Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Alasan Kenapa Anak Mudah Sakit Hati dan Sensitif
Pexels/Mikhail Nilov
  • Anak mudah sakit hati karena kemampuan mengelola emosi masih berkembang, kepekaan terhadap ucapan tinggi, serta temperamen yang membuat mereka lebih kuat merespons lingkungan.
  • Perubahan rutinitas, tekanan untuk tidak mengecewakan orangtua, dan konflik atau penolakan dari teman dapat memicu kesedihan, tangisan, kemarahan, atau sikap tersinggung.
  • Orangtua dianjurkan mendengarkan dan memvalidasi emosi, memilih kata saat menegur, menjaga rutinitas, serta mengajarkan anak mengekspresikan perasaan dan menghadapi konflik secara sehat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Setiap anak memiliki karakter dan cara yang berbeda dalam merespons sesuatu. Ada anak yang terlihat santai ketika mendapat teguran, tetapi ada pula yang mudah menangis, tersinggung, atau merasa sedih hanya karena perkataan sederhana.

Kondisi ini terkadang membuat orangtua bertanya-tanya mengapa anak begitu sensitif.

Anak yang mudah sakit hati bukan berarti sedang mencari perhatian atau terlalu manja. Respons tersebut bisa menjadi cara anak menunjukkan emosi yang belum mampu mereka kelola dengan baik.

Pengalaman sehari-hari, lingkungan, hingga tahap perkembangan emosional juga dapat memengaruhi cara anak menghadapi perasaan.

Memahami penyebabnya dapat membantu orangtua memberikan respons yang lebih tepat.

Berikut Popmama.com telah merangkum 7 alasan kenapa anak mudah sakit hati dan sensitif.

1. Anak belum mampu mengelola emosinya

Pexels/Vidal Balielo Jr.

Kemampuan anak dalam mengenali dan mengatur emosi masih berkembang. Ketika merasa kecewa, malu, marah, atau sedih, anak mungkin belum mengetahui cara yang tepat untuk mengungkapkannya.

Akibatnya, perasaan tersebut dapat muncul dalam bentuk menangis, marah, diam, atau mudah tersinggung.

Situasi sederhana bagi orang dewasa belum tentu terasa sederhana bagi anak.

Ketika mainannya diambil, keinginannya tidak dituruti, atau mendapat teguran, anak dapat merasakan kekecewaan yang sangat besar.

Respons emosional tersebut merupakan bagian dari proses belajar mengelola perasaan.

Mama dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi yang sedang dirasakan anak. Misalnya, mengatakan:

“Kamu sedih karena permainannya harus berhenti, ya?”

Kalimat seperti ini membantu anak memahami apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, anak akan semakin mengenali emosinya dan belajar merespons situasi dengan cara yang lebih tenang.

2. Anak sangat memperhatikan perkataan orang lain

Pexels/Mikhail Nilov

Sebagian anak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perkataan dan sikap orang di sekitarnya.

Kalimat yang menurut orang dewasa terdengar biasa saja bisa terasa sangat menyakitkan bagi anak. Terlebih jika perkataan tersebut disampaikan oleh orang yang mereka sayangi atau percaya. Ucapan seperti"

“Kok begitu saja tidak bisa?”

“Kamu memang tidak pernah mendengarkan”

Bisa membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Anak mungkin kemudian menjadi sedih, menangis, atau memilih diam karena tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya.

Kondisi ini bukan berarti orangtua harus menghindari semua bentuk teguran.

Anak tetap membutuhkan batasan dan arahan. Namun, pilihan kata dan cara menyampaikannya perlu diperhatikan agar koreksi tidak membuat anak merasa direndahkan.

Mama dan Papa dapat memisahkan perilaku dari pribadi anak. Alih-alih mengatakan:

“Kamu nakal,”

Coba sampaikan:

“Perbuatanmu tadi membuat Mama kurang nyaman.”

Cara ini membantu anak memahami bahwa perilakunya yang perlu diperbaiki, bukan dirinya sebagai pribadi.

3. Anak memiliki temperamen yang lebih sensitif

Pexels/mohamed abdelghaffar

Setiap anak terlahir dengan temperamen yang berbeda. Ada anak yang mudah beradaptasi dengan perubahan, sementara anak lainnya membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman.

Anak dengan temperamen yang lebih sensitif biasanya dapat merespons lingkungan secara lebih kuat.

Suara yang terlalu ramai, perubahan rutinitas, teguran, atau konflik dengan teman dapat membuat mereka merasa kewalahan.

Perasaan tersebut kemudian bisa terlihat melalui tangisan, mudah tersinggung, atau keinginan untuk menyendiri.

Anak yang sensitif bukan berarti memiliki karakter yang buruk.

Kepekaan tersebut justru dapat menjadi kekuatan ketika diarahkan dengan baik. Anak mungkin lebih mudah memperhatikan perasaan orang lain, memiliki empati tinggi, atau peka terhadap lingkungan di sekitarnya.

Orangtua sebaiknya tidak melabeli anak sebagai “cengeng” atau “baper” ketika mereka menunjukkan emosi. Label tersebut dapat membuat anak merasa ada yang salah dengan dirinya.

Berikan ruang bagi anak untuk menenangkan diri sekaligus ajarkan cara mengungkapkan perasaannya secara sehat.

4. Anak sedang mengalami banyak perubahan

Pexels/MART PRODUCTION

Perubahan dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat anak lebih mudah emosional.

Memasuki sekolah baru, memiliki adik, berpindah rumah, berganti pengasuh, atau menghadapi perubahan rutinitas merupakan pengalaman yang membutuhkan proses adaptasi.

Anak mungkin belum mampu menjelaskan bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan perubahan tersebut.

Perasaan itu kemudian dapat muncul dalam bentuk mudah menangis, cepat marah, lebih sensitif terhadap perkataan, atau sering meminta perhatian Mama dan Papa.

Orangtua perlu memahami bahwa setiap anak membutuhkan waktu yang berbeda untuk beradaptasi.

Jangan langsung menganggap perubahan sikap sebagai perilaku buruk. Cobalah mengajak anak berbicara dengan pertanyaan sederhana seperti:

“Ada sesuatu yang membuat kamu tidak nyaman akhir-akhir ini?”

Rutinitas yang konsisten juga dapat membantu anak merasa lebih aman. Pastikan waktu tidur, makan, bermain, dan aktivitas sehari-hari tetap memiliki pola yang cukup teratur.

Ketika anak merasa didengar dan mengetahui bahwa Mama dan Papa ada untuknya, proses menghadapi perubahan biasanya menjadi lebih mudah.

5. Anak takut mengecewakan orangtua

Pexels/MART PRODUCTION

Anak yang memiliki keinginan kuat untuk mendapatkan penerimaan dari orangtua bisa menjadi lebih sensitif ketika melakukan kesalahan.

Mereka mungkin merasa sangat sedih ketika mendapat teguran karena menganggap dirinya telah mengecewakan Mama atau Papa.

Perasaan tersebut dapat semakin kuat jika anak sering mendapatkan pujian ketika berhasil dan merasa harus selalu melakukan sesuatu dengan benar. Ketika mengalami kegagalan, anak bisa langsung berpikir bahwa dirinya tidak cukup pintar atau tidak mampu.

Orangtua dapat membantu dengan menunjukkan bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar. Ketika anak mendapatkan nilai kurang baik, misalnya, fokuskan pembicaraan pada usaha dan hal yang dapat diperbaiki, bukan hanya hasil akhirnya.

Kalimat sederhana seperti:

“Tidak apa-apa kalau belum berhasil. Kita coba lagi bersama,” dapat membuat anak merasa lebih aman.

Anak perlu mengetahui bahwa kasih sayang orangtua tidak bergantung pada prestasi atau keberhasilannya.

Rasa aman tersebut dapat membantu anak membangun kepercayaan diri dan tidak terlalu takut menghadapi kesalahan.

6. Anak sedang mengalami masalah dengan teman

Pexels/Mikhail Nilov

Hubungan dengan teman dapat memberikan pengaruh besar terhadap kondisi emosional anak. Perselisihan saat bermain, tidak diajak bergabung, diejek, atau mengalami konflik dengan teman dapat membuat anak merasa sedih dan tidak diterima.

Bagi orang dewasa, masalah tersebut mungkin terlihat sebagai pertengkaran kecil. Namun, bagi anak, pengalaman ditolak atau kehilangan teman bermain dapat terasa sangat besar.

Anak juga mungkin belum memiliki kemampuan komunikasi yang cukup untuk menyelesaikan konflik secara mandiri.

Orangtua sebaiknya tidak langsung menyalahkan atau meminta anak membalas perlakuan temannya. Dengarkan terlebih dahulu cerita anak dan bantu mereka memahami situasi yang terjadi.

Tanyakan apa yang dirasakan anak dan apa yang menurutnya bisa dilakukan. Orangtua juga dapat mengajarkan cara mengatakan:

“Aku tidak suka kalau kamu melakukan itu”

Anak juga bisa meminta bantuan guru ketika menghadapi masalah yang sulit diselesaikan sendiri.

Pendampingan seperti ini membantu anak belajar menghadapi konflik tanpa mengabaikan perasaannya.

7. Anak membutuhkan rasa aman dan validasi

Pexels/Anna Shvets

Anak membutuhkan perasaan bahwa emosinya diterima oleh orang-orang terdekat. Ketika anak merasa sedih atau kecewa, tetapi justru mendengar kalimat seperti:

“Jangan cengeng”

“Begitu aja nangis,” mereka dapat belajar menyembunyikan emosinya daripada memahami perasaan tersebut.

Validasi bukan berarti orangtua selalu menyetujui keinginan anak. Validasi berarti mengakui bahwa perasaan yang dirasakan anak memang ada. Orangtua dapat mengatakan:

“Mama tahu kamu kecewa karena tidak boleh bermain lebih lama. Kamu boleh merasa kecewa, tetapi waktunya memang sudah selesai.”

Cara tersebut membantu anak memahami bahwa semua emosi boleh dirasakan, tetapi tetap ada batasan terhadap perilaku. Anak pun perlahan belajar membedakan antara merasa marah dengan melakukan tindakan yang menyakiti orang lain.

Ketika anak merasa aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi, mereka akan lebih mudah terbuka kepada orangtua.

Dukungan tersebut dapat menjadi bekal penting bagi perkembangan emosional anak hingga ia tumbuh besar.

Setiap anak punya cara berbeda dalam merasakan dan menunjukkan emosinya. Jadi, ketika anak mudah sakit hati atau sensitif, bukan berarti Mama perlu langsung menganggapnya cengeng atau manja.

Coba mulai dengan mendengarkan, memahami apa yang ia rasakan, lalu bantu anak untuk menemukan cara yang tepat untuk mengungkapkan emosinya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article