- Kejang, terutama jika baru pertama kali terjadi.
- Penurunan kesadaran, sulit dibangunkan, atau tidak memberikan respons seperti biasanya.
- Kebingungan berat atau tiba-tiba tidak mengenali orang di sekitarnya.
- Leher kaku yang disertai demam atau perubahan kesadaran.
- Sulit berbicara atau menelan.
- Penglihatan ganda atau kabur.
- Kelemahan atau kelumpuhan pada tangan maupun kaki.
- Sesak atau kesulitan bernapas.
- Muntah dan diare berat disertai tanda dehidrasi, seperti sangat lemas, jarang buang air kecil, mulut kering, atau pusing.
Benarkah Anak Keracunan Makanan Bisa Hilang Ingatan? Ini Kata Medis

- Keracunan makanan tertentu dapat memengaruhi otak dan saraf; amnesic shellfish poisoning akibat domoic acid dapat memicu kebingungan, kejang, hingga gangguan memori menetap pada kasus berat.
- Siswi 16 tahun di Karo dilaporkan mengalami gangguan ingatan setelah diduga keracunan menu MBG ikan tongkol, tetapi penyebabnya belum pasti dan memerlukan pemeriksaan medis serta toksikologi.
- Gangguan saraf pascamakanan juga dapat terkait infeksi, respons imun, dehidrasi, atau gangguan metabolisme; kejang, penurunan kesadaran, kelemahan, dan sesak menjadi tanda yang perlu segera ditangani di IGD.
Keracunan makanan umumnya identik dengan gejala seperti mual, muntah, diare, sakit perut, dan demam. Namun, dalam kondisi tertentu, penyakit atau toksin yang berasal dari makanan juga dapat memengaruhi otak dan sistem saraf, bahkan menyebabkan gangguan memori. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat menimbulkan komplikasi serius, termasuk kerusakan otak dan saraf.
Salah satu contohnya adalah amnesic shellfish poisoning (ASP), yaitu keracunan akibat konsumsi kerang yang terkontaminasi domoic acid. Dikutip dari website-nya, CDC mencatat kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kognitif hingga hilang ingatan, terutama pada kasus yang berat.
Sementara itu, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) juga menjelaskan bahwa domoic acid merupakan neurotoksin yang dapat menyebabkan kerusakan pada area otak yang berperan dalam proses belajar dan memori. Paparan berat dapat menyebabkan kebingungan, disorientasi, kejang, hingga gangguan ingatan jangka pendek yang menetap.
Artinya, secara medis, keracunan yang berkaitan dengan makanan memang dapat menyebabkan gangguan saraf dan pada jenis keracunan tertentu dapat berujung pada hilang ingatan. Namun, kondisi tersebut tergolong khusus dan tidak berarti setiap anak yang mengalami keracunan makanan akan mengalami gangguan memori.
Belakangan ini viral kasus yang menjadi perhatian seorang siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Dikutip dari IDN Times, keluarga korban melaporkan ia mengalami gangguan ingatan setelah diduga mengalami keracunan makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Bagaimana sebenarnya keracunan makanan dapat memengaruhi otak dan sistem saraf anak? Apakah benar bisa sampai menyebabkan hilang ingatan?
Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.
Table of Content
Kasus Anak 16 Tahun Diduga Keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara

IDN Times/Indah Permata Sari Siswi SMK berusia 16 tahun berinisial F dilaporkan menyantap menu MBG berupa ikan tongkol pada 13 Agustus 2026. Setelah itu, F mengalami pusing, muntah, lemas, sempat tidak sadarkan diri, dan beberapa kali kejang.
Setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, keluarga mengaku F mengalami perubahan kemampuan mengingat hingga tidak lagi mengenali sejumlah anggota keluarga, teman, maupun orang-orang yang sebelumnya dekat dengannya.
Ikan tongkol sendiri dapat dikaitkan dengan scombroid fish poisoning, yaitu keracunan akibat penumpukan histamin ketika ikan tidak ditangani atau disimpan dengan baik. Namun, gejala khasnya umumnya berupa kulit kemerahan, sensasi panas, sakit kepala, mual, muntah, jantung berdebar, atau gangguan pernapasan yang muncul dengan cepat. Hilang ingatan bukan gejala khas keracunan scombroid.
Oleh karena itu, gangguan ingatan yang dialami F belum dapat dipastikan disebabkan oleh keracunan makanan atau menu MBG yang dikonsumsinya. Diperlukan pemeriksaan medis lebih lanjut, termasuk bila diperlukan pemeriksaan toksikologi, untuk mengetahui penyebab gangguan saraf tersebut.
Apakah Anak yang Keracunan Makanan Bisa Hilang Ingatan?
1. Keracunan makanan tertentu dapat memengaruhi sistem saraf

Pexels/Adera Abdoulaye Dolo Tidak semua keracunan makanan hanya berdampak pada saluran pencernaan. Dalam kasus tertentu, zat beracun yang terdapat pada makanan atau infeksi akibat patogen yang terbawa makanan dapat memengaruhi sistem saraf.
Sudah disinggung sebelumnya bahwa CDC menyebut sebagian penyakit yang ditularkan melalui makanan dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk meningitis serta kerusakan pada otak dan saraf. Dampaknya dapat berlangsung lebih lama dibandingkan gejala pencernaan yang biasanya muncul pada awal penyakit.
Ada beberapa mekanisme yang dapat menjelaskan bagaimana kondisi yang berawal dari makanan dapat berujung pada gangguan neurologis.
2. Neurotoksin dapat menyerang sel saraf secara langsung
Unspalash/Budhhi kumar shersta Sudah disinggung sebelumnya mengenai salah satu contoh yang paling jelas adalah amnesic shellfish poisoning (ASP). Kondisi ini terjadi setelah seseorang mengonsumsi kerang atau makanan laut yang terkontaminasi domoic acid, yaitu neurotoksin yang diproduksi oleh mikroalga dari kelompok Pseudo-nitzschia.
CDC menyebutkan bahwa ASP dapat diawali dengan keluhan pencernaan seperti muntah, diare, dan sakit perut. Setelah itu, pada kasus tertentu dapat muncul sakit kepala, gangguan kognitif, kebingungan, disorientasi, hingga hilang ingatan. Pada kasus berat, penderita juga dapat mengalami kejang, koma, bahkan kematian. Sebagian penyintas dapat mengalami gangguan memori jangka pendek yang berat dan menetap.
FDA juga mencatat bahwa domoic acid merupakan zat yang bersifat neurotoksik dan dapat menyebabkan kerusakan otak yang bermanifestasi sebagai kehilangan memori jangka pendek. Wabah ASP pernah terjadi di Kanada pada 1987 dan menjadi salah satu peristiwa penting yang menunjukkan adanya gangguan memori permanen pada sebagian korban.
Inilah salah satu bukti medis bahwa jenis keracunan makanan tertentu memang dapat menyebabkan gangguan memori secara langsung. Namun, kondisi seperti ASP tergolong jarang dan tidak menggambarkan sebagian besar kasus keracunan makanan sehari-hari.
3. Tidak semua gangguan saraf akibat makanan berupa hilang ingatan

Magnific Gangguan neurologis akibat penyakit yang ditularkan melalui makanan memiliki bentuk yang beragam. Hilang ingatan hanyalah salah satu kemungkinan yang sangat spesifik, terutama pada paparan neurotoksin tertentu.
Pada botulisme, misalnya, toksin dari Clostridium botulinum menyerang saraf dengan menghambat pelepasan neurotransmiter pada hubungan antara saraf dan otot. Akibatnya, penderita dapat mengalami penglihatan ganda atau kabur, kelopak mata turun, sulit berbicara dan menelan, kelemahan otot, hingga kelumpuhan yang dapat mencapai otot pernapasan.
Menariknya, penderita botulisme umumnya tetap sadar. Karena itu, botulisme lebih tepat dikaitkan dengan gangguan fungsi saraf dan kelumpuhan daripada hilang ingatan.
Sementara itu, beberapa jenis toksin laut lainnya juga dapat menimbulkan gangguan neurologis. Misalnya, CDC mencatat bahwa keracunan ciguatera dapat menyebabkan berbagai gejala saraf seperti kesemutan, gangguan sensasi suhu, dan kelemahan yang pada sebagian kasus dapat bertahan lama.
4. Infeksi dari makanan juga dapat mencapai sistem saraf

Commons.wikimedia.org/kaboompics.com Gangguan saraf tidak selalu terjadi karena racun makanan secara langsung merusak sel otak. Dalam beberapa penyakit bawaan makanan, penyebabnya adalah infeksi yang menyebar ke bagian tubuh lain.
Salah satu contohnya adalah infeksi Listeria monocytogenes. Pada kondisi invasif, bakteri ini dapat menyebabkan infeksi serius, termasuk meningitis. Ketika sistem saraf pusat terlibat, pasien dapat mengalami gejala seperti kebingungan, gangguan keseimbangan, kejang, atau penurunan kesadaran.
Karena itu, ketika anak mengalami perubahan kesadaran atau gejala neurologis setelah sakit akibat makanan, dokter tidak hanya mempertimbangkan keracunan sebagai penyebab. Infeksi pada sistem saraf pusat juga perlu dipikirkan dan diperiksa.
5. Infeksi saluran cerna juga dapat memicu gangguan saraf setelahnya

Pixabay/Elionas2 Ada pula gangguan saraf yang muncul bukan ketika infeksi sedang berlangsung, tetapi setelah infeksi mereda. Salah satunya adalah Guillain-Barré syndrome (GBS). Website CDC menjelaskan bahwa infeksi Campylobacter merupakan salah satu penyebab GBS yang paling umum. Campylobacter sendiri merupakan bakteri yang dapat menyebabkan diare dan dapat ditularkan melalui makanan yang terkontaminasi.
Pada GBS, sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang saraf. Kondisi ini biasanya ditandai dengan kesemutan dan kelemahan yang dimulai dari kaki, kemudian dapat menyebar ke bagian tubuh lain. Pada kasus berat, kelemahan tersebut dapat berkembang menjadi kelumpuhan.
Artinya, hubungan antara penyakit bawaan makanan dan gangguan saraf tidak selalu berupa racun yang langsung menyerang otak. Respons imun tubuh setelah infeksi juga dapat berperan.
6. Dehidrasi dan gangguan metabolisme juga bisa memengaruhi otak

Magnific/freepik Selain efek langsung toksin atau infeksi, keracunan makanan yang berat dapat memicu masalah neurologis melalui mekanisme tidak langsung. Muntah dan diare terus-menerus dapat menyebabkan dehidrasi berat serta ketidakseimbangan elektrolit. Kondisi tersebut dapat mengganggu fungsi normal sel saraf dan, dalam keadaan berat, memicu kejang atau perubahan kesadaran.
Anak yang terus-menerus muntah dan tidak mampu mendapatkan asupan makanan juga berisiko mengalami kadar gula darah rendah atau hipoglikemia. Otak sangat bergantung pada glukosa sebagai sumber energi sehingga hipoglikemia berat dapat menyebabkan kebingungan, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Demam tinggi yang menyertai infeksi juga dapat memicu kejang demam pada anak yang rentan. Jadi, munculnya kejang setelah anak mengalami muntah, diare, atau demam tidak otomatis berarti terdapat toksin yang secara langsung menyerang otak.
7. Tanda bahaya yang perlu segera dibawa ke rumah sakit

Pexels Anak yang mengalami muntah atau diare setelah mengonsumsi makanan tertentu memang perlu dipantau. Namun, orangtua harus lebih waspada jika muncul gejala yang mengarah pada gangguan sistem saraf.
Segera bawa anak ke IGD jika mengalami:
CDC juga menyarankan pertolongan medis ketika gejala keracunan makanan tergolong berat, termasuk muntah terus-menerus hingga tidak mampu mempertahankan cairan dan tanda-tanda dehidrasi.
Dengan demikian, keracunan makanan memang secara medis dapat berkaitan dengan gangguan saraf, bahkan hilang ingatan pada jenis keracunan tertentu. Akan tetapi, kasus seperti ini sangat spesifik.
Ketika seorang anak mengalami hilang ingatan setelah diduga keracunan makanan, penyebabnya tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan medis dan tidak cukup hanya berdasarkan urutan waktu antara makan dan munculnya gejala.
Itulah tadi informasi mengenai benarkah anak keracunan makanan bisa hilang ingatan dan sejumlah fakta medisnya. Sebagai informasi, keracunan makanan yang menyebabkan gangguan saraf sangat langka dan perlu ada uji toksisitas.





















