Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Masa Kecil Anak Perlahan Berubah, Ini kata Psikolog!
Pexels/Yan Krukau
  • Psikolog Hertha Christabelle menyoroti berkurangnya waktu bermain anak akibat dominasi gadget, padahal bermain adalah bahasa pertama yang membantu mereka mengenali dan mengekspresikan emosi.
  • Melalui permainan, anak dapat menunjukkan dunia batinnya; setiap mainan bisa menjadi simbol perasaan atau pengalaman yang sulit diungkapkan lewat kata-kata.
  • Hertha menegaskan bahwa anak lebih membutuhkan waktu dan kehadiran orangtua untuk bermain bersama daripada mainan baru, karena interaksi ini mendukung perkembangan emosional dan sosial mereka.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebuah film terkadang tidak hanya menghadirkan nostalgia, tetapi juga membuat kita merenungkan banyak hal.

Itulah yang dirasakan oleh Clinical Psychologist sekaligus play therapist Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog.

Setelah menyaksikan Toy Story 5, ia mengaku sedih. Namun, rasa sedih itu bukan karena karakter Jessie atau jalan ceritanya, melainkan karena ada sesuatu yang perlahan menghilang dari masa kecil anak-anak saat ini.

Melalui unggahan di media sosialnya, Hertha mengungkapkan bahwa sebagai seorang play therapist, ia kini semakin sering menjumpai anak yang sangat mahir menggunakan gadget.

Semakin sedikit anak yang memiliki waktu untuk benar-benar bermain. Padahal, bermain bukan sekadar aktivitas untuk mengisi waktu luang.

Bagi anak, bermain adalah bahasa pertama yang membantu mereka mengenali emosi, memahami dunia, hingga mengekspresikan perasaan yang belum mampu diungkapkan melalui kata-kata.

Lantas, mengapa bermain memiliki peran yang begitu penting bagi tumbuh kembang anak? Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya. Yuk, simak!

1. Bermain adalah bahasa pertama yang dimiliki anak

Pexels/Pavel Danilyuk

Menurut Clinical Psychologist sekaligus play therapist Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., Psikolog, bermain bukan sekadar kegiatan yang dilakukan anak untuk mengisi waktu luang.

Bermain adalah bahasa pertama yang dimiliki anak sebelum mereka mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan kata-kata.

Dalam unggahannya, Hertha mengutip pendapat tokoh play therapy, Virginia Axline, yang mengatakan bahwa:

"Ketika anak belum mampu mengungkapkan perasaannya, mainanlah yang akan bercerita."

Kalimat tersebut menggambarkan bahwa permainan merupakan media komunikasi yang alami bagi anak.

Melalui aktivitas bermain, mereka menyampaikan berbagai pengalaman, harapan, ketakutan, hingga konflik yang sedang dirasakan.

Hal ini juga menjadi alasan mengapa bermain memiliki peran penting dalam proses tumbuh kembang anak.

Ketika orang dewasa mengajak anak bermain atau sekadar mengamati cara mereka bermain, sebenarnya ada banyak hal yang bisa dipahami mengenai kondisi emosional anak.

2. Mainan bisa menjadi simbol dari dunia batin anak

Pexels/cottonbro studio

Hertha menjelaskan bahwa di ruang terapi, mainan bukan hanya benda yang digunakan untuk menghibur anak.

Setiap mainan dapat menjadi simbol dari dunia batin yang sedang mereka alami.

Boneka bisa mewakili dirinya sendiri, doll house dapat menggambarkan keluarganya, sementara pasir dapat menjadi media untuk meluapkan emosi yang sulit diungkapkan secara langsung.

Itulah mengapa seorang play therapist tidak hanya memperhatikan apa yang dimainkan anak, tetapi juga bagaimana mereka memainkannya.

Melalui permainan sederhana, anak dapat menunjukkan pengalaman hidup, hubungan dengan orang-orang terdekat, maupun perasaan yang selama ini dipendam.

Bagi orang dewasa, sebuah boneka mungkin hanyalah mainan biasa.

Namun, bagi anak, boneka bisa menjadi teman yang membuatnya merasa aman atau bahkan menjadi sosok yang mewakili dirinya.

Permainan menjadi jembatan yang membantu psikolog memahami apa yang sedang dirasakan anak tanpa harus memaksanya menjelaskan dengan kata-kata.

Inilah kekuatan bermain yang sering kali tidak disadari oleh orangtua.

3. Perasaan anak sering muncul lewat permainan sebelum menjadi kata-kata

Pexels/Polesie Toys

Tidak semua anak mampu mengatakan bahwa dirinya sedang sedih, cemas, marah, atau merindukan seseorang.

Terutama pada usia dini, kemampuan mengenali sekaligus mengungkapkan emosi masih terus berkembang.

Karena itu, Hertha menjelaskan bahwa anak lebih sering mengekspresikan apa yang dirasakannya melalui permainan.

Misalnya, seorang anak mungkin tidak pernah berkata:

"Aku cemas."

Tetapi ia terus membuat bonekanya bersembunyi selama bermain.

Anak mungkin tidak mengatakan:

"Aku rindu keluargaku."

Tetapi berulang kali menyatukan kembali anggota keluarga dalam permainan doll house. Menurut Hertha, perasaan anak sering kali muncul melalui permainan terlebih dahulu sebelum akhirnya berubah menjadi kata-kata.

Inilah alasan mengapa Mama sebaiknya tidak menganggap remeh aktivitas bermain anak.

Dengan mengamati cara anak bermain, Mama dan Papa bisa mendapatkan gambaran mengenai apa yang sedang dirasakan anak.

Permainan menjadi media yang aman bagi anak untuk mengolah pengalaman dan emosinya tanpa merasa dihakimi atau dipaksa bercerita.

Saat orangtua hadir dan memberi ruang untuk bermain, mereka juga sedang membuka kesempatan untuk lebih memahami dunia batin anak.

4. Bermain membantu anak belajar banyak hal, bukan hanya bersenang-senang

Pexels/Polesie Toys

Banyak orang menganggap bermain hanyalah kegiatan yang dilakukan anak untuk bersenang-senang.

Padahal, menurut Hertha, bermain merupakan cara alami anak belajar dan bertumbuh.

Saat bermain, anak tidak hanya menggunakan imajinasinya, tetapi juga belajar mengenali emosi, menyelesaikan masalah, dan memahami dirinya sendiri.

Misalnya, ketika bermain peran sebagai dokter, guru, atau orangtua, anak sedang mencoba memahami situasi yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka juga belajar mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan mencoba berbagai solusi ketika permainan tidak berjalan sesuai keinginan.

Selain itu, bermain memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi ide-ide baru tanpa takut melakukan kesalahan. Proses inilah yang membantu perkembangan kreativitas sekaligus kemampuan berpikir.

Hertha menekankan bahwa bermain merupakan bagian penting dari proses belajar yang sering kali tidak terlihat hasilnya secara langsung.

Padahal, berbagai keterampilan yang diperoleh melalui permainan akan menjadi bekal bagi anak saat menghadapi tantangan di sekolah maupun di kehidupan sehari-hari.

5. Anak lebih membutuhkan waktu bermain daripada mainan baru

Pexels/Nothing Ahead

Clinical Psychologist sekaligus play therapist Hertha Christabelle Hambalie, M.Psi., menyampaikan pesan yang menjadi refleksi bagi banyak orangtua.

Menurutnya, anak-anak saat ini sebenarnya tidak kekurangan mainan.

Justru yang mulai hilang dari masa kecil mereka adalah waktu, ruang, dan kesempatan untuk benar-benar bermain.

Padahal, yang paling dibutuhkan anak bukan selalu mainan terbaru atau yang paling mahal, melainkan kehadiran Mama dan Papa yang bersedia meluangkan waktu untuk bermain bersama.

Interaksi sederhana seperti menyusun balok, bermain boneka, atau bermain peran dapat membantu anak merasa didengar, diterima, dan dicintai.

Ia juga menjelaskan bahwa play therapy dapat membantu:

  • mengurangi kecemasan,

  • meningkatkan kemampuan mengatur emosi,

  • mengasah problem solving,

  • membangun rasa percaya diri anak.

Semua manfaat tersebut berangkat dari satu hal sederhana, yaitu bermain.

Karena bagi seorang anak, mainan bukan sekadar benda. Mainan bisa menjadi tempat mereka merasa aman, mengekspresikan diri, sekaligus membangun hubungan yang hangat dengan orang-orang terdekat.

Editorial Team

Related Article