Pexels/Anastasia Shuraeva
Bahaya kabut asap karhutla tidak boleh dipandang sebagai masalah saluran pernapasan semata, ya, Ma.
Menurut dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K), dalam seminar media bersama IDAI menjelaskan bahwa polusi udara memicu gangguan pada seluruh sistem tubuh anak.
"Polusi udara tidak hanya memengaruhi saluran pernapasan saja, tapi juga menyebabkan gangguan di seluruh sistem tubuh, mulai dari kepala hingga kaki, dan berbagai bagian tubuh bisa terganggu.” ucap dr Cynthia Centauri, Sp.A, Subsp. Respi.(K)
Senyawa beracun dan partikel mikroskopis seperti PM 2.5 yang terhirup mampu menyusup ke dalam sistem sirkulasi darah dan memicu dampak sistemik pada seluruh organ tubuh anak. Berikut dampak sistemik kesehatan yang menghantui si Kecil dari kepala hingga kaki:
Sistem saraf dan otak. Dalam jurnal Environ Health, menunjukkan bahwa partikel ultra-halus PM 2.5 sanggup menembus pembuluh darah hingga melintasi sawar darah otak (blood-brain barrier).
Kondisi ini dapat memicu sakit kepala, pusing, rasa lelah berlebih, hingga menurunkan fokus dan konsentrasi belajar si Kecil di sekolah.
Mata dan hidung. Data CDC mencatat bahwa kontak langsung dengan gas beracun (seperti sulfur dioksida dan formaldehida) memicu iritasi akut pada lapisan luar tubuh.
Anak akan sering mengeluhkan mata merah, gatal, dan perih (konjungtivitis iritatif), serta pembengkakan mukosa hidung yang memicu mimisan dan hidung tersumbat.
Paru-paru dan tenggorokan. Kedua organ ini merupakan organ yang paling cepat terdampak. Paparan asap memicu iritasi tenggorokan, batuk kronis, serta meningkatkan risiko serangan asma akut.
CDC dan jurnal Environ Health, menegaskan bahwa rusaknya pertahanan mukosa paru-paru membuat anak sangat rentan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), bronkitis, hingga pneumonia. Paparan berulang bahkan berisiko menghambat pertumbuhan fungsi paru anak secara permanen.
Jantung dan pembuluh darah. Saat partikel PM 2.5 masuk ke dalam sirkulasi darah, partikel tersebut memicu terjadinya peradangan pada dinding pembuluh darah. Hal ini memaksa jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah beroksigen ke seluruh tubuh si Kecil.
Kulit. Tumpukan debu dan abu karhutla yang menempel pada tubuh dapat merusak lapisan pelindung kulit (skin barrier), memicu gatal-gatal, bintik merah, hingga memperparah kekambuhan pada anak yang memiliki riwayat eksim.
Daya tahan tubuh dan tumbuh kembang. Paparan racun dari lingkungan yang terus-menerus memicu penekanan sistem imun (immune suppression). Membuat tubuh anak sibuk melawan peradangan, ditambah kualitas tidur yang buruk akibat sesak napas, pada akhirnya dapat mengganggu proses tumbuh kembang idealnya.