“Setelah kami paksa buka, ternyata korban berada di dalam lemari,” ujar Iptu Herawati menggambarkan detik-detik penemuan tersebut.
Viral Siswa SD Dilaporkan Hilang, Ditemukan Lemas Dalam Lemari Rumah

- Kronologi Peristiwa: Siswa SD hilang setelah berangkat sekolah dan tidak pulang, memicu operasi pencarian cepat oleh aparat penegak hukum dan warga sekitar.
- Ditemukan di dalam lemari: Siswa ditemukan lemas di dalam lemari pakaian setelah operasi pencarian yang teliti, kondisinya lemas karena tidak makan dan minum selama hampir satu hari.
- Motivasi hilangnya korban: Siswa bersembunyi di dalam lemari bukan untuk kabur, melainkan karena tekanan psikologis akibat keterlambatan datang ke sekolah, menjadi pengingat bagi orangtua tentang pentingnya komunikasi terbuka dengan anak.
Beragam faktor risiko seperti ancaman penculikan, sering kali menjadi perhatian utama bagi setiap orangtua dalam menjaga keamanan anak, khususnya saat mereka sedang bermain di luar rumah atau berada di lingkungan sekolah yang jauh dari jangkauan pengawasan langsung.
Menurut Prof. Dr. Harkristuti Harkrisnowo, pakar kriminologi, penculikan anak sering kali dipicu oleh kesempatan dan bukan dengan perencanaan yang matang. Lingkungan yang kurang dalam mengawasi anak serta minimnya edukasi, seringkali menjadi faktor utama yang dimanfaatkan pelaku dalam penculikan. Tentu hal ini tidak ingin dirasakan oleh setiap Mama di rumah, bukan?.
Belakangan ini, publik dihebohkan dengan hilangnya siswa SD yang terjadi di Kecamatan Purwasari, Kabupaten Karawang, dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Selasa (13/1/2026). Menurut keterangan, hilangnya siswa diduga adanya tindakan peculikan yang dicurigai oleh orangtua korban. Namun bernarkah demikian?
Berikut ini Popmama.com telah merangkum perisitwa dan kejadian lebih lanjut. Yuk, simak!
Table of Content
1. Kronologi peristiwa

Peristiwa ini bermula ketika orangtua GA yang disebut sebagai korban melaporkan dengan penuh kekhawatiran bahwa putri mereka tidak kunjung pulang ke rumah hingga matahari terbenam pada Selasa, (13/1/2026).
Menurut keterangan, GA diketahui telah berpamitan dan berangkat dari rumah menuju sekolah sekitar pukul 07.00 WIB dengan mengenakan seragam lengkap serta membawa perlengkapan sekolah seperti biasa, namun hingga jadwal kepulangan tiba, sosoknya tidak terlihat di lingkungan rumah.
Kapolsek Purwasari, Iptu Herawati, secara resmi membenarkan adanya laporan mengenai seorang siswi Sekolah Dasar yang sempat dinyatakan hilang tersebut sehingga memicu respons cepat dari aparat penegak hukum.
Saat laporan diterima, operasi pencarian mandiri segera dibentuk dengan melibatkan kolaborasi antara pihak keluarga, pihak sekolah, pengurus RT/RW, hingga aparat desa setempat.
2. Ditemukan di dalam lemari

Situasi yang mencekam tersebut mulai menemui titik balik ketika Kapolsek Purwasari, Iptu Herawati, bersama anggotanya mengambil keputusan cepat untuk menyisir kembali rumah korban dengan lebih teliti, termasuk area ruang pribadi GA yang sebelumnya sempat terlewatkan.
Iptu Herawati menjelaskan, bahwa petugas mulanya memeriksa bagian bawah atau kolong lemari, namun tidak menemukan jejak apa pun. Rasa penasaran petugas semakin menguat ketika mereka mencoba membuka pintu lemari pakaian yang terasa seperti "tertekan" atau tertahan dari arah dalam, sehingga pintu tersebut sangat sulit untuk dibuka secara normal.
Saat ditemukan, kondisi GA tampak sangat lemas akibat tidak mendapatkan asupan makan dan minum selama hampir satu hari penuh, sehingga ia harus segera mendapatkan perawatan medis sebelum akhirnya diserahkan kembali ke orangtuanya.
3. Motivasi hilangnya korban

Dari keterangan yang diperoleh, motif di balik tindakan nekat GA bersembunyi di dalam lemari ternyata bukan karena keinginan kabur atau disengaja untuk hilang, melainkan dampak dari tekanan psikologis yang kuat.
Menurut keterangan, ia mengaku kepada petugas bahwa sudah terlambat datang ke sekolah karena jarum jam menunjukkan pukul delapan pagi, sedangkan pelajaran sudah dimulai sejak pagi. Rasa takut akan dimarahi orangtua dan konsekuensi keterlambatannya membuat anak panik dan memilih bersembunyi sebagai bentuk pelarian, tanpa menyadari risiko yang harus ia tanggung.
Menurut Psikolog anak Dr. Laura Markham menjelaskan, bahwa ketika anak merasa tidak memiliki ruang aman untuk memberi tahu kesalahan mereka, anak akan cenderung menyembunyikan masalah tersebut daripada menghadapinya. Hal ini tentu, dapat memicu perilaku impulsif seperti bersembunyi, yang dalam suatu kasus dapat membahayakan keselamatan fisik mereka.
4. Menjadi pengingat bagi orangtua

Kasus ini menjadi pengingat penting, bahwa tekanan psikologis yang dialami anak dapat memengaruhi perilaku mereka secara signifikan.
Mama perlu memahami, bahwa rasa takut berlebihan terhadap hukuman dapat membuat anak menutup diri dan menghindar ketika bercerita. Dengan membangun komunikasi yang terbuka, anak akan cenderung lebih tenang dan menghindarkan mereka dari tindakan berisiko yang mencelakakan.
Itulah ma, informasi mengenai hilangnya siswa SD di karawang. Melalui kejadian ini, diharapkan menjadi pengingat bagi setiap orangtua untuk membangun komunikasi yang lebih baik.


















