- tinggi lemak,
- makanan cepat saji,
- minuman manis.
5 Penyebab GERD pada Anak yang Perlu Mama Ketahui

- GERD pada anak sering tidak disadari karena gejalanya mirip gangguan lain, padahal bisa mengganggu tumbuh kembang jika refluks asam terjadi berulang.
- Penyebab utama GERD meliputi obesitas, pelemahan katup kerongkongan, paparan asap rokok, gangguan saraf seperti cerebral palsy, serta efek samping obat tertentu.
- Pencegahan dan penanganan GERD perlu mencakup pola makan sehat, menjaga berat badan ideal, lingkungan bebas asap rokok, serta konsultasi dokter untuk terapi yang sesuai.
GERD atau gastroesophageal reflux disease pada anak sering kali tidak langsung dikenali karena gejalanya bisa menyerupai gangguan kesehatan lain.
Banyak orangtua mengira keluhan seperti muntah berulang, batuk yang tidak kunjung sembuh, nyeri ulu hati, atau anak yang sulit makan hanya disebabkan oleh flu, masuk angin, atau masalah pencernaan biasa.
Padahal, jika refluks asam lambung terjadi berulang hingga menimbulkan keluhan dan mengganggu aktivitas maupun tumbuh kembang anak, kondisi tersebut dapat mengarah pada GERD.
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan seorang anak mengalami GERD, mulai dari fungsi katup lambung yang belum optimal hingga kondisi medis tertentu yang meningkatkan risiko refluks asam.
Lantas, apa saja penyebab GERD pada anak? Berikut Popmama.com telah merangkum informasinya. Yuk, simak!
1. Berat badan berlebih atau obesitas

Anak yang mengalami berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami gastroesophageal reflux disease (GERD).
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan di dalam rongga perut.
Kondisi ini membuat isi lambung, termasuk asam lambung, lebih mudah terdorong naik ke kerongkongan, terutama setelah anak makan dalam porsi besar atau berbaring.
Selain itu, obesitas sering berkaitan dengan pola makan yang kurang sehat, seperti terlalu sering mengonsumsi makanan:
Kebiasaan tersebut dapat memperlambat proses pengosongan lambung sehingga refluks asam lebih mudah terjadi.
Jika berlangsung terus-menerus, asam lambung yang naik dapat mengiritasi dinding kerongkongan dan memicu gejala seperti nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada (heartburn), mual, hingga batuk berkepanjangan.
Karena itu, menjaga berat badan ideal melalui pola makan bergizi seimbang dan aktivitas fisik rutin tidak hanya baik untuk kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga membantu menurunkan risiko GERD pada anak.
2. Katup kerongkongan bagian bawah melemah

Di antara kerongkongan dan lambung terdapat otot berbentuk cincin yang disebut lower esophageal sphincter (LES).
Otot ini berfungsi sebagai katup yang membuka saat makanan masuk ke lambung, kemudian menutup rapat agar isi lambung tidak kembali naik ke kerongkongan.
Menurut NIDDK, GERD terjadi ketika LES melemah atau terlalu sering relaksasi pada waktu yang tidak seharusnya.
Saat katup ini tidak dapat menutup dengan baik, asam lambung akan lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan.
Akibatnya, anak dapat mengalami rasa panas di dada, nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, hingga kesulitan menelan.
Pada sebagian anak, refluks asam bahkan dapat memicu batuk kronis, suara serak, atau gangguan tidur karena gejalanya muncul saat malam hari.
Pelemahan LES bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk obesitas, kebiasaan makan dalam porsi besar, atau kondisi medis tertentu.
Oleh sebab itu, penanganan GERD biasanya tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga disertai perubahan pola makan dan gaya hidup agar kerja katup kerongkongan menjadi lebih optimal.
3. Terpapar asap rokok

Paparan asap rokok menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko GERD pada anak.
NIDDK menyebutkan bahwa anak yang menghirup asap rokok, baik secara langsung maupun sebagai perokok pasif, lebih rentan mengalami refluks asam.
Hal ini karena zat kimia dalam asap rokok dapat memengaruhi fungsi lower esophageal sphincter (LES) sehingga katup tersebut lebih mudah mengendur dan tidak mampu menahan isi lambung tetap berada di tempatnya.
Selain mempermudah refluks, asap rokok juga dapat memperburuk iritasi pada kerongkongan serta menghambat proses penyembuhan jika sudah terjadi peradangan.
Tak heran apabila anak yang sering terpapar asap rokok berisiko mengalami gejala GERD yang lebih sering kambuh, seperti batuk kronis, nyeri dada, atau sensasi panas di tenggorokan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, orangtua sebaiknya menciptakan lingkungan yang bebas asap rokok.
Hindari merokok di dalam rumah, mobil, atau di dekat anak karena paparan asap rokok dapat memengaruhi kesehatan saluran napas sekaligus sistem pencernaannya.
4. Mengalami gangguan saraf tertentu

Menurut NIDDK, anak dengan gangguan saraf seperti cerebral palsy memiliki kemungkinan lebih besar mengalami refluks asam dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki gangguan tersebut.
Hal ini karena sistem saraf berperan penting dalam mengatur koordinasi otot saat menelan serta proses pengosongan lambung.
Jika fungsi saraf terganggu, makanan dapat berada lebih lama di dalam lambung sehingga tekanan di dalam lambung meningkat.
Akibatnya, isi lambung lebih mudah naik kembali ke kerongkongan.
Selain itu, beberapa anak dengan gangguan neurologis juga mengalami kesulitan menelan atau memiliki tonus otot yang lemah sehingga memperbesar peluang terjadinya refluks.
Orangtua perlu mewaspadai apabila anak dengan gangguan saraf sering muntah, batuk setelah makan, sulit makan, atau berat badannya sulit bertambah.
Penanganan GERD pada kelompok anak ini biasanya memerlukan pendekatan yang lebih menyeluruh, mulai dari pengaturan posisi makan, modifikasi tekstur makanan, hingga pengobatan sesuai rekomendasi dokter.
5. Efek samping obat-obatan tertentu

GERD pada anak juga dapat dipicu oleh penggunaan obat-obatan tertentu.
Berdasarkan informasi dari NIDDK, beberapa jenis obat diketahui dapat menyebabkan atau memperburuk refluks asam karena memengaruhi kerja lower esophageal sphincter (LES) atau memperlambat proses pengosongan lambung.
Akibatnya, isi lambung menjadi lebih mudah naik ke kerongkongan dan memicu gejala GERD.
Meski demikian, bukan berarti semua anak yang mengonsumsi obat tersebut pasti mengalami GERD.
Risiko munculnya gejala dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi kesehatan anak, jenis obat, dosis, hingga lamanya penggunaan.
Karena itu, orangtua tidak disarankan menghentikan obat secara sepihak apabila anak mulai mengalami keluhan refluks.
Jika gejala seperti nyeri ulu hati, rasa asam di mulut, batuk berkepanjangan, atau mual muncul setelah anak mengonsumsi obat tertentu, sebaiknya segera konsultasikan kepada dokter.
Dokter akan mengevaluasi apakah perlu dilakukan penyesuaian dosis, penggantian obat, atau pemberian terapi tambahan agar kondisi yang sedang diobati tetap terkendali tanpa memperburuk GERD.
GERD pada anak bukanlah kondisi yang boleh dianggap sepele, terlebih jika gejalanya muncul berulang dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Menurut Mama, adakah kebiasaan sehari-hari yang perlu mulai diubah agar kesehatan anak tetap terjaga?




















