Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Ajarkan Anak Cara Menenangkan Diri Setelah Alami Shock, Ajak Duduk Ma

Ajarkan Anak Cara Menenangkan Diri Setelah Alami Shock, Ajak Duduk Ma
Pexels/KoolShooters
Intinya Sih
  • Setelah mengalami shock, anak perlu didampingi duduk tenang 5–10 menit agar denyut jantung dan ketegangan otot menurun secara bertahap.
  • Orang tua sebaiknya tidak langsung meminta penjelasan; tunggu emosi mereda, lalu bimbing anak bernapas perlahan untuk membantu tubuh kembali rileks.
  • Bantu anak melepaskan ketegangan, minum air, berjalan santai bila gelisah, dan beri jeda sebelum beraktivitas kembali sesuai kesiapan fisik serta emosinya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah Mama mendapati anak mendadak menangis kencang dan gemetaran setelah tak sengaja hampir terjatuh?

Di momen seperti ini, tidak sedikit Mama yang langsung meminta anak berhenti menangis atau menceritakan apa yang terjadi.

Padahal, tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk beralih dari mode siaga menuju kondisi yang lebih tenang Ma.

Alih-alih terburu-buru meminta anak segera pulih, Mama bisa mendampinginya melewati proses tersebut secara bertahap.

Dengan cara ini, anak belajar mengenali emosinya sekaligus memahami bahwa rasa takut adalah respons yang wajar ketika menghadapi situasi yang mengejutkan.

Berikut Popmama.com telah rangkum 7 cara yang bisa Mama ajarkan agar anak lebih mudah menenangkan diri setelah mengalami shock. Disimak ya Ma!

1. Ajak duduk santai selama 5–10 menit

Cara menenangkan anak setelah shock ajak ia duduk
Pexels/Skyler Ewing

Sesaat setelah mengalami kejadian yang mengejutkan, Mama akan melihat anak berdiri mematung dengan tubuh gemetar.

Reaksi ini sangat wajar ya Ma, karena lonjakan hormon adrenalin saat stres memicu sistem saraf bekerja ekstra cepat.

Sehingga membuat jantung anak berdegup kencang dan seluruh otot tubuhnya menegang secara mendadak.

Menurut studi fisiologi dari BMC Musculoskeletal Disorders dan penelitian neurobiologi mengenai Acute Stress Release, proses pemulihan tubuh anak dengan jeda 5–10 menit pertama ini adalah waktu krusial bagi tubuh anak untuk menurunkan denyut jantung dan merilekskan ketegangan otot yang sempat melonjak.

Dengan memosisikan tubuhnya beristirahat, Mama membantunya meringankan beban kerja jantung sehingga fisiknya bisa kembali tenang secara bertahap.

2. Jangan buru-buru meminta anak menceritakan kejadiannya

Cara mengatasi anak kaget jangan dulu bertanya apa yang terjadi
Pexels/Anastasia Shuraeva

Saat anak masih menangis atau terlihat shock, Mama mungkin ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ya.

Namun, dalam kondisi tersebut, anak sering kali belum mampu menyusun cerita dengan jelas Ma.

Hal ini terjadi karena amigdala, yaitu bagian otak yang berperan dalam merespons ancaman, sedang bekerja lebih aktif. Pada saat yang sama, aktivitas prefrontal cortex, yang membantu seseorang berpikir logis dan mengambil keputusan, dapat menurun untuk sementara.

Karena itu, berikan waktu bagi anak untuk menenangkan diri terlebih dahulu Ma.

Setelah emosinya mulai mereda, biasanya ia akan lebih siap menjelaskan apa yang dialaminya.

3. Bimbing anak mengatur napas secara perlahan

cara menenangkan anak setelah shock dengan membimbingnya mengatur nafas
Pexels/Ivan S

Saat mengalami shock, Mama pasti memperhatikan nafas anak menjadi sangat pendek, cepat, dan terengah-engah.

Pola pernapasan ini sebenarnya mengirimkan sinyal bahaya yang terus-menerus ke otak Ma, sehingga rasa panik dan cemas yang dirasakan anak tak kunjung mereda.

Setelah ia mulai agak tenang, Mama bisa membimbingnya untuk melakukan pernapasan perlahan dengan cara menarik napas lewat hidung dan menghembuskannya lebih panjang lewat mulut.

Penelitian dari jurnal Progress in Brain Research menjelaskan bahwa menghela nafas panjang secara alami adalah mekanisme biologis tubuh untuk mengaktifkan saraf parasimpatis.

Di mana aktivasi saraf ini bertindak sebagai "rem" alami yang memberi tahu otak bahwa kondisi sudah aman, sehingga tubuh anak bisa kembali rileks sepenuhnya.

4. Bantu anak melepaskan ketegangan

cara menenangkan anak setelah shock dengan aktivitas sederhana untuk melepaskan ketegangan
Pexels/Ivan S

Setelah rasa kaget mulai mereda, coba perhatikan kondisi tubuh anak Ma.

Rahang yang mengatup rapat, bahu yang terangkat, atau tangan yang masih mengepal merupakan tanda bahwa otot masih menyimpan ketegangan.

Mama dapat mengajak anak mengendurkan rahang, menurunkan bahu secara perlahan, lalu membuka dan menutup telapak tangan beberapa kali.

Gerakan sederhana ini membantu tubuh melepaskan sisa ketegangan setelah mengalami shock.

5. Tawarkan segelas air putih

cara menenangkan anak setelah shock tawarkan segelas air
Pexels/Monstera Production

Mulut yang terasa kering merupakan salah satu respons tubuh saat mengalami shock lho Ma.

Kondisi ini terjadi karena tubuh sedang memprioritaskan energinya untuk menghadapi situasi yang dianggap mengancam.

Setelah anak mulai lebih tenang, Mama bisa tawarkan segelas air putih untuk diminum secara perlahan.

Selain membantu mengurangi rasa tidak nyaman di mulut, aktivitas menelan dan beristirahat sejenak juga dapat mendukung proses tubuh kembali rileks Ma.

6. Ajak berjalan santai

cara menenangkan anak setelah shock dengan berjalan santai
Pexels/Liliana Drew

Jika anak masih tampak gelisah setelah tangisnya reda, Mama bisa mengajaknya berjalan santai selama beberapa menit di sekitar rumah atau halaman ya.

Aktivitas fisik ringan ternyata membantu tubuh mengurangi ketegangan yang masih tersisa setelah mengalami shock lho Ma.

Selain itu, berjalan santai juga dapat membantu anak mengalihkan fokusnya dari kejadian yang membuatnya takut sehingga ia lebih mudah kembali tenang.

7. Beri jeda waktu sebelum anak kembali beraktivitas

cara menenangkan anak setelah shock memberikan jeda waktu untuk regulasi emosinya
Pexels/Nicola Barts

Setiap anak memiliki waktu pemulihan yang berbeda setelah mengalami kejadian yang mengejutkan lho Ma.

Karena itu, tidak perlu terburu-buru memintanya langsung bermain, belajar, atau melanjutkan aktivitas seperti biasa ya.

Biarkan ia kembali beraktivitas ketika napasnya mulai teratur, tubuhnya terlihat lebih rileks, dan emosinya sudah lebih stabil Ma.

Dengan begitu, anak belajar bahwa setiap emosi membutuhkan waktu untuk diproses, bukan ditekan atau diabaikan.

Mengajarkan anak menenangkan diri bukan berarti membuatnya berhenti menangis secepat mungkin ya Ma.

Sebaliknya, ini adalah kesempatan bagi anak untuk mengenali sinyal yang diberikan tubuhnya ketika merasa takut, shock, atau cemas.

Dengan pendampingan yang tenang dan penuh empati, anak akan belajar bahwa emosi yang kuat adalah hal yang wajar dan dapat dikelola secara bertahap.

Keterampilan ini bukan hanya membantu ia pulih setelah mengalami shock emosional, tetapi juga menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More