- Sesak napas atau bernapas lebih cepat dari biasanya.
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan.
- Batuk terus-menerus, terutama pada anak dengan asma.
- Mata merah dan terasa nyeri yang tidak membaik setelah dibilas.
- Bayi tampak lemas atau malas menyusu.
Abu Vulkanik Berbahaya, Ini 7 Cara Komunikasi ke Anak soal Keselamatan

Komunikasikan kondisi sesuai usia anak dengan bahasa sederhana, tenang, dan tidak menakut-nakuti agar anak memahami alasan perlu tetap di rumah dan menjaga kebersihan.
Ajarkan perlindungan dari abu vulkanik, mulai dari menutup jendela, membersihkan rumah dengan pel basah, menggunakan perlindungan yang sesuai, hingga menjaga mata dan kulit.
Kenali tanda bahaya pada anak, seperti sesak napas, bibir kebiruan, batuk terus-menerus, mata nyeri, atau bayi lemas dan malas menyusu, lalu segera cari pertolongan medis.
Paparan abu vulkanik perlu menjadi perhatian orangtua, terutama karena anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampaknya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) di Instagram mengimbau mengenai dampak paparannya ke anak dari bencana erupsi gunung berapi ini.
Dr. dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp. ETIA (K) di unggahan IDAI “Anak dan Bencana Erupsi Gunung Berapi" membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan orangtua untuk menjaga kesehatan dan keselamatan anak saat terjadi paparan abu vulkanik.
Selain melindungi anak dari paparan abu, orangtua juga perlu mengajarkan kebiasaan menjaga kebersihan dan keselamatan dengan cara yang sesuai usia. Komunikasi yang tepat penting agar anak memahami apa yang perlu dilakukan tanpa justru merasa semakin takut atau cemas.
Abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikel yang terkandung di dalamnya dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Anak dengan kondisi pernapasan tertentu juga dapat lebih rentan mengalami perburukan gejala.
Di sisi lain, situasi bencana dapat membuat anak merasa takut, cemas, atau stres. Karena itu, komunikasi dengan anak menjadi bagian penting dalam upaya melindungi mereka.
Lantas, bagaimana cara menjelaskan kebersihan dan keselamatan kepada anak saat terjadi paparan abu vulkanik? Berikut Popmama.com rangkum beberapa langkah yang dapat dilakukan orangtua.
Table of Content
1. Jelaskan kondisi dengan bahasa yang sesuai usia anak

Unsplash/Zach Lucero Anak perlu mendapatkan informasi mengenai apa yang sedang terjadi, tetapi cara menjelaskannya perlu disesuaikan dengan usia dan kemampuan mereka memahami situasi.
Untuk anak usia 3-5 tahun, orangtua dapat menggunakan kalimat sederhana dan menenangkan. Misalnya dengan ungkapan,"gunungnya sedang batuk. Jadi kita main di dalam rumah dulu supaya aman”.
Sementara itu, anak usia 6-10 tahun sudah dapat diberikan penjelasan yang lebih konkret. Misalnya, beri tahu bahwa abu vulkanik merupakan partikel yang bisa mengganggu pernapasan sehingga untuk sementara waktu jendela perlu ditutup dan aktivitas di luar rumah perlu dikurangi.
Untuk anak remaja dapat dilibatkan dalam berbagai persiapan keluarga, seperti mengecek persediaan masker, air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dalam tas siaga bencana. Dengan begitu, anak tidak hanya mendengar larangan, tetapi juga memahami alasan di balik aturan keselamatan yang diterapkan di rumah.
2. Ajarkan anak menjaga kebersihan rumah

Pexels/Tima Miroshnichenko Ketika abu vulkanik masuk ke lingkungan rumah, kebersihan menjadi hal yang perlu diperhatikan. Orangtua dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk mengajarkan anak mengenai kebiasaan menjaga kebersihan.
Jelaskan bahwa jendela dan pintu perlu ditutup rapat untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah. Jika terdapat celah yang memungkinkan abu masuk, celah tersebut dapat ditutup sementara.
Saat membersihkan lantai, hindari menyapu abu dalam kondisi kering karena partikel dapat kembali beterbangan dan terhirup. Sebagai gantinya, gunakan pel atau lap basah.
Anak juga perlu memahami bahwa tempat penyimpanan air harus ditutup. Buah dan sayuran yang akan dimakan pun perlu dicuci dengan lebih teliti.
Untuk anak yang masih kecil, orangtua bisa mengubah kegiatan bersih-bersih menjadi aktivitas sederhana yang menyenangkan, selama tetap aman dan sesuai usia.
3. Beri pengetahuan anak menggunakan perlindungan saat harus keluar

Pexels/August de Richelieu Idealnya, anak tetap berada di dalam rumah ketika udara di luar dipenuhi abu vulkanik. Namun, dalam kondisi tertentu, keluar rumah mungkin tidak dapat dihindari.
Di unggahan itu, dr. Yogi menjelaskan beberapa syarat anak bisa keluar rumah saat lingkungan dipenuhi abu vulkanik. Untuk anak yang lebih besar, masker yang dapat menutup wajah dengan baik, seperti N95 atau KN95, dapat digunakan sesuai kondisi dan kecocokan. Orangtua juga perlu memastikan masker terpasang dengan benar.
Bayi dan balita kecil tidak sebaiknya dipakaikan masker N95, karena penggunaan masker tertentu pada kelompok usia ini dapat menimbulkan risiko. Perlindungan utama bagi mereka adalah mengurangi paparan dengan tetap berada di ruangan tertutup.
Anak dengan asma juga perlu mendapatkan perhatian lebih. Orangtua sebaiknya memastikan obat pelega napas yang telah diresepkan dokter tersedia dan mengikuti rencana penanganan yang sudah diberikan. Ajarkan pula anak untuk tidak menyentuh atau mengucek mata apabila terkena abu.
4. Ajarkan cara melindungi mata dan tubuh

Pexels/vikesh zen Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan kulit. Karena itu, anak perlu mengetahui beberapa kebiasaan sederhana ketika harus berada di luar rumah. Jika terpaksa keluar, terutama untuk anak yang lebih besar dapat mengenakan pakaian yang menutupi tubuh, seperti baju lengan panjang dan celana panjang. Kacamata pelindung juga dapat membantu melindungi mata dari paparan partikel.
Untuk anak remaja dan menggunakan lensa kontak, lepaskan lensa kontak apabila mata terpapar abu atau terasa tidak nyaman. Bila mata terkena abu, ajarkan anak untuk segera membilasnya dengan air bersih mengalir dan tidak mengucek mata.
Setelah kembali ke rumah, biasakan anak mandi dan mengganti pakaian untuk membantu menghilangkan partikel abu yang mungkin menempel pada tubuh dan pakaian.
5. Jangan menakut-nakuti anak saat mengajarkan keselamatan

Unsplash/Christian Miranda Menjelaskan bahaya abu vulkanik bukan berarti membuat anak terus-menerus merasa takut.
Orangtua dapat mengakui perasaan anak sambil memberikan rasa aman. Orangtua bisa mengatakan, “wajar kalau merasa takut. Kita sudah bersiap dan sekarang kita bersama-sama di rumah”.
Hindari membicarakan kemungkinan terburuk secara berlebihan di depan anak. Anak juga sebaiknya tidak terus-menerus terpapar video atau konten bencana yang menakutkan di media sosial.
Jika anak mendengar informasi yang belum jelas, ajarkan mereka untuk bertanya kepada orangtua terlebih dahulu. Hal ini sekaligus membantu anak memahami bahwa tidak semua informasi yang beredar di media sosial dapat dipercaya.
6. Ajarkan anak mengenali tanda tubuh yang tidak biasa

Pexels/cottonbro studio Anak yang lebih besar dapat diajarkan untuk segera memberitahu orangtua apabila merasakan keluhan setelah terpapar abu vulkanik.
Orangtua perlu memperhatikan tanda-tanda seperti:
Jika muncul tanda bahaya, segera bawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan.
7. Jadikan keselamatan sebagai rutinitas keluarga

Pexels/Gustavo Fring Ketika terjadi bencana, anak mungkin lebih mudah mengikuti aturan jika sudah terbiasa melakukannya bersama keluarga. Orangtua dapat mengajak anak membuat rutinitas sederhana, seperti menutup jendela, mencuci tangan, membersihkan tubuh setelah dari luar, menyimpan masker di tempat yang mudah dijangkau, hingga mengetahui siapa yang harus dihubungi ketika membutuhkan bantuan.
Hal yang tidak kalah penting, orangtua perlu menjadi contoh. Anak akan lebih mudah memahami pentingnya menjaga kebersihan dan keselamatan ketika melihat orang dewasa di sekitarnya melakukan hal yang sama.
Dengan komunikasi yang tenang, informasi yang sesuai usia, serta kebiasaan kebersihan yang konsisten, orangtua dapat membantu anak menghadapi situasi paparan abu vulkanik tanpa membuat mereka semakin cemas.



















