Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

15 Adab yang Perlu Diajarkan & Diingatkan Lagi pada Generasi Alpha dan Beta

15 Adab yang Perlu Diajarkan & Diingatkan Lagi pada Generasi Alpha dan Beta
Popmama.com/Violin Heldina/AI
  • Orangtua perlu mengenalkan kembali adab kepada Generasi Alpha dan Beta melalui contoh konsisten, tanpa memaksa atau membuat anak takut dan malu.

  • Adab yang ditekankan mencakup menghormati orang lebih tua lewat salam, sapaan, gestur tubuh sopan, bergiliran, serta cara memanggil dan berpamitan yang tepat.

  • Anak juga diajak membangun empati dan kepekaan sosial: berbagi, memberi dengan aman, memperhatikan lawan bicara, menawarkan tempat duduk, dan menyesuaikan suara dengan situasi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Ada banyak kebiasaan sederhana yang dulu diajarkan sejak kecil, tetapi kini mulai jarang terlihat dalam keseharian anak. Kebiasaan tersebut memang terlihat kecil, tetapi sebenarnya menjadi bagian dari cara anak belajar menghargai dan memperhatikan orang di sekitarnya.

Perubahan zaman, pola komunikasi, hingga kebiasaan di lingkungan keluarga tentu ikut memengaruhi cara anak mengenal sopan santun.

Bukan berarti Generasi Alpha dan Beta tidak memiliki adab, Ma, hanya saja beberapa kebiasaan mungkin perlu dikenalkan dan dicontohkan kembali oleh orangtua.

Lantas, adab apa saja yang mulai jarang dilakukan anak dan perlu diajarkan kembali? Simak penjelasannya yang telah Popmama.com rangkum berikut ini.

  1. 1. Berdiri saat menyambut atau bersalaman dengan orang yang lebih tua

    Berdiri ketika ada orang yang lebih tua datang
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mengajarkan anak untuk berdiri ketika menyambut atau bersalaman dengan orang yang lebih tua merupakan salah satu bentuk penghormatan sederhana.

    Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele, tetapi dapat membantu anak memahami bahwa ada sikap tubuh tertentu yang menunjukkan rasa hormat kepada orang lain.

    Misalnya, ketika kakek, nenek, tante, om, atau tamu datang ke rumah, Mama dapat mengajak si Kecil untuk berhenti bermain sejenak dan berdiri menyambut mereka. Begitu pula ketika hendak bersalaman, anak dapat berdiri dan memberikan salam dengan sikap yang sopan.

    Anak tidak perlu dipaksa dengan cara yang membuatnya takut atau malu. Mama bisa memberikan contoh terlebih dahulu melalui kebiasaan sehari-hari.

    Perlahan, anak akan memahami bahwa menghormati orang yang lebih tua bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui gestur sederhana seperti berdiri dan menyambut dengan baik.

  2. 2. Salim, menyapa, dan berpamitan saat bertemu atau pergi

    Berpamitan kepada orang ketika ingin meninggalkan lokasi tersebut
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Kebiasaan salim, menyapa, dan berpamitan merupakan adab sederhana yang dapat dikenalkan sejak anak masih kecil. Ketika tiba di rumah saudara atau bertemu orang yang dikenal, anak dapat dibiasakan mengucapkan salam dan menyapa orang-orang di sekitarnya.

    Begitu pula ketika hendak meninggalkan suatu tempat, anak sebaiknya tidak langsung pergi begitu saja. Mama dapat mengajarkan kalimat sederhana seperti:

    “Saya pulang dulu, ya, Tante,”

    “Permisi, Om, saya mau pulang.”

    Kebiasaan tersebut membuat anak belajar bahwa kehadiran orang lain perlu dihargai.

    Tidak perlu menuntut anak langsung menghafal banyak kalimat. Mama bisa memberikan contoh dan mengingatkannya secara perlahan. Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan menyapa dan berpamitan akan menjadi bagian dari keseharian si Kecil.

    Adab ini juga membantu anak belajar berkomunikasi dengan lebih percaya diri ketika berada di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

  3. 3. Mengucapkan “permisi” ketika melewati orang lain

    Ajarkan anak  mengucapkan permisi saat lewat di depan orang
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika hendak melewati seseorang, terutama orang yang lebih tua, anak perlu mengetahui bahwa ada cara yang lebih sopan daripada langsung berjalan di depannya. Salah satunya dengan mengucapkan kata “permisi” terlebih dahulu.

    Kebiasaan ini dapat Mama latih dalam situasi sederhana di rumah. Misalnya, ketika ada orang yang sedang duduk di ruang tamu dan anak ingin mengambil sesuatu di belakangnya, ajarkan si Kecil untuk mengatakan:

    “Permisi, ya.”

    Anak juga dapat sedikit membungkukkan badan ketika melewati orang yang lebih tua sebagai bentuk penghormatan.

    Hal tersebut bukan berarti anak harus selalu merasa sungkan berada di dekat orang lain. Justru, anak sedang belajar memahami ruang pribadi dan keberadaan orang di sekitarnya.

    Kebiasaan mengucapkan permisi juga membuat anak lebih peka terhadap situasi sosial. Dengan begitu, ia tidak hanya memikirkan apa yang ingin dilakukan, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan orang lain.

  4. 4. Menghormati posisi orang yang lebih tua saat duduk

    Persilakan orang yang lebih tua untuk duduk di tempat yang nyaman
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ada kebiasaan sederhana yang dulu sering dilakukan di dalam keluarga, yaitu memastikan orang yang lebih tua mendapatkan tempat duduk yang lebih nyaman. Misalnya, ketika melihat om atau tante duduk di lantai, anak dapat diajak mengatakan:

    “Om/tante kok duduk di bawah? Sini di sofa.”

    Kebiasaan tersebut bukan tentang siapa yang memiliki kedudukan lebih tinggi, melainkan cara sederhana untuk menunjukkan perhatian kepada orang lain.

    Anak belajar bahwa orang yang lebih tua mungkin membutuhkan tempat duduk yang lebih nyaman atau membutuhkan bantuan ketika berada dalam suatu situasi.

    Mama dapat mengajarkannya melalui contoh tanpa perlu memberikan ceramah panjang. Ketika ada anggota keluarga yang datang, Mama bisa terlebih dahulu menawarkan tempat duduk.

    Anak kemudian akan melihat dan meniru kebiasaan tersebut. Dari hal kecil seperti ini, si Kecil belajar bahwa menghormati orang lain juga dapat dilakukan melalui perhatian, kepedulian, dan kesediaan memberikan kenyamanan.

  5. 5. Tidak menunjuk orang menggunakan telunjuk

    Ajarkan anak untuk tidak menunjuk apapun menggunakan telunjuk
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Menunjuk seseorang menggunakan jari telunjuk merupakan kebiasaan yang mungkin dilakukan anak secara spontan.

    Namun, dalam banyak budaya, termasuk kebiasaan sopan santun yang dikenalkan dalam keluarga Indonesia, gestur tersebut dapat dianggap kurang sopan, terutama jika dilakukan kepada orang yang lebih tua.

    Mama dapat mengajarkan alternatif yang lebih baik kepada si Kecil. Ketika ingin menunjukkan seseorang atau sesuatu, anak bisa menggunakan telapak tangan yang terbuka. Misalnya, daripada mengatakan sambil menunjuk:

    “Itu orangnya,

    Anak dapat menggunakan tangan terbuka untuk menunjukkan arah.

    Anak tentu tidak langsung memahami alasan di balik kebiasaan tersebut. Karena itu, Mama tidak perlu memarahinya ketika ia lupa. Cukup ingatkan dengan lembut, seperti:

    “Kalau menunjuk orang, tangannya jangan pakai telunjuk, ya. Pakai tangan terbuka.”

    Dengan pengulangan dan contoh dari orangtua, anak perlahan akan memahami bahwa bahasa tubuh juga merupakan bagian dari sopan santun.

  6. 6. Tidak mengarahkan kaki kepada orang lain

    Biasakan untuk tidak mengarahkan kakinya langsung kepada orang lain
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Posisi kaki saat duduk juga menjadi salah satu hal yang dapat dikenalkan kepada anak sebagai bagian dari adab.

    Ketika duduk bersama orang lain, terutama orang yang lebih tua, anak dapat dibiasakan untuk tidak menjulurkan atau mengarahkan kakinya langsung kepada orang tersebut.

    Kebiasaan ini sering kali dilakukan anak tanpa sadar karena mereka merasa nyaman dengan posisi duduk tertentu. Karena itu, Mama tidak perlu langsung menegur dengan nada tinggi. Cukup berikan pengingat sederhana, seperti:

    “Kakinya jangan mengarah ke Om, ya. Coba dilipat atau diarahkan ke samping.”

    Anak akan membutuhkan waktu untuk memahami kebiasaan tersebut. Yang terpenting, Mama memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.

    Ketika berada di depan orang lain, orangtua juga dapat memperhatikan posisi tubuhnya. Dengan begitu, anak belajar bahwa sopan santun bukan hanya tentang apa yang diucapkan, tetapi juga bagaimana membawa diri ketika sedang bersama orang lain.

  7. 7. Mendahulukan orang yang lebih tua saat mengambil makanan

    Dahulukan orang yang lebih tua untuk mengambil makanan
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Waktu makan bersama keluarga dapat menjadi kesempatan yang baik untuk mengajarkan banyak adab kepada anak. Salah satunya adalah membiasakan anak memberikan kesempatan kepada orang yang lebih tua untuk mengambil makanan terlebih dahulu.

    Misalnya, ketika semua orang sudah berkumpul di meja makan, Mama dapat mengatakan:

    “Kita tunggu Oma ambil makanan dulu, ya. Setelah itu baru kamu.”

    Kalimat sederhana tersebut membantu anak belajar mengenai kesabaran sekaligus menghargai orang yang lebih tua.

    Kebiasaan ini bukan berarti kebutuhan anak selalu harus dikesampingkan. Mama tetap perlu memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup dan sesuai kebutuhannya.

    Namun, dalam situasi makan bersama, anak dapat dikenalkan dengan konsep bergiliran dan mendahulukan orang lain.

    Melalui kebiasaan kecil tersebut, anak belajar bahwa makan bersama bukan hanya tentang mengambil makanan yang diinginkan. Ada orang lain yang juga perlu diperhatikan dan dihargai ketika berada dalam satu meja makan.

  8. 8. Menawarkan makanan kepada orang lain

    Biasakan anak untuk melihat apakah orang di sekitarnya juga mau mencoba
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika anak mendapatkan makanan atau camilan, Mama dapat membiasakannya untuk melihat apakah orang di sekitarnya juga ingin mencicipi.

    Misalnya, ketika si Kecil sedang makan biskuit, Mama dapat mengajaknya bertanya:

    “Mau menawarkan ke Tante juga?”

    Kebiasaan menawarkan makanan mengajarkan anak tentang berbagi dan memperhatikan kebutuhan orang lain. Anak belajar bahwa sesuatu yang sedang ia nikmati tidak harus selalu disimpan untuk dirinya sendiri.

    Meski begitu, Mama juga perlu memahami bahwa anak tetap memiliki batasan dalam berbagi, terutama jika makanan tersebut merupakan makanan pribadi atau jumlahnya terbatas.

    Yang terpenting adalah memperkenalkan nilai kepedulian, bukan memaksa anak memberikan semua miliknya. Mama dapat menjadi contoh dengan menawarkan makanan kepada anggota keluarga atau orang lain ketika sedang makan bersama.

    Seiring waktu, anak akan memahami bahwa menawarkan makanan merupakan salah satu cara sederhana untuk menunjukkan keramahan dan membuat orang lain merasa diterima.

  9. 9. Tidak melempar barang atau uang ketika memberikannya

    Jangan melempar barang ketika ingin memberikannya ke orang lain
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Memberikan sesuatu kepada orang lain juga memiliki adab yang dapat dikenalkan sejak kecil. Anak sebaiknya dibiasakan menyerahkan barang secara langsung, bukan melemparkannya meskipun jaraknya dekat.

    Misalnya, ketika Mama meminta si Kecil memberikan remote televisi kepada Papa, anak dapat diajarkan untuk berjalan mendekat lalu menyerahkannya dengan tangan.

    Begitu pula ketika memberikan uang kepada seseorang, biasakan anak menyerahkannya dengan baik, bukan meletakkannya secara sembarangan atau melemparkannya dari jauh.

    Kebiasaan ini mungkin terlihat kecil, tetapi dapat mengajarkan anak mengenai cara menghargai orang lain. Melempar barang terkadang tidak dimaksudkan sebagai tindakan kasar, terutama jika anak masih kecil.

    Namun, Mama dapat menjelaskan bahwa ada cara yang lebih baik ketika memberikan sesuatu.

    Gunakan kalimat sederhana seperti:

    “Kalau memberikan barang ke orang lain, kita kasih langsung, ya. Bukan dilempar.”

    Pengingat yang konsisten akan membantu kebiasaan tersebut tumbuh secara alami.

  10. 10. Memberikan benda tajam dengan bagian pegangan mengarah kepada penerima

    Mama perlu mengenalkan cara menyerahkan barang dengan aman
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika anak mulai belajar menggunakan atau memegang benda tertentu, Mama juga perlu mengenalkan cara menyerahkan barang dengan aman.

    Salah satunya ketika memberikan benda tajam seperti gunting. Bagian yang tajam sebaiknya tidak diarahkan kepada orang yang menerima.

    Ajarkan anak untuk memegang bagian yang aman dan mengarahkan pegangan benda tersebut kepada penerima. Dengan begitu, orang yang menerima dapat mengambilnya tanpa harus memegang bagian yang berisiko melukai tangan.

    Selain menjadi bagian dari sopan santun, kebiasaan ini juga berkaitan dengan keselamatan. Mama dapat memberikan contoh secara langsung saat menggunakan gunting di rumah. Misalnya, Mama bisa mengatakan:

    “Kalau kasih gunting ke Mama, bagian pegangannya yang diarahkan ke Mama, ya.”

    Namun, Mama tetap perlu menyesuaikan pengajaran dengan usia dan kemampuan anak. Benda tajam sebaiknya hanya digunakan dengan pengawasan orang dewasa.

    Dengan begitu, anak tidak hanya belajar adab saat memberikan sesuatu, tetapi juga memahami pentingnya berhati-hati.

  11. 11. Memanggil orang yang lebih tua dengan sebutan yang tepat

    Ajarkan ke anak bagaimana cara memanggil orang yang lebih tua
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Memanggil seseorang hanya dengan nama mungkin terasa biasa bagi anak, terutama ketika mereka sering mendengar orang dewasa saling memanggil menggunakan nama.

    Namun, anak tetap perlu memahami bahwa ada sebutan tertentu yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang lebih tua.

    Misalnya, Mama dapat mengajarkan anak menggunakan panggilan seperti Om, Tante, Kak, Pak, Bu, Kakek, atau Nenek sesuai dengan hubungan dan kebiasaan keluarga. Jika anak terbiasa memanggil seseorang hanya dengan namanya, Mama bisa mengingatkan dengan lembut:

    “Kalau panggil Om, jangan namanya saja, ya. Panggil Om.”

    Kebiasaan tersebut membantu anak memahami konteks sosial dalam berkomunikasi. Anak belajar bahwa cara memanggil seseorang dapat menunjukkan rasa hormat.

    Mama tidak perlu membuat anak takut salah. Cukup berikan contoh secara konsisten dalam percakapan sehari-hari. Perlahan, anak akan terbiasa memilih sapaan yang tepat sesuai dengan siapa lawan bicaranya.

  12. 12. Menyapa ketika berpapasan dengan orang yang dikenal

    Ajarkan anak untuk menyapa orang yang dikenal ketika berpapasan
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Bertemu tetangga, satpam, guru, atau orang lain yang dikenal bisa menjadi momen sederhana untuk mengajarkan anak agar lebih ramah. Ketika berpapasan, anak dapat dibiasakan memberikan senyum, salam, atau sapaan singkat.

    Misalnya, ketika sedang berjalan bersama si Kecil lalu bertemu Pak Satpam, Mama bisa mengatakan:

    “Ada Pak Satpam, kita sapa dulu, yuk.”

    Anak kemudian dapat mengucapkan:

    “Pagi, Pak,” atau sekadar memberikan salam sesuai situasinya.

    Kebiasaan ini membantu anak memahami bahwa orang lain di lingkungan sekitar juga layak dihargai dan dikenali. Anak tidak harus selalu berhenti untuk berbincang panjang. Sapaan sederhana pun sudah cukup untuk menunjukkan keramahan.

    Jika anak masih malu, Mama tidak perlu memaksanya. Berikan contoh terlebih dahulu dan biarkan anak mengamati. Setelah sering melihat orangtuanya menyapa orang lain, anak biasanya akan lebih mudah menirunya.

    Dari kebiasaan kecil ini, rasa percaya diri dan kepedulian sosial anak juga dapat berkembang.

  13. 13. Memberikan tempat duduk kepada yang lebih membutuhkan

    Berikan kursi duduk untuk orang yang lebih membutuhkan
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Mengajarkan anak memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih membutuhkan merupakan salah satu cara mengenalkan empati. Anak dapat belajar memperhatikan kondisi orang lain, bukan hanya memikirkan kenyamanan dirinya sendiri.

    Misalnya, ketika berada di kendaraan umum dan melihat lansia, ibu hamil, orang yang sedang sakit, atau seseorang yang membawa bayi, Mama dapat mengajak si Kecil memperhatikan situasi.

    “Adek, coba lihat. Ada nenek yang berdiri. Menurut kamu, siapa yang lebih membutuhkan kursi?”

    Jika anak kemudian bersedia berdiri dan memberikan tempat duduknya, Mama dapat memberikan apresiasi sederhana. Namun, tidak perlu membuat anak merasa bersalah apabila pada suatu kondisi ia juga sedang kelelahan atau membutuhkan tempat duduk.

    Tujuan utama dari kebiasaan ini adalah membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda.

    Dengan membiasakan anak memperhatikan lingkungan sekitar, Mama sedang membantu si Kecil mengembangkan empati dan kepekaan sosial yang akan berguna dalam berbagai situasi.

  14. 14. Meletakkan HP dan membuka kacamata hitam saat sedang diajak bicara

    Jangan gunakan hp ketika sedang ada yang mengajak bicara
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Ketika seseorang sedang berbicara dengan anak, memberikan perhatian penuh merupakan salah satu bentuk penghargaan yang sederhana. Karena itu, Mama dapat mengajarkan si Kecil untuk meletakkan HP sejenak ketika sedang diajak berbicara secara langsung.

    Jika sedang menggunakan kacamata hitam, anak juga dapat diajarkan untuk melepasnya ketika situasi memungkinkan. Kontak mata membantu anak menunjukkan bahwa ia sedang mendengarkan dan menghargai lawan bicaranya.

    Kebiasaan ini tidak berarti anak harus selalu menatap mata seseorang tanpa berhenti.

    Anak tetap boleh mengalihkan pandangan secara alami. Namun, penting bagi mereka untuk belajar tidak terus-menerus melihat layar atau sibuk dengan aktivitas lain ketika seseorang sedang berbicara.

    Mama bisa memberikan contoh melalui kebiasaan sehari-hari. Ketika anak bercerita, simpan HP dan dengarkan ceritanya.

    Anak akan belajar dari pengalaman tersebut bahwa ketika seseorang berbicara kepada kita, memberikan perhatian adalah salah satu bentuk menghargai orang lain.

  15. 15. Tahu kapan harus mengecilkan suara

    Ajarkan bahwa setiap tempat memiliki suasana dan aturan yang berbeda
    Popmama.com/Violin Heldina/AI

    Anak perlu memahami bahwa setiap tempat memiliki suasana dan aturan yang berbeda. Berbicara dengan suara keras mungkin tidak menjadi masalah ketika sedang bermain di rumah, tetapi tentu berbeda ketika anak berada di tempat ibadah, perpustakaan, rumah sakit, atau ruang yang membutuhkan ketenangan.

    Mama dapat membantu anak memahami hal tersebut dengan memberikan penjelasan singkat sesuai situasi. Misalnya, ketika masuk ke tempat ibadah, Mama bisa mengatakan:

    “Di sini ada orang yang sedang beribadah, jadi suaranya kita kecilkan, ya.”

    Cara tersebut membantu anak memahami alasan di balik sebuah aturan, bukan sekadar menyuruhnya diam. Anak juga belajar bahwa kenyamanan orang lain perlu diperhatikan.

    Mama tidak harus langsung menegur dengan keras ketika anak lupa. Cukup berikan pengingat yang konsisten dan gunakan contoh suara yang sesuai.

    Seiring bertambahnya pengalaman, anak akan mulai mampu menyesuaikan volume suaranya berdasarkan tempat dan situasi. Kebiasaan sederhana ini menjadi bagian penting dari kemampuan anak membaca keadaan di lingkungan sosial.

    Itulah 15 adab yang yang perlu diajarkan dan diingatkan lagi pada generasi Alpha dan Beta. Didikan itu mungkin mulai jarang terlihat dalam keseharian anak. Meski tampak sederhana, kebiasaan seperti ini dapat membantu si Kecil belajar menghargai orang lain dan beradaptasi di lingkungan sosial. Nantinya anak akan mudah bergaul dan diterima jika memahami hal ini.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More