Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Kenali 5 Tanda Anak Berisiko Jadi Pelaku Perundungan
Magnific/freepik/AI

Belum lama ini, publik dikejutkan dengan kasus perundungan yang menimpa seorang anak usia 6 tahun di Jakarta Pusat.

Anak laki-laki yang diketahui berkebutuhan khusus itu menjadi korban bully dua remaja yang nekat menempelkannya ke tiang listrik hingga tersengat dan tak sadarkan diri.

Beruntung nyawanya selamat, meski sempat dikabarkan koma dan kini masih diliputi rasa trauma.

Kasus ini hanyalah salah satu dari sekian banyak peristiwa perundungan pada anak yang kerap berujung pada luka serius, bahkan membahayakan nyawa.

Melihat kejadian ini, Mama pasti bertanya-tanya, apa yang sebenarnya apa pemicu seorang anak tega menyakiti temannya?

Perilaku ini tentu tak muncul begitu saja, Ma. Ada tanda-tanda yang sering terlihat sejak dini namun sering dianggap cuma bercanda atau namanya juga anak-anak.

Biar anak kita terhindar jadi pelaku kekerasan antar sesama, berikut Popmama.com rangkumkan 5 tanda anak berisiko menjadi pelaku perundungan berikut ini.

1. Senang menertawakan penderitaan orang lain

Magnific/freepik

Kalau anak Mama bereaksi tertawa saat melihat temannya jatuh atau menangis, ini perlu diwaspadai sebagai tanda awal ya, Ma.

Pasalnya, anak yang suka mengejek, mempermalukan, atau menganggap lucu penderitaan orang lain bisa jadi sedang menunjukkan kurangnya empati.

Anak dengan tanda ini biasanya sulit memahami perasaan orang lain dan menganggap rasa sakit temannya sebagai tontonan yang menghibur, bukan sebagai sesuatu yang menyedihkan.

Padahal, kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain adalah benteng utama agar anak tidak tega menyakiti. Jika dibiarkan, kebiasaan ini bisa berkembang menjadi perilaku perundungan yang lebih serius.

2. Ingin selalu berkuasa di dalam permainan

Magnific/freepik/AI

Anak yang selalu ingin menang, mengatur teman-temannya, atau marah ketika keinginannya tidak dituruti juga punya potensi menjadi pelaku perundungan, Ma.

Tanda ini menunjukkan anak memiliki hasrat untuk mendominasi dan mengontrol orang lain. Mereka sulit menerima penolakan dan tidak terbiasa menghargai pendapat orang lain.

Baginya, kekuatan adalah cara untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Jika tidak segera diluruskan, pola pikir ini bisa membuat anak merasa berhak untuk memaksa dan menekan orang lain demi mencapai tujuannya.

3. Sering menggunakan kekerasan saat menyelesaikan masalah

Magnific/freepik

Tanda lainnya yang perlu diwaspadai adalah ketika anak sedang kesal atau marah, biasanya mereka akan lebih mudah mendorong, memukul, atau mengancam daripada berbicara baik-baik.

Anak yang terbiasa menggunakan kekerasan fisik untuk menyelesaikan konflik menunjukkan bahwa ia belum memiliki kemampuan mengelola emosi dan konflik dengan sehat.

Padahal, kemampuan bernegosiasi dan berbicara dengan baik perlu diajarkan dan dilatih sejak kecil, Ma. Jangan sampai anak belajar bahwa menyakiti adalah cara ampuh untuk menang atau melampiaskan kekesalan.

4. Tidak merasa bersalah setelah menyakiti orang lain

Magnific/freepik

Tanda yang tak kalah penting adalah ketika anak sama sekali tidak menunjukkan penyesalan setelah berbuat salah, apalagi setelah menyakiti temannya.

Jadi, ketika ada temannya yang terluka atau menangis karena dirinya, anak justru menyalahkan korban atau menganggap kejadian itu sebagai hal biasa.

Ini bisa menjadi indikasi bahwa empati anak perlu dilatih lebih serius, Ma, karena kurangnya rasa bersalah menunjukkan bahwa anak tidak terhubung dengan konsekuensi dari tindakannya.

Anak tidak menyadari bahwa perbuatannya telah menyebabkan penderitaan pada orang lain, dan ini adalah salah satu ciri utama pelaku perundungan.

5. Terbiasa melihat dan meniru kekerasan

Magnific/freepik

Anak adalah peniru ulung, mereka belajar dari apa yang dilihat setiap hari, baik dari tayangan di media sosial, tontonan, lingkungan sekitar, maupun cara orang dewasa menyelesaikan masalah.

Jika anak terbiasa melihat kekerasan, mereka akan menganggap itu sebagai hal yang wajar. Mereka bisa meniru perilaku tersebut tanpa sepenuhnya memahami akibat yang ditimbulkan.

Itulah mengapa penting memastikan lingkungan di sekitar anak bebas dari tontonan dan perilaku kekerasan. Mama dan Papa adalah contoh nyata di rumah yang perlu bijak dalam mengelola konflik dengan kepala dingin.

Dengan memahami tanda pelaku perundungan di atas, orangtua bisa mencegah terjadinya perundungan yang bisa dimulai dari rumah.

Mengajarkan anak menjadi kuat itu penting, tapi mengajarkan anak untuk menghargai, melindungi, dan berempati kepada orang lain jauh lebih utama.

Yuk, saling terbarkan kebaikan dan lindungi sesama dengan menghentikan tindak kekerasan dan berani melapor ketika melihat orang lain menjadi korban kekerasan.

Editorial Team

Related Article

9 Nama Negara dari Huruf L21 Jun 2026, 00:10 WIBBig Kid