami gejala ketika terpapar abu atau partikel di udara.

    IDAI menyebutkan bahwa gangguan akibat abu vulkanik dapat lebih berat pada anak yang memiliki riwayat alergi saluran pernapasan, bronkitis, asma, atau kelainan paru.

    Orangtua sebaiknya mengikuti rencana pengobatan yang telah diberikan dokter dan memastikan obat yang biasa digunakan anak tersedia.

    Jika anak mulai mengalami batuk yang tidak membaik, mengi, sesak napas, atau kesulitan bernapas, segera jauhkan dari sumber paparan dan cari pertolongan medis.

  5. 5. Bagaimana jika tidak punya masker N95/KN95?

    Bagaimana jika tidak punya masker N95/KN95?
    Pexels/August de Richelieu

    Jangan sampai tidak adanya masker N95/KN95 membuat perlindungan diabaikan. IDAI menyebut lebih baik menggunakan masker yang ada di rumah dibandingkan tidak sama sekali. 

    Meski perlu dipahami bahwa masker bedah biasa memang tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel abu yang sangat halus seperti masker yang memiliki kemampuan filtrasi dan penutup wajah yang baik.

    Karena itu, jika kondisi memungkinkan, pilihan yang lebih penting adalah mengurangi paparan anak terhadap abu, seperti tetap berada di dalam rumah, menutup pintu dan jendela, serta menjauhkan anak dari lokasi pembersihan abu.

  6. 6. Pastikan masker terpasang dengan benar

    Pastikan masker terpasang dengan benar
    Magnific/wirestock

    Masker yang bagus tidak akan memberikan perlindungan maksimal jika ukurannya tidak sesuai atau sering dilepas. Untuk anak yang menggunakan masker, pastikan menutupi hidung dan mulut serta berada di bawah dagu. Masker juga tidak boleh terlalu longgar sehingga terdapat celah besar di sekitar wajah.

    Orangtua juga perlu memperhatikan kondisi anak selama menggunakan masker. Jika anak mengalami kesulitan bernapas, pusing, atau merasa tidak nyaman, segera pindahkan anak ke tempat dengan udara yang lebih bersih dan cari bantuan medis bila diperlukan.

  7. 7. Tetap prioritaskan anak berada di dalam ruangan

    Tetap prioritaskan anak berada di dalam ruangan
    Freepik/master1305

    Masker bukan satu-satunya cara untuk melindungi anak dari abu vulkanik. Mengurangi paparan merupakan langkah yang tidak kalah penting. IDAI menyarankan anak tetap berada di dalam rumah dan memastikan rumah tertutup rapat selama kondisi lingkungan masih dipenuhi abu.

    Jadi, ketika kualitas udara di luar buruk atau abu vulkanik masih beterbangan, sebaiknya aktivitas di luar rumah dikurangi. Pastikan juga anak tidak berada di dekat jendela atau pintu yang terbuka ketika abu sedang turun.

    Itulah tadi cara memilih masker sesuai usia anak. Dengan memilih masker yang sesuai usia dan mengurangi paparan, perlindungan anak dari abu vulkanik dapat lebih optimal.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More