"Unpopular opinion
sensory pakai kaki telanjang di rumput? Aku sekarang NO
Karena anakku “cacingan” gara-gara main di rumput.
😭😭😭
Dan plot twist-nya?
Rumputnya bukan di kebun.
Bukan di desa.
Bukan di tanah berlumpur.
Tapi di rumput apartemen di Jakarta. 😭" tulis dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt di akun Threads nya @gabyaw7 pada Sabtu (07/08)
Anak Kena CLM saat Main di Rumput Kota, Haruskah Stop Sensory Play?

- Kasus viral balita terkena Cutaneous Larva Migrans dan impetigo setelah bermain tanpa alas kaki di rumput apartemen Jakarta menyoroti risiko area publik yang terkontaminasi.
- CLM terjadi saat larva cacing tambang dari kotoran anjing atau kucing menembus kulit melalui tanah atau pasir, memicu ruam berkelok, gatal hebat, dan rasa terbakar.
- Sensory play luar ruangan tidak perlu dihentikan; anak dianjurkan memakai alas kaki, memilih area bersih, serta mencuci tangan dan kaki, mandi, lalu mengganti pakaian setelah bermain.
Niat hati ingin memberikan stimulasi sensori atau sensory play pada si Kecil dengan membiarkannya bermain rumput tanpa alas kaki ya, Ma.
Sayangnya Mama dan Papa justru dibuat resah usai viralnya kasus anak terkena Cutaneous Larva Migrans (CLM) atau infeksi cacing pada kulit anak.
Kejadian ini viral di media sosial Threads usai dialami seorang balita yang bermain di rumput area apartemen perkotaan tanpa alas kaki, Ma.
Mengutip dari Popmama.com, kasus ini diunggah di Threads, oleh dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt melalui akun @gabyaw7. Di mana sang putra yang mengalami Cutaneous Larva Migrans (CLM) setelah bermain di rumput sekitar apartemen.
Sontak saja fenomena ini mendadak memicu kekhawatiran para orangtua di media sosial ya.
Lantas, apakah si Kecil sama sekali tidak boleh lagi diajak bermain sensori di luar rumah? Sudah Popmama.com rangkum informasi mengenai bahaya CLM dan cara agar stimulasi sensori anak tetap dilakukan. Disimak ya Ma!
Table of Content
Kenali CLM dan Bahayanya di Rumput dan Pasir Pantai

Threads.com/@gabyaw7 Berdasarkan unggahan yang viral di media sosial Threads yang diunggah oleh dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt pada akun @gabyaw7.
Kasus infeksi Cutaneous Larva Migrans (CLM) serta infeksi bakteri impetigo ini dialami balita usai bermain sambil telanjang kaki di rumput area apartemen perkotaan.
Dalam unggahannya, dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt menceritakan bagaimana kronologi kejadian anaknya yang terkena CLM.
Hal ini menjadi bukti bahwa fasilitas umum di tengah kota sekalipun tidak menjamin kebersihannya 100% ya, Ma.
Melansir dari laman resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Cutaneous Larva Migrans (CLM) adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh larva cacing tambang.
Penyakit ini paling sering berasal dari feses pada spesies cacing tambang anjing (Ancylostoma caninum) dan kucing (Ancylostoma braziliense).
CDC turut menjelaskan beberapa fakta medis mengenai cara penularan dan gejala CLM yang wajib dipahami orangtua, diantaranya:
Cara penularan: Larva cacing tambang menetas dari telur yang dikeluarkan melalui kotoran anjing atau kucing di tanah atau pasir. Ketika kulit anak bersentuhan langsung dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi tanpa alas kaki, larva tersebut dapat menembus lapisan luar kulit manusia.
Mengapa menimbulkan ruam berkelok: CDC menyebutkan bahwa larva tersebut tidak dapat berkembang menjadi cacing dewasa di dalam tubuh manusia. Akibatnya, larva "tersesat" dan hanya menjalar beberapa milimeter hingga sentimeter per hari di bawah lapisan kulit luar.
Gejala utama: Kontak ini menimbulkan reaksi peradangan berupa garis meliuk-liuk berwarna merah (serpiginous track) yang disertai rasa gatal amat hebat dan rasa seperti terbakar.
Mama harus tahu bahwa selain larva cacing, CDC dan para ahli kesehatan juga mengingatkan adanya ancaman infeksi sekunder seperti impetigo jika area kulit yang gatal digaruk oleh anak.
Haruskah Sensory Play di Luar Rumah Diberhentikan Total?

Pexels/Md Mamun Miah Melihat maraknya risiko infeksi cacing kulit hingga bakteri, wajar jika Mama merasa waswas dan terpikir untuk melarang si Kecil bermain di rumput atau pasir lagi. Namun, haruskah aktivitas sensory play di luar ruangan dihentikan sepenuhnya?
Jawabannya adalah tidak perlu, Ma!
Melansir dari American Academy of Pediatrics (AAP) dan World Health Organization (WHO), bermain di luar ruangan seperti outdoor play dan bereksplorasi dengan alam merupakan elemen penting dalam mendukung kesehatan fisik, kognitif, serta kesehatan mental anak.
Agak disayangkan bila tumbuh kembang anak akan mengalami batasan bila sensory play di luar rumah dilarang, ya, Ma.
Bila Mama membatasi anak secara ekstrem karena takut penyakit tertentu justru dapat menghambat perkembangan motorik kasar serta rasa percaya diri si Kecil dalam mengeksplorasi hal baru.
Jadi selama Mama menerapkan langkah pencegahan yang tepat, si Kecil tetap bisa menikmati serunya sensory play di alam bebas tanpa risiko terpapar penyakit ya.
Langkah Aman Ajak Anak Sensory Play di Luar Rumah

Magnific/artursafronovvvv Mama tidak perlu menghentikan aktivitas eksplorasi si Kecil di alam luar ya. Daripada melarangnya, Mama bisa mencari cara agar anak tetap bisa beraktivitas sensori tanpa takut terinfeksi.
Berdasarkan video edukasi dari dr. Felicia Siswanto Lie yang diunggah di Instagram dengan akun @feliciasiswantolie. Anak tetap bisa merasakan manfaat sensory play tanpa risiko terkena CLM maupun infeksi bakteri lho.
Mama dapat membiasakan anak untuk memakai alas kaki waktu bermain, selalu membersihkan tubuhnya bahkan sampai mandi bila sehabis bermain, serta pastikan area bermain anak bersih, Ma.
"Gunakan alas kaki (kaos kaki, sandal, atau sepatu) saat bermain di rumput, pasir, maupun playground untuk melindungi kulit si Kecil. Segera bersihkan diri usai bermain outdoor: cuci tangan dan kaki, mandi, serta ganti pakaian bersih. Pilih area bermain yang bersih dan aman, serta pahami risiko dan langkah pencegahannya agar sensory play tetap menyenangkan" jelas dr. Felicia Siswanto Lie dalam video edukasinya di instagram.
Fenomena infeksi CLM ini menjadi pengingat berharga bagi para Mama dan Papa supaya tidak lengah saat mendampingi anak bermain di area publik.
Sensory play di luar ruangan tetap memiliki sejuta manfaat bagi tumbuh kembang si Kecil, asalkan dibersamai dengan perlindungan diri yang tepat.
Jadi, pastikan selalu memakaikan alas kaki dan langsung mengajak si Kecil bersiap cuci tangan serta mandi begitu selesai bermain ya, Ma! Nah, kalau Mama sendiri, apa nih persiapan wajib sebelum ajak si Kecil eksplorasi di luar rumah?




















