Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bangun Kepercayaan Diri Anak dalam Matematika ala Belajar Personal
Dok. Smartick Indonesia
  • Skor matematika siswa Indonesia dalam survei PISA masih perlu ditingkatkan, mendorong penggunaan pembelajaran personal yang menyesuaikan materi dengan kemampuan dan kecepatan belajar anak.

  • Metode latihan matematika adaptif untuk usia 4–14 tahun, dikembangkan dari riset pendidikan, psikologi kognitif, dan neurosains guna melatih logika serta penalaran.

  • Selama dua tahun di Indonesia, Smartick menjangkau lebih dari 43.000 pengguna; laporan real-time membantu orangtua mendampingi anak di tengah keterbatasan waktu guru.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kemampuan numerasi atau matematika anak-anak Indonesia ternyata masih menjadi salah satu fokus besar dalam dunia pendidikan, Ma.

Hasil survei PISA beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa skor matematika siswa kita masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

Kondisi ini mendorong para pegiat pendidikan untuk terus menghadirkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan spesifik setiap anak.

Salah satu pendekatan yang kini semakin populer adalah pembelajaran berbasis personalisasi. Metode ini memungkinkan anak belajar sesuai dengan tingkat pemahaman dan kecepatan perkembangan mereka sendiri.

Nah, dengan adanya proses belajar ini, anak tidak akan merasa terpaksa, tapi justru lebih efektif karena bertahap dan membangun fondasi yang kuat.

Bertepatan dengan ulang tahun keduanya pada 22 Juli 2026, sebuah platform pembelajaran matematika daring untuk anak usia 4–14 tahun semakin gencar memperkenalkan pendekatan ini di Indonesia, yaitu Smartick.

Untuk Mama yang sedang mencari cara mendampingi anak belajar matematika, yuk simak bagaimana metode personalisasi ini bisa menjadi alternatif solusi di rumah dalam ulasan Popmama.com berikut ini.

1. Metode personalisasi yang berbasis riset otak

Anak belajar

Yang perlu orangtua pahami dahulu adalah setiap anak itu punya gaya dan kecepatan belajar yang berbeda-beda. Kemudian, memahami hal tersebut dengan menghadirkan latihan harian yang disesuaikan secara otomatis oleh teknologi.

Sistem akan menyesuaikan level soal berdasarkan jawaban anak sebelumnya, sehingga anak pun tak pernah merasa terlalu mudah atau terlalu sulit.

Metode ini tentu bukan dibuat sembarangan ya, Ma, melainkan dikembangkan berdasarkan riset di bidang pendidikan, psikologi kognitif, dan neurosains.

Artinya, latihan yang diberikan bukan cuma mengasah hitungan, tapi juga merangsang kemampuan berpikir logis dan analitis.

Dengan menggunakan pendekatan ini, anak pun akan merasa matematikan adalah latihan berpikir, bukan sekadar menghafal rumus.

Kalau anak mama melakukannya setiap hari dengan konsisten, mereka pun akan belajar membangun kebiasaan berpikir terstruktur.

Proses inilah yang secara perlahan akan meningkatkan rasa percaya diri anak ketika berhadapan dengan soal cerita atau masalah matematika yang lebih kompleks di sekolah.

2. Akses yang lebih banyak untuk anak Indonesia

Dok. Smartick Indonesia

Selama dua tahun beroperasi di Indonesia, platform belajar ini telah menjangkau lebih dari 43.000 pengguna di berbagai daerah.

Bukan cuma berhenti di layanan digital saja, Ma, berbagai inisiatif sosial juga dijalankan untuk memperluas akses pendidikan.

Sebanyak 200 beasiswa telah disalurkan kepada anak-anak yang membutuhkan dukungan belajar tambahan. Kolaborasi juga dilakukan dengan tujuh sekolah dasar dan melibatkan lebih dari 1.000 siswa dalam program pembelajaran.

Platform ini juga menggandeng mitra sosial seperti Yayasan Bina Karya Indonesia (YBKI) di Sumatera Utara untuk menjangkau sekitar 100 siswa di daerah dengan keterbatasan akses. Hal ini membuktikan bahwa upaya peningkatan numerasi membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

CEO Smartick Indonesia, Galih Sulistyaningra, menegaskan bahwa kemampuan matematika bukan sekadar mata pelajaran, melainkan fondasi berpikir untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

"Fondasi ini perlu dibangun secara konsisten dan terpersonalisasi, dimulai dari level pemahaman masing-masing anak, dibarengi latihan yang fokus pada logika dan penalaran," ujarnya.

3. Tantangan guru dan peran orangtua di rumah

Dok. Smartick Indonesia

Salah satu alasan mengapa pendekatan personalisasi penting adalah karena di sekolah, waktu dan kapasitas guru sering kali terbatas. Seorang guru harus menghadapi banyak murid dengan karakteristik berbeda dalam waktu yang singkat.

Nah, inilah yang kemudian menjadi tantangan tersendiri yang turut mempengaruhi capaian numerasi nasional yang masih di bawah rata-rata, Ma. Di sinilah peran orang tua dan teknologi menjadi krusial.

Hadirnya platform pembelajaran adaptif seperti Smartick ini membuat orangtua bisa mendapatkan laporan perkembangan anak secara real-time.

Mama dan Papa bisa melihat di mana letak kesulitan anak dan area mana yang sudah dikuasai, sehingga pendampingan di rumah menjadi lebih terarah dan tidak membingungkan.

Lebih lanjut, Galih berharap hadirnya platform belajar ini dapat menjadi bagian dari solusi dengan membantu anak membangun fondasi berpikir yang kuat sekaligus meningkatkan rasa percaya diri dalam belajar.

Kemampuan numerasi menjadi investasi jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan metode tepat.

Meski sering kali menjadi mata pelajaran yang membuat banyak anak pusing, kehadiran teknologi pembelajaran personal bisa dimanfaatkan orangtua untuk memberikan pendekatan belajar yang adaptif dan menyenangkan.

Dengan kolaborasi antara sekolah, orangtua, dan platform edukasi seperti ini, generasi Indonesia akan lebih siap menghadapi tantangan masa depan.

Mama sudah pernah mencobanya belum, nih?

Curated For You

Editorial Team

Related Article