Ma, Apakah si Kecil Punya Teman Khayalan?

Jangan panik, Ma, hal ini bisa diselesaikan dengan kepala dingin

18 Maret 2019

Ma, Apakah si Kecil Pu Teman Khayalan
Pixabay/Ddmitrova

Mendengar anak yang suka bercerita teman khayalannya mungkin membuat Mama ngeri dan takut. Akankah si Kecil berkhayal terlalu jauh, berdelusi, atau malah sedang diganggu makhluk halus. 

Jangan terlalu khawatir, Ma. Karena pada dasarnya teman khayalan adalah salah satu cara mereka mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya. Bahkan, anak-anak dengan teman khayalan diprediksi akan tumbuh menjadi orang yang mudah berbaur dengan siapa saja. 

Tetapi, ada beberapa hal yang harus Mama perhatikan jika si Kecil terlihat memiliki teman khayalan. Agar bisa mengarahkan buah hati untuk tidak terlalu larut dengan teman khayalan, yuk intip beberapa tipsnya:

1. Jangan melarangnya

1. Jangan melarangnya
Freepik/Prostooleh

Satu hal yang harus ditekankan, teman khayalan ini tidak akan selamanya menempel kepada si Kecil, asal Mama tahu bagaimana menanganinya. Yang pertama adalah jangan langsung melarangnya mentah-mentah.

Daripada melarangnya, tak ada salahnya untuk terlibat lebih dalam ke 'pertemanan' mereka. Tanyakan hal detail mengenai teman khayalan mereka. Apa hal yang mereka suka dan tidak suka. Semakin fokus dan konsisten jawaban mereka, terlihat daya kreativitas mereka yang kuat.

Yang harus diketahui, teman khayalan ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Bahkan kebanyakan dari mereka tidak akan ingat masa-masa memiliki teman khayalan ini. 

Editors' Pick

2. Tanggung jawab penuh ada di anak

2. Tanggung jawab penuh ada anak
Pixabay/MiguelRPerez

Tak sedikit dari anak-anak yang dengan mudah menyalahkan teman khayalannya atas keputusan yang diambil.

Misal Mama sudah melarang untuk tidak keluar rumah sendiri dan ternyata mereka keluar. Nah, bisa jadi mereka akan dengan mudah mengatakan kalau diajak oleh teman khayalannya.

Jika sudah begitu, Mama bisa menekankan tanggung jawab penuh berada di si Kecil. Apapun yang dilakukan si teman khayalan, tetap anak harus bertanggung jawab atas tindakannya. Tak apa memberikan time out ke anak jika melakukan kesalahan, meskipun itu diajak oleh teman khayalan. 

3. Sama rasa sama rata

3. Sama rasa sama rata
Pexels/Pixabay

Masih berhubungan dengan poin di atas, Mama boleh menerapkan hukuman juga ke teman khayalannya. Jika si Kecil malas makan, Mama bisa mengajak teman khayalannya untuk makan. Sekadar untuk memancing si Kecil mau buka mulut. Nyatanya, hal ini cukup ampuh lho. 

Karena mereka lebih senang mendengar dan mengikuti apa yang mereka suka. Seperti layaknya si Kecil yang akan langsung nurut jika diminta bertindak seperti idola kartunnya, hal ini berlaku juga untuk teman khayalannya.

4. Memberi batasan antara khayalan dan dunia nyata

4. Memberi batasan antara khayalan dunia nyata
Freepik/prostooleh

Yang terakhir adalah yang paling penting yaitu mengajarkan mengenai konsep dunia nyata. Harus dipahami, bahwa anak-anak belum mengenal benar apa itu konsep dari dunia nyata. 

Kadang, mereka masih bisa mencampurkan dunia nyata dengan tontonan kartun yang biasa dilihatnya. Begitu juga dengan permasalahan teman khayalan. Terangkan pada mereka bahwa teman khayalan tidak ada di dunia nyata, meski mereka masih boleh berteman dengan khayalannya. 

5. Perbanyak waktu bersama anak

5. Perbanyak waktu bersama anak
cloudponics.ca

Salah satu faktor hadirnya teman khayalan adalah anak yang suka bermain sendiri. Ia merasa sepi sehingga butuh orang lain untuk menemaninya. Dari sanalah lahir teman khayalannya. 

Tak ada salahnya, Ma, untuk lebih sering menemani dan terlibat saat anak sedang bermain. Jangan lupa untuk memperbanyak kegiatan yang menguras fisik dan pikiran agar mereka bisa melupakan keberadaan si teman khayalan. 

Mama juga bisa mengajak si Kecil lebih banyak bertemu dengan sebayanya. Sehingga ia bisa berteman dengan teman yang sungguhan. 

Tak ada yang salah dengan anak yang memiliki teman khayalan. Tinggal bagaimana Mama menanggapinya dengan tepat. 

The Latest