Kepala SPPG Karanganyar Mual-Muntah, 3.000 Porsi MBG Ditarik

Ribuan porsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, terpaksa ditarik kembali pada Rabu (12/8/2026) lalu.
Penarikan dilakukan setelah kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat mengalami mual hingga muntah usai mencicipi menu ayam rempah yang akan disalurkan ke sekolah-sekolah.
Insiden ini tentu menjadi perhatian bagi para orangtua yang menitipkan asupan gizi anaknya pada program nasional ini. Makanan yang seharusnya menyehatkan, justru berpotensi membahayakan penerima manfaat.
Untuk mengetahui kronologi selengkapnya dan bagaimana penanganan yang dilakukan SPPG terkait, berikut Popmama.com rangkumkan informasinya melansir dari berbagai sumber.
1. Kepala SPPG mual-muntah usai cicipi menu ayam rempah

Magnific/stockking Melansir dari media lokal setempat, Abra Yudha Raya, kepala SPPG Yayasan Insan Berlian Sejahtera di Dusun Pundungrejo, memimpin langsung pengecekan rasa sebelum makanan dikirim ke sekolah.
Saat mencicipi olahan ayam rempah, dia langsung merasakan keanehan pada cita rasa menu tersebut, yang membuatnya tak lama langsung muntah hingga tiga kali.
Meski tidak diare, reaksi ini menjadi sinyal bahaya bagi kualitas makanan yang akan disalurkan. Dengan sigap, kepala SPPG bersama tim penguji segera mendatangi dapur untuk memastikan kondisi daging ayam.
Abra bahkan mencicipi kembali daging ayam yang terindikasi rusak untuk memastikan temuan awal.
2. Ribuan porsi sudah terlanjur didistribusikan

Bgn.go.id Dari 3.000 porsi yang disiapkan untuk beberapa sekolah, sekitar 1.000 porsi sudah berada di tahap distribusi ke sekolah-sekolah.
Namun setelah insiden ini, seluruh makanan yang telah sampai di sekolah langsung ditarik kembali.
Akibatnya, 94 siswa di SDN 2 Jati yang menunggu makanan sejak pukul 08.00 WIB gagal menerima jatah MBG mereka pada hari tersebut.
Para siswa pun di hari itu pulang tanpa mendapatkan makanan bergizi yang seharusnya menjadi hak mereka hari itu.
Kepala SPPG menegaskan penarikan dilakukan karena olahan daging ayam tidak layak konsumsi. Langkah ini diambil agar tidak ada anak yang jatuh sakit akibat makanan yang disediakan.
3. DPRD Karanganyar lakukan sidak ke SPPG terkait

Bgn.go.id Komisi D DPRD Karanganyar langsung melakukan inspeksi mendadak ke SPPG Jati, sehari setelah kejadian, yaitu pada Kamis (20/8/2026) lalu.
Sidak ini bertujuan memastikan pelaksanaan MBG sesuai standar operasional prosedur dari Badan Gizi Nasional (BGN).
Ketua Komisi D DPRD Karanganyar, Ali Akbar, turun langsung meninjau lokasi kejadian dan menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap kualitas bahan baku makanan.
Perhatian khusus juga diberikan pada pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Hal ini penting agar limbah dapur tidak mencemari lingkungan sekitar.
Dalam paparannya, pihak SPPG terkait juga sebut akan melakukan perbaikan pada sistem IPAL di dapur produksi. Perbaikan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan dapur yang lebih higienis.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya mendorong target "zero accident" ke depannya. Target ini berarti tidak boleh ada lagi kejadian gagal serupa yang mengancam kesehatan penerima manfaat.
4. Pentingnya pengawasan untuk keamanan pangan anak

Pexels/cottonbro studio Kejadian ini menjadi pengingat betapa pentingnya pengawasan ketat pada setiap proses produksi MBG. Mulai dari pemilihan bahan baku, proses memasak, hingga pengiriman, semua harus diawasi dengan standar tinggi.
Dalam insiden ini, kepala SPPG yang bertindak sebagai penguji rasa sudah menjalankan prosedur dengan benar. Namun, kejadian ini menunjukkan standar operasional perlu terus diperkuat.
Kualitas daging ayam harus dicek tidak hanya dari rasa, tapi juga kesegaran dan masa simpannya. Itulah mengapa pihak SPPG terkait langsung mengambil langkah tegas dengan memutus kerja sama dengan pemasok daging ayam.
Insiden yang dialami kepala SPPG di Karanganyar ini tentu menjadi pelajaran bagi semua penyelenggara MBG di seluruh Indonesia.
Para orangtua perlu terus mengawal dan memastikan program yang bertujuan baik ini berjalan dengan aman. Semoga langkah perbaikan yang dilakukan segera membuahkan hasil demi tumbuh kembang anak Indonesia yang lebih baik.


















