- Bersin dan pilek
- Hidung atau tenggorokan terasa tidak nyaman
- Batuk
- Mata merah atau terasa perih
- Sakit tenggorokan
- Mengi atau napas berbunyi
- Sesak atau kesulitan bernapas
- Dada terasa tidak nyaman
Cara Melindungi Anak dari Abu Vulkanik Gunung Berapi, Bisa Ganggu Kesehatan

Aktivitas gunung berapi sedang meningkatkan risiko paparan abu vulkanik, ini sangat berisiko bagi orang dewasa maupun pada anak yang rentan mengalami iritasi mata, kulit, dan gangguan pernapasan.
Orangtua disarankan membatasi kegiatan luar ruang, menutup rumah dari abu, mencegah anak bermain abu, serta menggunakan masker pas dan kacamata bila anak harus keluar.
Pantau batuk, mengi, mata merah, atau sesak. Maka segera cari pertolongan medis jika keluhan berat atau tak membaik, dan ikuti informasi serta arahan resmi otoritas.
Gunung berapi kembali menunjukkan aktivitasnya, hal ini tentu membuat orangtua perlu lebih waspada. Terutama jika wilayah tempat tinggal terdampak abu vulkaniknya.
Abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu biasa. Namun, partikel yang sangat kecil di dalamnya dapat terhirup dan mengganggu saluran pernapasan, sekaligus menyebabkan iritasi pada mata, hidung, tenggorokan, hingga kulit.
Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih seperti yang diingatkan oleh IDAI.
Pasalnya, sistem pernapasan mereka masih berkembang dan anak cenderung bernapas lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Kondisi tersebut membuat anak dapat menghirup lebih banyak udara yang tercemar abu vulkanik.
Lantas, apa yang bisa dilakukan orangtua untuk melindungi si Kecil ketika terjadi hujan abu akibat aktivitas Gunung Merapi, berikut Popmama.com sudah merangkumnya.
1. Batasi aktivitas anak di luar rumah saat hujan abu

Popmama.com/Novy Agrina/AI Ketika abu vulkanik mulai turun, sebaiknya Mama dan Papa mengajak anak tetap berada di dalam rumah.
Hindari aktivitas seperti bermain di halaman, bersepeda, berlari, atau olahraga di luar ruangan. Aktivitas fisik membuat anak bernapas lebih cepat dan lebih dalam sehingga partikel abu berpotensi masuk lebih jauh ke saluran pernapasan.
Pastikan pula pintu dan jendela rumah tertutup rapat untuk mengurangi masuknya abu dari luar.
Jika memungkinkan, orangtua dapat menyiapkan satu ruangan yang relatif bersih dari abu sebagai tempat anak bermain dan beristirahat. Jangan lupa menghindari sumber polusi udara di dalam rumah, seperti asap rokok.
2. Gunakan masker dan pelindung mata yang sesuai

Popmama.com/Novy Agrina/AI Jika anak memang harus keluar rumah, perlindungan tambahan diperlukan untuk mengurangi paparan abu vulkanik.
Gunakan masker atau respirator yang sesuai ukuran wajah anak dan pastikan terpasang dengan baik. Masker yang terlalu longgar tidak akan memberikan perlindungan optimal. CDC menyebut anak usia 2 tahun ke atas dapat menggunakan masker atau respirator, tetapi ukuran dan kecocokannya perlu diperhatikan.
Untuk anak yang masih terlalu kecil atau tidak dapat menggunakan respirator dengan benar, orangtua sebaiknya mengikuti arahan petugas kesehatan mengenai perlindungan yang paling sesuai.
Selain masker, kacamata juga dapat membantu melindungi mata dari partikel abu. Hindari penggunaan lensa kontak ketika kondisi udara dipenuhi abu karena dapat meningkatkan risiko iritasi mata.
3. Jangan biarkan anak bermain dengan abu vulkanik

Popmama.com/Novy Agrina/AI Melihat halaman atau jalanan yang berubah abu-abu mungkin membuat anak penasaran. Bahkan, tidak sedikit anak yang ingin bermain atau membuat gambar di atas lapisan abu tersebut.
Namun, sebaiknya tahan dulu keinginan si Kecil.
Abu vulkanik terdiri dari partikel batuan dan material vulkanik berukuran sangat kecil. Partikel yang lebih halus dapat masuk ke saluran pernapasan dan mencapai bagian paru-paru yang lebih dalam seperti disebut pada US EPA.
Mama dan Papa bisa menjelaskan dengan bahasa sederhana, misalnya, “Abunya bukan pasir untuk bermain, ya. Ada debu sangat kecil yang bisa masuk ke hidung dan paru-paru.”
Dengan begitu, anak memahami alasan di balik larangan tersebut, bukan sekadar merasa dilarang bermain.
4. Perhatikan gejala setelah anak terpapar abu

Popmama.com/Novy Agrina/AI Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai keluhan, terutama pada mata dan saluran pernapasan.
Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain:
Menurut IDAI, keluhan tersebut dapat lebih berat pada anak yang memiliki riwayat alergi saluran pernapasan, bronkitis, asma, atau gangguan paru tertentu.
Jika anak mengalami kesulitan bernapas atau keluhan tidak membaik setelah menjauh dari paparan abu, segera cari pertolongan medis.
Jangan menunggu sampai gejalanya semakin berat ya, Ma.
5. Ikuti informasi resmi dan jangan panik

Popmama.com/Novy Agrina/AI Saat terjadi aktivitas gunung berapi, informasi dapat berubah dengan cepat. Karena itu, orangtua sebaiknya mendapatkan informasi dari sumber resmi, bukan hanya dari unggahan media sosial atau pesan berantai.
Ikuti arahan pemerintah daerah, BPBD, PVMBG, maupun petugas di wilayah terdampak, terutama mengenai status gunung, zona bahaya, arah sebaran abu, hingga kemungkinan evakuasi.
Jika ada instruksi untuk mengungsi, jangan menunggu kondisi menjadi semakin buruk. Siapkan kebutuhan anak seperti pakaian, obat-obatan rutin, makanan, minuman, dokumen penting, serta perlengkapan lain yang dibutuhkan keluarga.
CDC juga menekankan bahwa langkah paling penting ketika terjadi erupsi adalah mengikuti arahan dari otoritas setempat.
Bagi Mama dan Papa, menghadapi situasi bencana bersama anak memang tidak mudah. Namun, usahakan tetap tenang saat memberikan penjelasan kepada si Kecil.
Anak bisa merasakan kecemasan orangtua. Jadi, berikan informasi secukupnya sesuai usia mereka dan yakinkan bahwa keluarga sedang melakukan berbagai langkah untuk tetap aman.
Yang terpenting, jangan anggap abu vulkanik sebagai debu biasa. Dengan membatasi paparan, menjaga kualitas udara di dalam rumah, memberikan perlindungan yang sesuai, serta mengikuti arahan petugas, orangtua dapat membantu mengurangi risiko kesehatan pada anak selama aktivitas vulkanik berlangsung.

















