Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Cara Sekolah Bisa Lebih Peduli pada Siswa yang Nyeri Haid
Pexels/Polinazimmerman
  • Video eksperimen nyeri haid memicu diskusi luas tentang tantangan siswa perempuan yang tetap belajar meski mengalami kram, pegal, dan sulit fokus selama menstruasi.

  • Pentingnya sekolah menciptakan lingkungan suportif dengan menyediakan ruang istirahat nyaman, fleksibilitas tugas, serta pembalut darurat bagi siswa yang sedang menstruasi.

  • Perlunya edukasi guru dan normalisasi pembahasan menstruasi agar siswa merasa didengar, tidak malu, serta lebih berani menjaga kesehatan diri di lingkungan sekolah.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini, media sosial ramai membahas sebuah video eksperimen nyeri haid yang diikuti seorang anak laki-laki. Setelah mencoba alat simulasi kram menstruasi, ia mengaku tidak bisa membayangkan harus tetap fokus belajar atau mengerjakan ujian sambil menahan rasa sakit tersebut.

Percakapan soal nyeri haid pun kembali jadi sorotan. Sebab kenyataannya, banyak remaja tetap harus menjalani hari seperti biasa meski sedang mengalami kram, pegal, mual, pusing, hingga sulit berkonsentrasi selama menstruasi.

Sayangnya, kondisi ini masih sering dianggap sepele di lingkungan sekolah. Tidak sedikit siswa yang akhirnya memilih diam, menahan sakit sendiri, atau takut dianggap berlebihan saat mengeluh.

Padahal, sekolah juga punya peran penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman bagi siswa yang sedang menstruasi. Nah, kira-kira apa saja yang seharusnya mulai diperhatikan sekolah?

1. Berhenti menganggap nyeri haid sebagai hal “biasa aja”

Pexels/Polinazimmerman

Kalimat seperti:

“Kan semua perempuan juga ngalamin” atau “Dikit doang sakitnya” masih cukup sering terdengar.

Padahal, intensitas nyeri haid tiap orang bisa berbeda. Ada yang masih bisa beraktivitas normal, tapi ada juga yang sampai susah berdiri, lemas, atau sulit fokus di kelas.

Karena itu, penting bagi sekolah untuk tidak langsung mengecilkan keluhan siswa hanya karena menstruasi dianggap rutinitas bulanan.

2. Memberi siswa waktu untuk beristirahat sejenak

Pexels/sorashimazaki

Kadang siswa sebenarnya tidak ingin pulang, mereka hanya butuh waktu sebentar untuk menenangkan tubuhnya.

Punya ruang UKS yang nyaman, heating pad, air hangat, atau tempat istirahat yang tenang bisa sangat membantu siswa melewati kram menstruasi di sekolah.

Hal kecil seperti ini bisa membuat siswa merasa lebih diperhatikan dan aman.

3. Lebih fleksibel soal tugas atau ujian

Pexels/sorashimazaki

Nyeri haid bisa memengaruhi fokus, konsentrasi, bahkan stamina siswa selama belajar.

Beberapa remaja menggambarkan rasanya seperti “otak berkabut” karena sulit fokus pada pelajaran saat tubuh sedang sakit.

Karena itu, tidak ada salahnya jika sekolah memberi sedikit fleksibilitas, misalnya:

  • kesempatan ujian susulan,

  • tambahan waktu mengerjakan tugas,

  • atau izin belajar dari rumah jika kondisi benar-benar tidak memungkinkan.

4. Guru juga perlu mendapat edukasi soal nyeri haid

Pexels/sorashimazaki

Tidak semua guru memahami bahwa nyeri haid bisa berdampak cukup besar pada aktivitas sehari-hari siswa.

Akibatnya, ada siswa yang takut izin ke UKS karena khawatir dianggap malas, drama, atau hanya mencari alasan untuk keluar kelas.

Padahal, respons guru yang suportif bisa membuat siswa merasa jauh lebih nyaman dan tidak sendirian menghadapi rasa sakitnya.

5. Membuat pembahasan menstruasi menjadi lebih lumrah

Pexels/sorashimazaki

Sampai sekarang, menstruasi masih sering dianggap topik yang memalukan atau terlalu sensitif untuk dibicarakan di sekolah. Dilansir dari cbc.ca, rasa nyeri terhadap haid sendiri masih sering tidak dianggap serius, salah satu masalahnya adalah karena topik ini dianggap tabu.

Akibatnya, banyak siswa akhirnya memilih diam meski sedang kesakitan atau membutuhkan bantuan.

Padahal, ketika menstruasi mulai dibahas dengan lebih terbuka dan sehat, siswa juga jadi lebih berani memahami tubuh mereka sendiri tanpa rasa malu.

6. Menyediakan pembalut darurat di sekolah

Pexels/sorashimazaki

Situasi seperti menstruasi datang tiba-tiba atau lupa membawa pembalut bisa membuat siswa panik sepanjang hari.

Karena itu, menyediakan pembalut darurat di UKS atau toilet sekolah sebenarnya bisa menjadi bantuan sederhana yang sangat berarti bagi siswa.

Selain praktis, hal ini juga menunjukkan bahwa sekolah peduli pada kebutuhan dasar siswanya.

7. Mendengarkan siswa saat mereka bilang sedang kesakitan

Pexels/sorashimazaki

Kadang yang paling dibutuhkan remaja hanyalah didengarkan tanpa langsung dihakimi.

Nyeri haid memang tidak selalu kelihatan, tetapi rasa sakitnya tetap ada. Saat siswa merasa dipercaya, mereka biasanya juga lebih nyaman untuk mencari bantuan dan menjaga kesehatannya dengan baik.

Nah, Ma, nyeri haid bukan sekadar urusan “tahan sedikit nanti juga hilang”. Untuk sebagian remaja, kondisi ini benar-benar bisa memengaruhi fokus belajar, energi, hingga kesehatan mental mereka sepanjang hari. Karena itu, lingkungan sekolah yang lebih suportif bisa membuat siswa merasa jauh lebih nyaman dan tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Editorial Team

Related Article

7 Nama Negara dari Huruf E31 Mei 2026, 00:20 WIBBig Kid