Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Pesan Penting IDAI untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak

7 min read
7 Pesan Penting IDAI untuk Mencegah Pelecehan Seksual pada Anak
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • IDAI menegaskan kekerasan seksual dapat terjadi di rumah maupun lingkungan pendidikan, menimpa anak perempuan dan laki-laki, serta sering terlambat atau tidak terungkap.

  • Orangtua perlu mengajarkan nama tubuh yang benar, batas area pribadi, hak berkata tidak, dan kebiasaan bercerita tanpa takut disalahkan.

  • Anak perlu mengenal orang dewasa tepercaya; orangtua juga perlu memeriksa sistem pelaporan serta perlindungan anak sebelum dan selama memilih sekolah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kasus pelecehan seksual pada anak dan remaja kembali menjadi perhatian setelah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membagikan edukasi penting terkait perlindungan anak.

Menurut IDAI, kekerasan seksual dapat terjadi di berbagai lingkungan yang seharusnya aman bagi anak, mulai dari sekolah, pesantren, sekolah berasrama, hingga rumah.

Banyak anak yang baru berani bercerita setelah waktu yang cukup lama. Bahkan, sebagian kasus tidak pernah terungkap sama sekali.

Korban kekerasan seksual juga tidak hanya anak perempuan. Anak laki-laki memiliki risiko yang sama untuk menjadi korban. Karena itu, setiap orangtua perlu memahami tanda-tanda yang mungkin muncul serta membekali anak dengan pengetahuan yang dapat membantu mereka melindungi diri.

Berikut Popmama.com telah merangkum 7 pesan penting dari IDAI terkait pencegahan pelecehan seksual pada anak. Yuk, simak penjelasannya!

  1. 1. Ajarkan nama bagian tubuh dengan benar

    Kenalkan nama bagian tubuh menggunakan istilah yang benar
    Pexels/August de Richelieu

    Sejak dini, Mama dan Papa dapat mengenalkan nama-nama bagian tubuh kepada anak menggunakan istilah yang benar. Tidak perlu merasa malu atau menganggap pembicaraan tentang tubuh sebagai sesuatu yang tabu.

    Anak perlu mengetahui bahwa setiap bagian tubuh memiliki nama, termasuk bagian tubuh yang bersifat pribadi. Pengetahuan tersebut membantu anak memahami tubuhnya sendiri sekaligus membuatnya lebih mudah menjelaskan apabila ada sesuatu yang terjadi pada tubuhnya.

    Penggunaan nama bagian tubuh yang benar juga dapat memudahkan komunikasi antara anak dan orang dewasa ketika si Kecil sedang menceritakan pengalaman tertentu. Anak tidak perlu merasa bingung mencari istilah atau takut menggunakan nama bagian tubuh yang sebenarnya.

    Mama dan Papa bisa mengenalkan bagian tubuh melalui percakapan sehari-hari, saat mandi, berpakaian, atau ketika mengajarkan anak mengenai kebersihan diri. Sesuaikan penjelasannya dengan usia dan tingkat pemahaman anak agar informasi dapat diterima dengan baik.

    Hindari membuat anak merasa malu terhadap tubuhnya sendiri. Ajarkan bahwa tubuh merupakan sesuatu yang harus dihargai dan dijaga.

  2. 2. Kenalkan area pribadi yang tidak boleh dilihat atau disentuh orang lain

    Anak perlu memahami bahwa terdapat bagian tubuh yang bersifat pribadi
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Anak juga perlu memahami bahwa terdapat bagian tubuh yang bersifat pribadi. IDAI mengingatkan bahwa area seperti:

    • dada,
    • bokong,
    • alat kelamin tidak boleh dilihat atau disentuh sembarang orang.

    Mama dan Papa dapat menjelaskan aturan ini menggunakan bahasa sederhana yang mudah dimengerti anak. Misalnya, beri tahu bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian dalam merupakan area pribadi yang harus dijaga.

    Anak juga perlu mengetahui bahwa orang lain tidak boleh meminta mereka menunjukkan atau menyentuh area pribadi tersebut. Jika ada orang yang mencoba melakukannya, anak berhak menolak dan segera mencari bantuan dari orang dewasa yang dipercaya.

    Namun, orangtua juga perlu menjelaskan bahwa terdapat kondisi tertentu ketika tubuh anak mungkin perlu diperiksa atau dibantu oleh orang dewasa, seperti saat pemeriksaan medis atau ketika membutuhkan bantuan untuk membersihkan diri.

    Dalam situasi tersebut, anak perlu didampingi dan diberi penjelasan mengenai apa yang akan dilakukan.

    Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui bagian tubuh mana yang bersifat pribadi, tetapi juga memahami bahwa dirinya memiliki hak atas tubuhnya sendiri.

  3. 3. Ajarkan anak bahwa mereka boleh berkata "tidak"

    Anak perlu mengetahui bahwa mereka boleh menolak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Tidak sedikit anak yang sejak kecil diajarkan untuk selalu menuruti orang yang lebih tua. Padahal, anak juga perlu mengetahui bahwa mereka boleh menolak ketika merasa tidak nyaman, termasuk ketika berkaitan dengan tubuhnya.

    Mama dan Papa dapat mengajarkan si Kecil bahwa mengatakan "tidak" bukan berarti bersikap kasar atau tidak menghormati orang lain. Anak berhak menolak sentuhan, pelukan, atau perlakuan tertentu jika membuatnya merasa tidak nyaman.

    Kemampuan ini dapat dilatih melalui situasi sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika anak tidak ingin dipeluk oleh seseorang, orangtua dapat mengajarkan bahwa ia boleh mengatakan:

    "Aku tidak mau dipeluk."

    Latihan sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa perasaannya juga penting. Anak akan belajar bahwa ia tidak harus selalu menerima perlakuan orang lain hanya karena orang tersebut lebih tua, dikenal, atau memiliki posisi tertentu.

    Jika suatu saat anak berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman, keberanian untuk mengatakan "tidak" dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan diri.

    Namun, Mama dan Papa juga perlu menekankan bahwa jika anak tidak mampu menolak atau tidak sempat berkata tidak, hal tersebut bukan kesalahan anak.

  4. 4. Ajarkan anak untuk selalu bercerita tentang pengalaman yang berkaitan dengan tubuhnya

    Komunikasi terbuka menjadi  bekal penting untuk melindungi anak
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Komunikasi terbuka menjadi salah satu bekal penting untuk melindungi anak. Mama dan Papa perlu membuat si Kecil merasa bahwa mereka dapat bercerita mengenai apa pun yang dialaminya, termasuk pengalaman yang berkaitan dengan tubuh.

    Anak mungkin tidak langsung memahami apakah suatu tindakan merupakan sesuatu yang salah. Mereka juga bisa merasa bingung, takut, malu, atau khawatir akan dimarahi jika menceritakannya kepada orangtua.

    Karena itu, sejak dini orangtua dapat membiasakan percakapan sederhana mengenai aktivitas anak sehari-hari. Tanyakan bagaimana kegiatannya di sekolah, dengan siapa ia bermain, atau apakah ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.

    Ketika anak bercerita, usahakan untuk tidak langsung menyalahkan atau memotong ceritanya. Dengarkan terlebih dahulu dan berikan kesempatan kepada anak untuk menyampaikan pengalaman dengan caranya sendiri.

    Anak juga perlu mengetahui bahwa pengalaman apa pun yang berkaitan dengan tubuhnya boleh dan perlu diceritakan kepada Mama dan Papa. Dengan komunikasi yang terbuka, orangtua dapat lebih cepat mengetahui apabila ada situasi yang membutuhkan perhatian atau perlindungan.

  5. 5. Kenalkan orang dewasa lain yang aman untuk menjadi tempat bercerita

    Anak perlu memiliki beberapa orang dewasa yang tepercaya
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mama dan Papa tentu menjadi orang yang paling dekat dengan anak. Namun, anak juga perlu memiliki beberapa orang dewasa tepercaya yang dapat menjadi tempat meminta bantuan ketika orangtua tidak berada di dekatnya.

    Orang dewasa yang aman tersebut bisa berasal dari keluarga, seperti:

    • kakek,
    • nenek,
    • tante,
    • anggota keluarga lainnya.

    Di lingkungan sekolah, orang tersebut bisa berupa:

    • guru,
    • wali kelas,
    • konselor,
    • pihak lain yang memang memiliki tanggung jawab dalam perlindungan anak.

    Mama dan Papa dapat menyebutkan beberapa nama kepada anak dan menjelaskan bahwa mereka boleh meminta bantuan kepada orang tersebut apabila merasa takut, tidak nyaman, atau mengalami sesuatu yang tidak bisa mereka hadapi sendiri.

    Penting juga untuk menjelaskan bahwa orang dewasa yang aman akan mendengarkan cerita anak, menghargai batasan tubuhnya, dan membantu mencari pertolongan ketika dibutuhkan.

    Dengan memiliki lebih dari satu orang dewasa tepercaya, anak memiliki pilihan tempat untuk mencari bantuan, terutama ketika sedang jauh dari rumah atau merasa kesulitan berbicara langsung kepada Mama dan Papa.

  6. 6. Tanyakan kepada sekolah tentang sistem pelaporan

    Lingkungan belajar memiliki peran penting dalam memastikan keamanan
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab keluarga. Lingkungan tempat anak belajar juga memiliki peran penting dalam memastikan anak berada di tempat yang aman.

    Karena itu, sebelum atau selama anak bersekolah, Mama dan Papa dapat menanyakan kepada pihak sekolah atau pesantren mengenai sistem perlindungan anak yang tersedia.

    Cari tahu kepada siapa anak dapat melapor apabila mengalami kekerasan, pelecehan, perundungan, atau situasi lain yang membuatnya tidak aman.

    Mama dan Papa juga dapat menanyakan bagaimana prosedur yang akan dilakukan ketika ada laporan dari anak. Misalnya, siapa yang menerima laporan, bagaimana korban mendapatkan pendampingan, serta bagaimana pihak sekolah memastikan keselamatan anak selama proses penanganan berlangsung.

    Informasi tersebut penting diketahui orangtua agar mereka tidak baru mencari tahu ketika masalah sudah terjadi.

    Mama dan Papa juga bisa menyampaikan informasi tersebut kepada anak menggunakan bahasa yang sederhana. Dengan begitu, anak mengetahui harus mencari siapa ketika membutuhkan bantuan saat berada di sekolah.

  7. 7. Lakukan riset sebelum memilih sekolah

    Sistem perlindungan anak juga perlu menjadi pertimbangan
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Memilih sekolah untuk anak bukan hanya mengenai kualitas akademik dan fasilitas. Faktor keamanan serta sistem perlindungan anak juga perlu menjadi pertimbangan orangtua.

    Sebelum menentukan pilihan, Mama dan Papa dapat melakukan riset mengenai kredibilitas sekolah atau pesantren serta para pengajarnya. Jika memungkinkan, kunjungi langsung lingkungan sekolah untuk melihat bagaimana interaksi antara guru dan siswa berlangsung.

    Orangtua juga dapat mencari informasi dari sumber yang kredibel serta bertanya kepada orangtua lain mengenai pengalaman mereka. Cari tahu apakah sekolah memiliki aturan yang jelas mengenai perlindungan anak dan bagaimana lembaga tersebut menangani laporan apabila terjadi kekerasan.

    Riset seperti ini bukan berarti Mama dan Papa harus mencurigai semua orang di sekitar anak. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan si Kecil mendapatkan lingkungan belajar yang aman dan memiliki mekanisme perlindungan yang jelas.

    Jika anak bercerita, tetap tenang dan jangan menyalahkannya. Hindari langsung menyalahkan anak, mempertanyakan mengapa ia tidak melawan, atau mengatakan bahwa seharusnya ia melakukan sesuatu yang berbeda.

    Itulah 7 pesan penting dari IDAI terkait pencegahan pelecehan seksual pada anak. Hati-hati dan tetap dampingi anak ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More