Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Jika Anak Alami Sibling Rivalry ala Thor dan Loki, Harus Bagaimana?

Jika Anak Alami Sibling Rivalry ala Thor dan Loki, Harus Bagaimana?
dok. Marvel Studios/Thor: Ragnarok
  • Sibling rivalry merupakan persaingan antarsaudara yang umumnya dipicu kebutuhan akan perhatian, kasih sayang, pengakuan, atau rasa takut kehilangan posisi di keluarga.

  • Orangtua disarankan menghindari perbandingan, tidak fokus mencari pihak yang salah, serta memediasi konflik dengan mendengarkan perasaan kedua anak dan mencari solusi bersama.

  • Perhatian perlu diberikan sesuai kebutuhan masing-masing anak; orangtua juga dapat mengajarkan komunikasi, bergantian, meminta maaf, regulasi emosi, empati, dan kompromi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Hubungan kakak-adik tidak selalu berjalan harmonis. Ada kalanya anak bisa saling berebut perhatian, merasa iri, bertengkar karena hal kecil, atau berusaha menunjukkan bahwa dirinya lebih unggul dari saudaranya.

Kondisi tersebut dikenal sebagai sibling rivalry, yakni persaingan atau konflik yang terjadi antara saudara kandung. Fenomena ini sebenarnya cukup umum dalam kehidupan keluarga, tetapi tetap perlu diarahkan agar perselisihan tidak berkembang menjadi hubungan yang saling menyakiti.

Kalau membayangkan sibling rivalry, hubungan Thor dan Loki di Marvel Universe mungkin menjadi salah satu contoh yang mudah diingat. Dalam kisah Marvel, keduanya memiliki sejarah panjang sebagai saudara yang sering berseberangan.

Lantas, bagaimana jika dinamika seperti Thor dan Loki justru terjadi antara kakak dan adik di rumah? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

  1. 1. Segera konsultasi dan lakukan pemeriksaan lanjutan

    Segera konsultasi dan lakukan pemeriksaan lanjutan
    Pexels/cottonbro studio

    Sibling rivalry tidak selalu berarti anak benar-benar tidak menyukai saudaranya. Persaingan dapat muncul karena anak merasa harus mendapatkan perhatian, kasih sayang, pengakuan, atau posisi tertentu di dalam keluarga.

    Hidayatin, Purbasary dan Innayah (2021) dalam artikel jurnal “Hubungan pola asuh orang tua dengan sibling rivalry pada anak balita”, menyebut jika mengenai sibling rivalry pada anak balita menyebutkan bahwa persaingan antarsaudara dapat berkaitan dengan kekhawatiran anak kehilangan kasih sayang dan perhatian orangtua.

    Hal tersebut bisa terlihat dalam bentuk yang sederhana, seperti berebut mainan, tidak mau mengalah, saling mengadu, merasa kesal ketika saudara dipuji, hingga terus membandingkan kemampuan satu sama lain.

    Dalam Marvel Universe, Loki juga digambarkan memiliki kecemburuan terhadap kedekatan Thor dengan Odin. Marvel mencatat bahwa Loki merasa terisolasi dan tidak diperlakukan setara, sementara Thor dipandang sebagai anak yang lebih unggul dan dipersiapkan menjadi pewaris Asgard.

    Namun, kondisi anak tentu tidak bisa disamakan dengan kisah Loki. Contoh tersebut hanya dapat menjadi gambaran mengenai bagaimana perasaan dibandingkan atau tidak mendapatkan perhatian yang dianggap setara dapat memengaruhi hubungan saudara.

  2. 2. Hindari membandingkan kakak dan adik

    Hindari membandingkan kakak dan adik
    Pexels/Monstera Production

    Saat sibling rivalry muncul, orangtua mungkin tanpa sadar membandingkan anak untuk membuat salah satunya lebih termotivasi. Misalnya, “Kakak saja bisa membereskan mainan sendiri, masa Adik tidak?” atau “Adik lebih pintar mendengarkan daripada kakak”.

    Sebaiknya hindari kebiasaan tersebut. Perbandingan dapat membuat anak semakin melihat saudaranya sebagai pesaing, bukan sebagai bagian dari keluarga yang bisa menjadi teman dan tempat belajar bersama.

    Daripada membandingkan, orangtua bisa memberikan apresiasi berdasarkan usaha masing-masing anak. Misalnya, “kami senang Kakak sudah berusaha menyelesaikan tugasnya,” atau “kami lihat Adik sudah berusaha membereskan mainannya”.

  3. 3. Jangan selalu mencari siapa yang salah

    Jangan selalu mencari siapa yang salah
    Pexels/Keira Burton

    Ketika kakak-adik bertengkar, orangtua mungkin refleks mencari siapa yang memulai masalah. Padahal, tidak semua konflik harus berakhir dengan penentuan siapa yang menang dan siapa yang kalah.

    Penelitian mengenai parental mediation menemukan bahwa orangtua yang dilatih menggunakan teknik mediasi dalam perselisihan saudara dapat membantu anak menggunakan strategi penyelesaian konflik yang lebih konstruktif, lebih sering berkompromi, serta memahami perspektif saudaranya dengan lebih baik.

    Orangtua bisa mencoba menjadi penengah dengan meminta masing-masing anak menjelaskan apa yang terjadi dan bagaimana perasaannya. Setelah itu, bantu mereka mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama.

    Dengan begitu, anak tidak hanya belajar bahwa “kami akan menentukan siapa yang benar,” tetapi juga belajar bagaimana menyelesaikan konflik dengan saudara.

  4. 4. Berikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing anak

    Berikan perhatian sesuai kebutuhan masing-masing anak
    Pexels/ RDNE Stock project

    Salah satu pemicu sibling rivalry yakni ketika anak merasa saudaranya mendapatkan perhatian lebih banyak. Misalnya, ketika orangtua sedang lebih sering menggendong si Adik, kakak bisa merasa kehilangan perhatian. Sebaliknya, adik juga dapat merasa kurang diperhatikan ketika kakaknya sedang membutuhkan bantuan lebih banyak.

    Karena itu, penting untuk menunjukkan bahwa setiap anak tetap memiliki tempat yang berharga dalam keluarga. Orangtua tidak harus memberikan sesuatu secara persis sama kepada setiap anak.

    Alih-alih selalu memberikan perlakuan yang sama, berikan perhatian berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sesekali, orangtua juga bisa menyediakan waktu khusus bersama setiap anak tanpa kehadiran saudara lainnya.

    Penelitian mengenai hubungan saudara menegaskan bahwa orangtua memiliki peran penting dalam perkembangan hubungan antarsaudara dan banyak orangtua membutuhkan strategi untuk menghadapi konflik tersebut, terutama ketika perselisihan sudah melibatkan agresi fisik.

  5. 5. Ajarkan anak bahwa saudara bukanlah rival

    Ajarkan anak bahwa saudara bukanlah rival
    Pexels/cottonbro studio

    Konflik antarsaudara mungkin sulit dihilangkan sepenuhnya. Namun, orangtua dapat membantu anak memahami bahwa berbeda pendapat atau bertengkar bukan berarti mereka harus terus menjadi musuh.

    Orangtua bisa mengajarkan anak untuk menggunakan kata-kata ketika marah, bergantian menggunakan barang, meminta maaf setelah menyakiti saudaranya, serta belajar memahami perasaan satu sama lain.

    Penelitian terbaru tentang intervensi untuk memperkuat hubungan saudara juga menunjukkan pentingnya kemampuan sosial dan emosional, termasuk regulasi emosi dan interaksi prososial, dalam membangun hubungan saudara yang lebih positif.

    Jadi, ketika kakak dan adik sedang bertengkar, orangtua tidak harus selalu berusaha membuat mereka langsung akur. Yang lebih penting adalah membantu mereka belajar menyelesaikan konflik dengan cara yang sehat.

    Pada akhirnya, kisah Thor dan Loki bisa menjadi pengingat bahwa hubungan saudara memang tidak selalu sederhana. Bahkan dalam cerita Marvel, keduanya berkali-kali berkonflik tetapi tetap memiliki ikatan sebagai saudara.

    Begitu pula dengan anak-anak di rumah. Sibling rivalry tidak selalu berarti hubungan kakak-adik akan buruk selamanya. Dengan pendampingan yang tepat, konflik justru dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar mengenai empati, komunikasi, kompromi, dan cara menghargai satu sama lain.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More