Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Cerita Anak Terkena CLM Usai Bermain Rumput di Apartemen Jakarta
Threads.com/abyaw7
  • Seorang anak di Jakarta didiagnosis Cutaneous Larva Migrans (CLM) setelah bermain di rumput apartemen, usai keluarganya berkonsultasi dengan dokter kulit dan dokter anak.
  • CLM terjadi saat larva cacing dari tanah atau pasir terkontaminasi, umumnya kotoran hewan, menembus kulit dan dapat memicu garis kemerahan memanjang serta gatal.
  • Orangtua disarankan mendampingi anak bermain luar, memakai alas kaki, menghindari area kotor, membersihkan tangan-kaki, memantau perubahan kulit, dan berkonsultasi dokter bila muncul keluhan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bermain di luar rumah menjadi salah satu aktivitas yang baik untuk mendukung eksplorasi dan perkembangan sensorik anak. Tak sedikit orangtua yang mengajak si Kecil bermain di rumput, termasuk di area taman yang terlihat bersih dan terawat.

Namun, pengalaman seorang mama di Jakarta ini menunjukkan bahwa risiko infeksi kulit pada anak tetap bisa muncul dari lingkungan yang selama ini dianggap aman. 

Melalui unggahan di Threads, dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt melalui akun @gabyaw7 menceritakan pengalaman putranya mengalami Cutaneous Larva Migrans (CLM) setelah bermain di area rumput apartemen.

Sensory pakai kaki telanjang di rumput? Aku sekarang NO. Karena anakku ‘cacingan’ gara-gara main di rumput. Dan plot twist-nya? Rumputnya bukan di kebun.Bukan di desa. Bukan di tanah berlumpur. Tapi di rumput apartemen di Jakarta,” cerita dr. Gabrielle Athalia Wijaya, CHt melansir dari akun Thread @gabyaw7. 

Berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai cerita anak terkena CLM usai bermain rumput di apartemen Jakarta. 

1. Anak mengalami CLM setelah bermain di rumput apartemen

Threads.com/abyaw7

Awalnya, sang mama sama sekali tidak menyangka bahwa bermain di rumput area apartemen dapat membuat anaknya mengalami masalah kulit. 

Pasalnya, lingkungan tersebut bukanlah kebun, pedesaan, ataupun area tanah berlumpur yang selama ini mungkin lebih sering dikaitkan dengan risiko paparan parasit.

Beberapa waktu setelah bermain, sang anak mengalami kelainan pada kulit kakinya. Kondisi tersebut kemudian membuat keluarga memutuskan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis kulit dan kelamin (SpKK) serta dokter spesialis anak (SpA).

Setelah melalui pemeriksaan, kondisi kulit yang dialami akhirnya didiagnosis sebagai Cutaneous Larva Migrans (CLM). CLM merupakan infeksi pada kulit yang terjadi ketika larva cacing tertentu dari lingkungan telah terkontaminasi masuk dan menembus kulit manusia.

“Kami sempat konsultasi ke SpKK dan SpA, dan awalnya nggak ada yang langsung ngeh kalau ini CLM (Cutaneous Larva Migrans). Dan honestly... ya wajar. Karena kondisinini memang relatif jarang, apalagi kalau kejadiannya di kota besar. Tapi ternyata.. bisa. Semasa koas nggak pernah dapat, eeehh malah di anak sendiri kasusunya. Dan cari obatnya susah bangeeeett,” jelas dr. Gabrielle.

2. CLM dapat muncul setelah kulit bersentuhan dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi

Threads.com/abyaw7

Cutaneous Larva Migrans dapat terjadi ketika kulit manusia bersentuhan langsung dengan lingkungan yang telah terkontaminasi larva cacing tertentu. Larva tersebut umumnya berasal dari lingkungan yang tercemar kotoran hewan dan dapat ditemukan di tanah maupun pasir. 

“CLM terjadi ketika larva cacing dari lingkungan yang terkontaminasi menembus kulit, biasanya setelah kontak langsung dengan tanah atau pasir yang terkontaminasi,” cerita dr. Gabrielle.

Salah satu tanda yang dapat muncul pada kulit adalah garis atau pola kemerahan yang terlihat seperti memanjang dan seolah-olah ‘merambat’. Kondisi tersebut juga dapat disertai rasa gatal, sehingga membuat anak merasa tidak nyaman.

3. Orangtua perlu berhati-hati ketika anak bermain di luar

Unsplash/Minu Ahmadian

Setelah anaknya mengalami CLM, pengalaman tersebut membuat dr. Gabrielle menjadi lebih waspada ketika putranya bermain atau berjalan di luar rumah. 

Ia kini membiasakan anaknya menggunakan alas kaki ketika berada di area luar, termasuk ketika sang anak masih dalam tahap belajar berjalan. 

Menurutnya, penggunaan sepatu atau kaus kaki menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi kontak langsung antara kulit kaki anak dengan permukaan tanah, pasir, maupun rumput.

“Sejak itu aku jadi jauh lebih aware. Kalau jalan di luar, sekarang Jace selalu aku pakaikan alas kaki. Walaupun baru belajar jalan, tetap aku pakaikan sepatu atau kaos kaki,” lanjutnya.

Kebiasaan tersebut bukan berarti anak harus berhenti melakukan aktivitas di luar rumah. Orangtua tetap dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi lingkungan, tetapi dengan memperhatikan kondisi tempat bermain dan menerapkan langkah pencegahan yang sesuai.

4. Bukan berarti bermain di rumput selalu berbahaya bagi anak

Pexels/Anand Gowda B

Pengalaman yang dialami ini membuat sang mama  memiliki pandangan berbeda terhadap aktivitas bermain di rumput. Namun, ia juga menegaskan bahwa bukan berarti aktivitas sensory play di rumput selalu berbahaya atau harus sepenuhnya dihindari.

"Bukan berarti sensory di rumput itu selalu bahaya ya. Tapi buat aku pribadi, setelah kejadian ini, risk-benefit-nya jadi beda. Kadang pengalaman memang ngajarin kita dari hal yang paling nggak disangka-sangka," sambungnya. 

Yang pasti, orangtua tetap perlu mendampingi anak saat bermain di luar sambil memperhatikan kebersihan area, kondisi permukaan tempat anak bermain, serta kemungkinan adanya kotoran hewan atau hal lain yang dapat meningkatkan risiko infeksi. 

5. Langkah untuk mencegah risiko infeksi kulit pada anak

Pexels/KseniaChernaya

Pengalaman ini dapat menjadi pengingat bagi orangtua untuk lebih memperhatikan kebersihan anak setelah bermain di luar rumah. 

Beberapa kebiasaan sederhana dapat diterapkan untuk membantu mengurangi risiko paparan dari lingkungan yang berpotensi terkontaminasi, seperti:

  • Biasakan anak memakai alas kaki saat bermain di luar. Terutama ketika anak bermain atau berjalan di area tanah dan pasir, penggunaan alas kaki dapat membantu mengurangi kontak langsung antara kulit dengan permukaan yang berpotensi terkontaminasi.

  • Hindari area bermain yang terlihat kotor. Orangtua sebaiknya lebih memperhatikan kondisi lingkungan sebelum mengajak anak bermain, termasuk menghindari area yang terlihat kotor atau berpotensi tercemar kotoran hewan.

  • Ajarkan anak mencuci tangan dan kaki setelah bermain. Setelah selesai bermain di luar, biasakan anak membersihkan tangan dan kaki sebelum kembali beraktivitas di dalam rumah.

  • Perhatikan perubahan pada kulit anak. Orangtua dapat memeriksa kondisi kulit anak setelah bermain di tanah, pasir, atau rumput, terutama jika anak menunjukkan rasa tidak nyaman pada bagian tubuh tertentu.

  • Segera konsultasikan jika muncul keluhan kulit. Jika muncul ruam, garis kemerahan yang semakin memanjang, rasa gatal, atau keluhan kulit yang tidak kunjung membaik, sebaiknya jangan langsung memberikan obat sendiri. Konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter agar penyebabnya dapat diketahui dan anak memperoleh penanganan yang tepat.

Pencegahan sederhana seperti menggunakan alas kaki dan menjaga kebersihan setelah bermain di luar dapat menjadi kebiasaan kecil yang berarti. 

Anak pun tetap bisa mendapatkan kesempatan untuk bermain dan mengeksplorasi lingkungan dengan pendampingan dari orangtua.

Semoga bisa menjadi pelajaran bagi para orangtua di luar sana, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article