Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Gangguan Mental pada Anak Tidak Mudah Dideteksi, Ini Kata Dokter!

Gangguan Mental pada Anak Tidak Mudah Dideteksi, Ini Kata Dokter!
Pexels/Mikhail Nilov
Intinya Sih
  • dr. Angga Wirahmadi menegaskan gangguan mental anak sulit dideteksi, sehingga kepekaan orangtua penting untuk mengenali perubahan perilaku dan emosi sejak dini.
  • Masa remaja penuh perubahan fisik, emosional, dan sosial yang membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan, depresi, serta tekanan dari lingkungan dan media sosial.
  • Kesehatan mental remaja dipengaruhi faktor individu, keluarga, dan lingkungan; komunikasi hangat serta dukungan emosional orangtua menjadi kunci pencegahan masalah psikologis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mama mungkin lebih mudah menyadari saat anak mengalami demam, batuk, atau luka di tubuhnya. Namun, kesehatan mental sering kali berbeda.

Tidak semua anak yang mengalami masalah mental akan menunjukkan tanda yang jelas, sehingga kondisi ini kerap terlambat disadari.

dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K), mengingatkan bahwa gangguan mental pada anak dan remaja memang tidak mudah dideteksi.

Karena itu, kepekaan orangtua menjadi salah satu kunci penting agar anak bisa mendapatkan dukungan dan penanganan sedini mungkin.

Dari sini terlihat bahwa menjaga kesehatan mental anak sama pentingnya dengan memastikan tumbuh kembang fisiknya berjalan optimal.

Terlebih, masa remaja merupakan periode yang penuh perubahan sehingga membuat mereka lebih rentan mengalami berbagai tantangan emosional maupun psikologis.

Lantas, mengapa remaja lebih rentan mengalami masalah kesehatan mental dan bagaimana cara orangtua membantu menjaganya? Popmama.com telah merangkum informasi selengkapnya berikut ini.

1. Apa yang dimaksud dengan kesehatan mental yang sehat?

Sehat adalah kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial
Pexels/kaboompics

Ketika mendengar kata sehat, banyak orang langsung membayangkan tubuh yang bugar dan bebas dari penyakit.

Menurut World Health Organization (WHO), sehat adalah kondisi sejahtera secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, bukan sekadar tidak mengalami penyakit atau kelemahan.

Hal serupa juga disampaikan oleh Kementerian Kesehatan RI. Seseorang dikatakan sehat apabila memiliki kesehatan fisik, kesehatan sosial, dan kesehatan jiwa.

Artinya, kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan tubuh.

Kesehatan jiwa sendiri ditandai dengan beberapa kemampuan, seperti:

  • merasa senang dan bahagia,
  • mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan sehari-hari,
  • menerima kelebihan maupun kekurangan diri sendiri serta orang lain,
  • mampu melakukan aktivitas yang bermanfaat.

Anak atau remaja yang sehat secara mental juga umumnya dapat membangun hubungan yang baik dengan keluarga dan teman-temannya.

Sayangnya, kondisi kesehatan mental sering kali tidak terlihat secara kasat mata.

Karena itulah, dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K), mengingatkan bahwa gangguan mental pada anak tidak mudah dideteksi.

Dibutuhkan kepekaan orangtua untuk mengenali perubahan perilaku, emosi, maupun kebiasaan anak yang mungkin menjadi tanda awal adanya masalah psikologis.

2. Mengapa remaja lebih rentan mengalami gangguan mental?

Banyak faktor yang menyebabkan remaja rentan mengalami gangguan mental
Pexels/Pavel Danilyuk

Masa remaja merupakan periode yang penuh perubahan. Menurut WHO, remaja berada pada rentang usia 10-19 tahun.

Di fase ini, anak tidak hanya mengalami pertumbuhan fisik, tetapi juga perubahan cara berpikir, emosi, hingga hubungan sosial.

Semua perubahan tersebut dapat menjadi tantangan tersendiri apabila tidak diimbangi dengan dukungan dari lingkungan sekitar.

dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K) menjelaskan bahwa ada banyak perubahan yang dialami remaja.

Dari sisi fisik, mereka memasuki masa pubertas dengan perubahan hormon yang memengaruhi suasana hati dan perilaku.

Dari sisi psikologis, remaja mulai mencari jati diri, memiliki role model, serta mulai ingin menjalin hubungan yang lebih dekat dengan orang lain.

Selain itu, mereka juga mulai lebih peduli terhadap penampilan, ingin diterima oleh kelompok pertemanan, dan belajar mengambil keputusan sendiri meski kemampuan mengendalikan emosi belum berkembang secara maksimal.

Belum lagi adanya paparan media sosial yang membuat remaja lebih mudah membandingkan diri dengan orang lain atau terpapar komentar negatif.

Perubahan yang terjadi secara bersamaan inilah yang membuat remaja menjadi kelompok usia yang lebih rentan mengalami gangguan kecemasan, depresi, hingga berbagai masalah kesehatan mental lainnya.

3. Faktor yang memengaruhi kesehatan mental remaja

Lingkungan keluarga memiliki pengaruh terhadap kesehatan mental anak
Pexels/cottonbro studio

Masalah kesehatan mental pada remaja umumnya tidak muncul karena satu penyebab saja.

Menurut dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K), kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari diri remaja sendiri, keluarga, hingga lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang.

Dari faktor individu, setiap remaja memiliki kemampuan yang berbeda dalam mengelola emosi, menghadapi tekanan, maupun menyelesaikan masalah.

Ada remaja yang lebih mudah beradaptasi dengan perubahan, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menerima situasi baru.

Lingkungan keluarga juga memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental anak.

Hubungan yang hangat, komunikasi yang terbuka, serta dukungan emosional dari orangtua dapat menjadi pelindung ketika remaja menghadapi berbagai tantangan.

Sebaliknya, konflik keluarga, kurangnya perhatian, atau komunikasi yang minim dapat membuat remaja merasa sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Selain itu, lingkungan pertemanan, sekolah, hingga media sosial turut berperan.

Tekanan untuk diterima dalam kelompok, pengalaman bullying, hingga paparan konten yang memicu perbandingan sosial dapat memengaruhi kondisi emosional remaja.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk tidak hanya memperhatikan prestasi akademik anak, tetapi juga memahami bagaimana kehidupan sosial dan emosinya sehari-hari.

4. Gangguan kesehatan mental bisa muncul bersamaan dengan masalah lainnya

Remaja juga rentan mengalami masalah kesehatan lainnya
Pexels/kaboompics

Selain menghadapi tantangan emosional, remaja juga rentan mengalami berbagai masalah kesehatan lain yang saling berkaitan.

dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K) menjelaskan bahwa persoalan pada remaja tidak hanya terbatas pada kesehatan mental, tetapi juga dapat mencakup masalah fisik, sosial, dan perilaku yang pada akhirnya memengaruhi kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Dari sisi fisik, remaja dapat mengalami anemia, gangguan nutrisi, penyakit menular, hingga meningkatnya risiko penyakit metabolik akibat pola makan dan gaya hidup yang kurang sehat.

Sementara itu, pada aspek sosial dan perilaku, terdapat berbagai tantangan seperti:

  • kecanduan gawai,
  • bullying,
  • penyalahgunaan NAPZA,
  • konsumsi minuman beralkohol,
  • merokok,
  • balapan liar,
  • kehamilan pada remaja.

Di sisi kesehatan mental, gangguan yang paling sering ditemukan antara lain:

  • gangguan kecemasan,
  • depresi,
  • gangguan makan,
  • meningkatnya risiko bunuh diri.

Bahkan, berdasarkan Indonesia - National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 15,5 juta remaja dilaporkan memiliki masalah kesehatan mental.

Data tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja bukanlah isu yang bisa dianggap sepele.

Ketika berbagai faktor risiko muncul secara bersamaan, remaja membutuhkan lingkungan yang aman dan suportif agar mereka merasa nyaman mencari bantuan sebelum kondisinya berkembang menjadi lebih serius.

5. Cara menjaga kesehatan mental remaja agar tetap sehat

Ciptakan lingkungan yang dapat mendukung kesehatan mental anak
Pexels/Kampus Production

Menjaga kesehatan mental remaja tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul.

Justru, upaya pencegahan perlu dilakukan sejak dini dengan membangun kebiasaan positif dan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Menurut dr. Angga Wirahmadi, Sp.A., Subsp. T.K.P.S. (K), remaja perlu didorong untuk aktif melakukan berbagai kegiatan yang bermanfaat, seperti:

  • bersekolah,
  • mengikuti organisasi,
  • mengembangkan hobi,
  • berolahraga,
  • mengikuti kegiatan keagamaan sesuai keyakinannya.

Aktivitas tersebut dapat membantu remaja menyalurkan energi, membangun rasa percaya diri, sekaligus memperluas relasi sosial yang sehat.

Di lingkungan keluarga, orangtua juga memiliki peran besar dalam membentuk kesehatan mental anak.

Komunikasi yang hangat, melibatkan anak dalam tanggung jawab sederhana seperti merapikan kamar, menata buku, atau mengurus pakaian sendiri dapat membantu mereka belajar mandiri dan merasa memiliki peran dalam keluarga.

Selain itu, remaja perlu diarahkan untuk menjauhi berbagai perilaku berisiko, seperti merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, penyalahgunaan NAPZA, maupun paparan pornografi.

Tak kalah penting, orangtua perlu menciptakan suasana yang membuat anak merasa aman untuk bercerita.

Di era digital, teknologi seperti AI juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi awal atau teman berdiskusi, tetapi bukan sebagai pengganti diagnosis maupun pendampingan dari tenaga kesehatan profesional.

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari tumbuh kembang anak yang tidak boleh diabaikan.

Berbeda dengan gangguan fisik yang sering kali terlihat jelas, masalah mental dapat muncul secara perlahan dan tidak selalu menunjukkan tanda yang mudah dikenali.

Menurut Mama, apakah anak sudah merasa cukup nyaman untuk bercerita ketika sedang menghadapi masalah atau tekanan?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More