“Apalagi kaitannya dengan anak yatim piatu ini (ARS). Itu bukan sendirian, jangan fitnah. Itu bertiga. Di media fotonya jualan daun pisang itu nggak benar, jangan dibuat dramatis,” jelas Samsuri di klarifikasi video TikTok.
Viral Anak SD di Situbondo Disebut Jual Daun Pisang Demi Sekolah

Kisah ARS viral setelah dinarasikan hidup sendiri dan berjualan daun pisang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membiayai sekolah.
Pemerintah setempat mengklarifikasi bahwa ARS tinggal bersama saudara dan pamannya, serta keluarganya menerima bantuan sosial rutin.
Kasus ini menyoroti pentingnya perlindungan sosial, akses pendidikan, dan verifikasi informasi sebelum memberikan bantuan.
Kisah seorang anak SD berusia 10 tahun di Situbondo, Jawa Timur, menjadi perhatian setelah ramai dibagikan di media sosial. Videonya yang sedang berjualan daun pisang viral dan di-repost banyak orang.
Anak itu berinisial ARS dinarasikan hidup seorang diri setelah kedua orangtuanya meninggal dunia dan harus berjualan daun pisang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membiayai sekolah.
Cerita tersebut kemudian mengundang simpati netizen. Namun, setelah informasi itu menyebar luas, pemerintah setempat memberikan klarifikasi mengenai kondisi sebenarnya. Sejumlah bagian dari narasi yang beredar disebut tidak sesuai dengan hasil pengecekan di lapangan.
Di sisi lain, viralnya kisah ARS kembali mengingatkan pentingnya memastikan anak tetap memperoleh perlindungan sosial dan akses pendidikan, terutama setelah kehilangan orangtua.
Berikut Popmama.com telah merangkum kronologi viral dan fakta mengenai kondisi ARS.
Table of Content
1. Viral karena disebut jual daun pisang demi makan dan sekolah

Pexels/SunLi S ARS menjadi perhatian setelah kisahnya ramai beredar di media sosial. Anak berusia 10 tahun asal Kapongan, Situbondo, itu dinarasikan harus berjualan daun pisang sepulang sekolah untuk mendapatkan uang.
Dalam unggahan yang beredar, hasil penjualan daun pisang tersebut disebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan sekaligus membantu membiayai sekolahnya. Narasi inilah yang kemudian memancing simpati warganet dan membuat kisah ARS cepat menyebar.
2. ARS juga dinarasikan tinggal seorang diri setelah orangtuanya meninggal

Pexels/KoolShooters Selain disebut berjualan demi kebutuhan hidup, ARS juga dikisahkan tinggal seorang diri di rumah peninggalan kedua orangtuanya. Ayahnya disebut meninggal lebih dulu karena sakit, lalu sang Mama meninggal setelah berjuang melawan kanker.
Narasi bahwa ARS harus menjalani hidup sendiri di usia 10 tahun semakin memperkuat perhatian publik terhadap kisahnya. Namun, bagian inilah yang kemudian mendapat klarifikasi dari pemerintah desa dan pihak kecamatan.
3. Pemerintah desa bantah ARS tinggal sendiri dan berjualan daun pisang

Tiktok.com/@kec.kapongan Setelah kisah tersebut viral, pemerintah Desa Curah Cottok dan Kecamatan Kapongan memberikan klarifikasi. Di akun TikTok Kecamatan Kapongan @kec.kapongan, Kepala Desa Curah Cottok, Samsuri, membenarkan bahwa kedua orangtua ARS memang telah meninggal dunia.
Namun, ia membantah bahwa ARS hidup seorang diri. Pemerintah desa pun meluruskan beberapa informasi agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan narasi yang beredar di media sosial.
Berdasarkan keterangan pemerintah setempat, ARS tinggal bersama saudara-saudaranya serta seorang paman di rumah peninggalan orangtuanya.
Pihak kecamatan juga disebut telah mengecek kondisi rumah dan menyatakan hunian tersebut layak ditempati. Narasi bahwa ARS harus berjualan daun pisang untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup sehari-harinya juga dibantah. Keluarganya disebut telah menerima bantuan sosial rutin dari pemerintah dan bantuan dari pihak desa.
“Kaitannya dengan sekolahnya, bukan hanya desa yang menanggung. Ada saudara yang lain juga untuk sangu-nya (jajannya). Sekolah juga sudah diperhatikan. Kalau dari desa juga dikasih beras. Bantuan juga rutin meski cairnya tidak setiap bulan, kadang 3 bulan sekali. Tidak pernah dibiarkan,” jelas Samsuri.
Kepala desa turut mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penggalangan dana yang menggunakan kisah ARS. Menurut keterangan pemerintah setempat, terdapat kekhawatiran bahwa konten mengenai anak tersebut dimanfaatkan untuk menarik donasi, sementara dana yang dihimpun disebut tidak diterima langsung oleh keluarga.
4. Kasus ARS mengingatkan pentingnya akses pendidikan dan perlindungan anak

Pexels/Sóc Năng Động Terlepas dari perbedaan antara narasi yang viral dan klarifikasi yang disampaikan pemerintah setempat, kisah ARS memperlihatkan betapa kuatnya perhatian publik ketika seorang anak dikaitkan dengan persoalan ekonomi dan keberlanjutan sekolah.
Hal ini juga menjadi pengingat bahwa anak yang meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan, dan perlindungan sosial agar pendidikan mereka tidak terputus.
Secara nasional, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan partisipasi sekolah anak usia sekolah dasar sudah sangat tinggi. Namun, partisipasinya cenderung menurun pada kelompok usia yang lebih tua. Data 2025 menunjukkan terdapat perbedaan tingkat partisipasi antarprovinsi, terutama pada kelompok usia 16-18 tahun.
Rapor Pendidikan 2025 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga mencatat Angka Partisipasi Sekolah usia sekolah dasar dan SMP mencapai 98,22 persen. Sementara itu, pada jenjang SMA angkanya berada di 74,64 persen, meski naik dari 73,42 persen pada tahun sebelumnya. Pemerintah menilai partisipasi di jenjang pendidikan menengah masih menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan.
Karena itu, persoalan pendidikan anak tidak cukup dilihat dari apakah seorang anak masih bersekolah atau tidak. Dukungan ekonomi, pengasuhan setelah kehilangan orangtua, perlindungan sosial, serta keberlanjutan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi sama-sama penting untuk diperhatikan.
Kasus ARS juga menjadi pengingat agar masyarakat tetap kritis terhadap cerita viral yang melibatkan anak. Rasa empati tetap penting, tetapi informasi mengenai kondisi anak sebaiknya diverifikasi agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai kebutuhan dan tidak justru mengeksploitasi kisah pribadi mereka.











-hWBBIL8wzA3EqbFKLnUD5U8ipbx4uPME.jpg)










