Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Magnific/shurkin_son
  • Tantrum merupakan bagian normal perkembangan emosi anak, umumnya mulai usia 12–15 bulan karena kemampuan mengatur emosi, berbahasa, dan fisik belum seimbang.

  • Fase paling intens biasanya terjadi pada usia 18–36 bulan, rata-rata berlangsung 3,5 menit, lalu cenderung mereda sekitar usia 4 tahun seiring kematangan otak dan bahasa.

  • Orangtua disarankan tetap tenang dan hadir mendampingi saat tantrum, tanpa mengomel atau menganggapnya serangan pribadi, karena anak sedang kewalahan mengelola emosi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Seperti orang dewasa, anak kecil juga memiliki emosi yang kuat. Yang membedakan adalah ia belum mampu mengelolanya sehingga memicu tantrum.

Mama mungkin sering kali menganggap ini sebagai kenakalan atau kegagalan pola asuh. Padahal, bukan lho Ma. Tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosional balita yang normal.

Menghadapi momen yang menguji kesabaran ini memerlukan pemahaman bijak orangtua. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, Mama dapat merespon tantrum anak secara tenang dan tanpa merasa panik.

Menambah pengetahuan Mama mengenai emosi anak. Dr. Cathryn, seorang dokter anak dengan pengalaman lebih dari 40 tahun sekaligus pemilik akun @healthiest_baby memberikan pengetahuan mengenai tantrum pada anak. Berikut sudah Popmama.com rangkum 7 hal penting tentang seringnya tantrum pada balita.

1. Fase tantrum biasanya dimulai pada usia 12 hingga 15 bulan

Magnific/magnific

Menurut penjelasan dr. Cathryn, fase tantrum umumnya ketika anak menginjak usia 12 hingga 15 bulan.

Tantrum pada usia ini bukanlah bentuk pembangkangan. Melansir dari berbagai sumber, secara neurologis, bagian otak anak yang mengatur emosi belum berkembang matang. Ditambah dengan kemampuan bahasanya, masih sangat terbatas.

Kondisi ini menciptakan kesenjangan besar antara emosi yang dirasakan dengan kemampuan mengekspresikannya.

Ditambah dorongan untuk mandiri yang belum seimbang dengan kemampuan fisiknya, sering membuat anak frustrasi. Akibatnya, emosi meluap dalam bentuk aksi fisik seperti menangis atau menjatuhkan diri

2. Akan berkurang dan berakhir di sekitar usia 4 tahun

Magnific/magnific

Kabar baiknya bagi orangtua, fase tantrum ternyata tidak berlangsung selamanya. Dr. Cathryn menyatakan bahwa biasanya tantrum pada anak akan mereda di sekitar usia 4 tahun.

Hal ini karena seiring bertambahnya usia, otak anak terus berkembang semakin matang. Selain itu, kosa kata dan kemampuan berbahasa juga mengalami peningkatan pesat.

Anak mulai bisa mengutarakan apa yang dirasakan tanpa harus mengamuk. Ketika anak sudah mampu bilang "aku lelah", dorong ia untuk meluapkan emosinya. Oleh karena itu, konsistensi orangtua membantu anak mengenali emosi di masa balita jadi kunci penting berakhirnya fase tantrum.

3. Tantrum adalah bagian perkembangan yang normal dan sehat

Magnific/magnific

Tantrum bukanlah tanda kenakalan, melainkan salah satu cara alami bagi anak untuk mengekspresikan emosinya secara kuat.

Melalui tantrum, anak mama sebenarnya sedang berusaha memahami hal-hal yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Luapan emosi ini menjadi sarana belajar yang penting baginya dalam mengenali batas diri atas situasi di sekitarnya.

Respon orangtua yang tepat dan penuh kesabaran, justru membantu anak membangun regulasi emosi secara bertahap. Supaya proses tumbuh kembang anak lebih matang dan sehat.

4. Rata-rata durasi tantrum hanya berlangsung 3,5 menit

Magnific/magnific

Saat menghadapi anak yang sedang mengamuk, waktu terasa berjalan sangat lambat ya nggak Ma?

Padahal menurut dr. Cathryn, fakta ilmiah menunjukkan bahwa rata-rata durasi ledakan tantrum anak sebenarnya hanya berlangsung sekitar 3,5 menit.

Meskipun melelahkan, mengetahui bahwa amukan ini relatif singkat dapat membantu Mama tetap tenang saat mendampinginya.

Kuncinya adalah Mama tidak boleh ikut panik atau terpancing emosi, karena tantrum akan mereda dengan sendirinya begitu gelombang rasa frustrasinya berlalu.

5. Puncak fase tantrum di usia 18 hingga 36 bulan

Magnific/krakenimages.com

Masa-masa paling intensif dari ledakan emosi anak biasanya terjadi ketika ia berada di rentang usia 18 hingga 36 bulan (1,5 sampai 3 tahun).

Pada fase emas ini, dorongan anak untuk mandiri dan mengeksplorasi dunianya makin kuat. Namun sering terbentur oleh keterbatasan fisik serta kemampuan komunikasinya.

Ketidakseimbangan ini menciptakan tingkat frustrasi tinggi sehingga tantrum lebih sering muncul dengan intensitas lebih besar.

Memahami bahwa rentang usia ini adalah puncak tantrum. Orangtua perlu mempersiapkan kesabaran ekstra dan tidak berkecil hati saat mendampingi tumbuh kembangnya.

6. Tindakan terbaik adalah membagikan ketenangan

Magnific/senivpetro

Saat anak sedang tantrum, respon terbaik yang bisa diberikan tentu bukan membalasnya dengan omelan.

Dr. Cathryn menyarankan pentingnya prinsip share calm, yaitu hadir sebagai sosok yang tenang di dekat anak. Hal ini karena sistem saraf anak tantrum belum mampu menenangkan dirinya sendiri, sehingga membutuhkan 'regulasi emosi' dari orang dewasa di sekitarnya.

Kehadiran Mama dan Papa disekitarnya membantu menurunkan gelombang emosi anak secara perlahan hingga kembali tenang.

7. Jangan memasukkannya ke dalam hati

Magnific/pch.vector

Hal terpenting dan wajib diingat orangtua adalah tidak menganggap amukan sebagai serangan pribadi. Saat emosinya meluap, anak mama dirumah tidak sedang berniat melawan atau menguji kesabaran Mama dan Papa.

Mereka hanya sedang kewalahan oleh emosi besar yang belum bisa dikendalikan. Menganggap tantrum sebagai hal personal justru akan membuat orangtua mudah merasa bersalah dan ikut terpancing emosi. Mama dan Papa dapat meresponnya dengan lebih objektif, tenang, dan penuh rasa empati.

Itulah informasi mengenai 7 hal penting tentang seringnya balita tantrum. Memahami bahwa tantrum adalah bagian alami dari proses tumbuh kembang anak akan membantu Mama meresponnya dengan lebih bijak. Apakah si Kecil di rumah saat ini juga sedang berada di fase tantrum, Ma?

Curated For You

Editorial Team

Related Article