Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kisah Anak Lebih Kenal Idolanya daripada Papa Sendiri, Jadi Reminder!
Magnific/Jcomp
  • Seorang Papa tersadar setelah guru anaknya menunjukkan karangan bertema 'Orang yang Paling Aku Kagumi', di mana sang anak memilih pemain bola favorit, bukan dirinya sendiri.

  • Sang anak mengaku lebih mengenal idolanya dibanding papanya karena jarang berinteraksi secara emosional, meski sang ayah selalu hadir secara fisik di rumah.

  • Ayah tersebut kemudian mulai bercerita tentang masa lalunya kepada anaknya, menyadari bahwa kedekatan sejati tumbuh dari berbagi cerita dan kejujuran sederhana.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi orangtua sering kali membuat kita fokus pada banyak hal. Mulai dari bekerja keras, memenuhi kebutuhan anak, memastikan mereka mendapatkan pendidikan terbaik, hingga menjaga agar semuanya berjalan baik setiap hari.

Namun di tengah kesibukan itu, ada satu hal yang kadang luput disadari. Anak mungkin tumbuh di rumah yang sama, bertemu orangtuanya setiap hari, tetapi belum tentu benar-benar mengenal sosok yang ada di hadapannya. 

Sebuah cerita sederhana yang dibagikan @dedydailyjournal di Threads bisa menjadi pengingat bagi orangtua bahwa kehadiran fisik saja terkadang belum cukup untuk membangun kedekatan emosional.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan. 

1. Berawal dari tugas sekolah anak yang membuat seorang papa tersadar

Threads.com/dedydailyjournal

Diceritakan ada seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun yang dikenal pendiam, berprestasi, dan tidak pernah membuat masalah di sekolah. Namun suatu hari, gurunya menghubungi sang papa bukan karena nilai pelajaran atau perilakunya.

Guru tersebut menghubungi karena menemukan satu kalimat dalam tugas karangan bebas sang murid. Tugas itu berjudul "Orang yang Paling Aku Kagumi", dan ternyata sosok yang dipilih bukanlah papanya, melainkan pemain bola favoritnya.

“Judulnya: "Orang yang paling aku kagumi.". Anaknya nulis panjang. Soal pemain bola favoritnya. Bukan soal ayahnya. Temen gue diam waktu gurunya bacain itu. Gurunya bilang pelan, "Bapak jangan salah paham dulu. Saya nelpon bukan karena ini salah." "Tapi karena waktu saya tanya ke anaknya kenapa — jawabannya bikin saya mikir.” cerita Dedy melalui akun Threads @dedydailyjournal. 

2. Anak lebih mengenal idolanya daripada papanya sendiri

Threads.com/dedydailyjournal

Saat membaca karangan tersebut, guru sebenarnya tidak menganggap pilihan anak itu sebagai sesuatu yang salah. Namun jawaban sang anak ketika ditanya alasannya justru membuat sang guru berpikir lebih dalam. 

Ketika ditanya mengapa memilih pemain bola tersebut, sang anak menjawab bahwa ia tahu nama idolanya, posisi bermainnya, hingga berbagai gol yang pernah dicetaknya. Namun jika berkaitan tentang papanya, anak itu mengaku tidak begitu tahu apa yang sebenarnya dikerjakan sang papa setiap hari karena terlalu sibuk. 

Ia merasa asing dengan sosok papanya sendiri karena selama ini tidak pernah bercerita, bahkan sekadar membagikan pengalaman masa kecilnya. 

“Temen gue cerita ini ke gue sambil matanya ke mana-mana. Dia bukan ayah yang pergi. Dia pulang tiap hari. Nafkahi. Bayarin sekolah terbaik. Tapi anaknya lebih tau statistik pemain bola asing daripada tau ayahnya kerja apa, mimpinya apa, waktu kecilnya kayak gimana. Bukan karena anaknya gak mau tau. Tapi karena temen gue gak pernah cerita,” tulisnya. 

3. Hadir secara fisik di rumah belum tentu benar-benar terhubung secara emosional

Threads.com/dedydailyjournal

Sang papa mengaku bahwa dirinya selalu ada di rumah setiap hari. Ia rutin menanyakan nilai sekolah, apakah anaknya sudah makan, dan apakah pekerjaan rumahnya sudah selesai.

Namun setelah dipikirkan kembali, percakapan mereka selama ini hanya berputar pada rutinitas. Ia tidak pernah bercerita tentang dirinya sebelum menjadi seorang papa.

Akibatnya, sang anak mengenalnya hanya sebagai sosok yang menjalankan fungsi tertentu dalam keluarga, bukan sebagai manusia dengan mimpi, pengalaman, dan cerita hidup. 

Kondisi seperti ini sering kali tidak disadari oleh banyak orangtua, terutama ketika anak terlihat pendiam dan penurut. Padahal bisa jadi anak tersebut sudah berhenti mencoba masuk ke dunia orangtuanya karena merasa tidak pernah benar-benar diajak masuk.

“Ini yang jarang disadarin para ayah. Anak yang pendiam dan penurut itu kadang bukan tanda dia baik-baik aja. Kadang itu tanda dia udah berhenti coba masuk ke dunia ayahnya. Karena tiap kali dia coba — ayahnya sibuk, capek, atau jawab sambil mata ke HP. Lama-lama dia belajar: ayah itu dicintai dari jauh, bukan dikenal dari dekat,” ceritanya. 

4. Anak juga perlu tahu cerita orangtuanya untuk mengenal lebih baik

Magnific/Jcomp

Setelah mendengar cerita tersebut, sang papa memutuskan melakukan sesuatu yang sederhana. Ia duduk di samping anaknya, mematikan ponsel, lalu mulai bercerita tentang dirinya sendiri.

Selama sekitar tiga puluh menit, ia menceritakan masa kecilnya, cita-cita yang tidak tercapai, hingga ketakutan yang ia rasakan saat pertama kali menjadi seorang papa.

Di akhir cerita, anak itu bertanya apakah papanya pernah merasa takut gagal. Ketika dijawab bahwa perasaan itu masih ada hingga sekarang, sang anak tampak memahami sesuatu yang baru. 

Saat itulah sang papa baru menyadari bahwa anaknya tidak membutuhkan sosok superhero yang sempurna. Ia hanya ingin mengenal sosok papanya sebagai manusia biasa. 

“Gue cerita setengah jam. Waktu kecil gue. Mimpi gue yang gak kesampaian. Ketakutan pertama gue waktu dia lahir. Dia dengerin semuanya. Gak main-main lagi. Di akhir dia tanya, "Papi pernah takut gagal juga?" Gue jawab jujur. "Iya. Tiap hari." Dia angguk pelan. Kayak ngerti sesuatu yang baru. Dan gue baru sadar kalau dia butuh tau bahwa bokapnya tetap manusia, bukan superhero,” tulisnya. 

5. Kedekatan antara orangtua dan anak bisa dimulai dari satu cerita sederhana

Magnific/Freepik

Banyak orang mengira anak yang tidak mengenal papanya sendiri adalah anak yang tidak tertarik untuk mengenal lebih dekat. Padahal kenyataannya, bisa jadi ia belum pernah diberi kesempatan untuk masuk ke dunia orangtuanya.

“Anak yang gak kenal ayahnya bukan anak yang gak mau kenal. Mungkin dia cuma belum pernah dikasih pintu masuk. Ayah yang hadir secara fisik tapi gak pernah cerita tentang dirinya sendiri — lama-lama jadi orang asing yang tidur di rumah yang sama. Dan yang paling menyakitkan bukan waktu anak milih orang lain sebagai idolanya. Tapi waktu kamu sadar kamu sendiri gak kasih dia alasan untuk milih kamu,” pungkasnya. 

Karena itu, cobalah melakukan satu hal sederhana malam ini. Duduk bersama anak, simpan ponsel sejenak, lalu ceritakan sesuatu tentang diri sendiri yang belum pernah ia dengar sebelumnya. 

Ceritakan mimpi masa kecil, kegagalan yang pernah dialami, atau hal-hal yang pernah membuat takut. Tidak perlu berupa ceramah atau nasihat panjang. 

Terkadang, sebuah cerita sederhana justru bisa menjadi jembatan yang membuat anak merasa lebih dekat dan lebih mengenal orangtuanya. Semoga cerita di atas bisa jadi reminder bagi banyak orangtua di luar sana, ya. 

Editorial Team

Related Article