Riset: Anak 10 Tahun di Jepang Temukan Kupu-kupu Wariskan Ingatan

- Jo Nagai, siswa 10 tahun dari Kobe, meneliti kupu-kupu swallowtail Asia setelah mengamati perilakunya berbeda dari kupu-kupu liar saat didekati.
- Ulat yang dilatih mengaitkan aroma lavender dengan kejutan listrik ringan cenderung menghindari lavender setelah menjadi kupu-kupu, dengan rasio 70–80% dibanding 50–50% pada kelompok kontrol.
- Keturunan kupu-kupu terlatih juga sekitar 60% menghindari lavender tanpa pelatihan; dugaan mekanisme epigenetik masih perlu diuji karena riset belum dipublikasikan, meski telah dipresentasikan di konferensi ilmiah.
Seorang siswa kelas 2 SD asal Kobe, Jepang, bernama Jo Nagai bagikan hasil penelitian sederhana yang mampu menarik perhatian dunia, Ma.
Kisah Jo Nagai ini dibagikan oleh dr. Adam Prabata, seorang dokter yang dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan dan sains melalui media sosial pribadinya.
Dalam unggahannya, dr. Adam mengapresiasi bagaimana rasa ingin tahu seorang anak bisa menghasilkan temuan yang luar biasa.
Ternyata, hewan yang memiliki beragam warna indah ini punya ingatan yang baik saat dirinya menjadi ulat, Ma. Penelitian dari anak usia 10 tahun itu mengindikasikan bahwa pengalaman tersebut bisa diwariskan kepada anak dan cucu kupu-kupu.
Bisa jadi wawasan baru untuk anak, berikut Popmama.com rangkumkan penjelasan lengkapnya.
1. Dari rasa penasaran, hingga berhasil temukan hasil mengejutkan

Dalam informasi yang beredar, lelaki berusia 10 tahun ini ternyata punya rasa ketertarikan pada serangga, Ma, termasuk pada kupu-kupu.
Ketertarikannya ini bermula saat ia memelihara kupu-kupu swallowtail Asia dan menyadari bahwa kupu-kupu yang ia pelihara tidak terbang menjauh saat didekati, berbeda dengan kupu-kupu liar lainnya.
Dalam penelitiannya, anak ini melatih ulat agar mengenali bau lavender dengan kejutan listrik ringan. Kejutan listrik yang digunakan berasal dari alat terapi otot dengan arus yang lemah agar tidak menyakiti ulat.
Setelah ulat-ulat tersebut mengalami metamorfosis menjadi kupu-kupu, sang anak mengujinya di labirin berbentuk huruf Y.
Di labirin ini, tersedia dua jalur pilihan yaitu satu jalur berisi air gula dan bau lavender, sementara jalur lain hanya berisi air gula.
2. Wariskan ingatan ke anak cucu kupu-kupu

Nah, dari hasil eksperimen yang dilakukan Jo menunjukkan bahwa 70-80% kupu-kupu yang sudah dilatih ini ternyata cenderung menghindari bau lavender.
Sementara itu, kupu-kupu yang tidak dilatih justru menunjukkan rasio 50-50 dalam memilih jalur berbau lavender.
Dari temuan eksperimennya tersebut, Jo berhasil membuktikan bahwa ingatan atau pengalaman di masa ulat tetap bertahan meskipun telah melewati proses metamorfosis yang mengubah total struktur tubuhnya.
Kupu-kupu ternyata menyimpan memori dari saat masih berbentuk ulat, Ma.
3. Penelitianya dipresentasikan di konferensi ilmiah

Anak ini kemudian mengembangkan kupu-kupu yang sudah dilatih dan menguji anak cucunya. Ternyata, tanpa diberikan pelatihan kejutan listrik, anak cucu kupu-kupu tersebut sekitar 60% tetap menghindari bau lavender.
Hal ini menunjukkan adanya pewarisan memori lintas generasi dari setiap kupu-kupu.
Dalam penjelasan dr. Adam, kemungkinan alasannya adalah melalui mekanisme epigenetik, yaitu proses di mana pengalaman lingkungan dapat mempengaruhi generasi berikutnya tanpa mengubah DNA itu sendiri.
Namun di akhir unggahannya, dr. Adam menjelaskan bahwa setaunya penelitian sang anak ini masih belum terpublikasi, Ma.
Meski belum dipublikasikan, penelitian Jo sudah dipresentasikan di konferensi ilmiah. Temuan ini juga masih perlu diuji lebih lanjut, tapi sudah menjadi langkah awal yang mengagumkan dari seorang anak kecil.
Kisah anak 10 tahun asal Jepang ini membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk melakukan hal-hal besar.
Berawal dari rasa penasaran sederhana, seorang anak berhasil menghadirkan temuan yang menggugah dunia sains.
Semoga kisah Jo ini bisa menjadi motivasi untuk anak dalam menekuni sesuatu yang disukainya ya, Ma.





















