Belakangan ini, media sosial ramai membahas sebuah video eksperimen nyeri haid yang diikuti seorang anak laki-laki. Setelah mencoba alat simulasi kram menstruasi, ia mengaku tidak bisa membayangkan harus tetap fokus belajar atau mengerjakan ujian sambil menahan rasa sakit tersebut.
Percakapan soal nyeri haid pun kembali jadi sorotan. Sebab kenyataannya, banyak remaja tetap harus menjalani hari seperti biasa meski sedang mengalami kram, pegal, mual, pusing, hingga sulit berkonsentrasi selama menstruasi.
Sayangnya, kondisi ini masih sering dianggap sepele di lingkungan sekolah. Tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih diam, menahan sakit sendiri, atau takut dianggap berlebihan saat mengeluh.
Padahal, sekolah juga punya peran penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi siswa yang sedang menstruasi. Nah, kira-kira apa saja yang seharusnya mulai diperhatikan sekolah?
